Apakah kau pernah merasakan sebuah masalah yang teramat sangat berat?
Sampai kau merasa bahwa kau tak sanggup untuk mengembannya? Sampai kau merasa
bahwa kau memiliki masalah paling berat diantara yang lainnya? Apakah kau
pernah merasakan sepi? Sampai kau merasa bahwa tak ada satupun yang menemanimu?
Sampai kau merasa bahwa taka da satupun orang yang peduli dengan kau dan
masalahmu? Apakah kau pernah merasakan
kesedihan yang teramat sangat? Sampai kau tak kuasa membendung semua emosi dan
air mata? Sampai kau merasa bahwa kau ingin sekali mengakhiri dunia? Dan
apakah…? Sudahlah… jika aku lanjutkan, tak akan habis tulisan ini dengan
pertanyaan “apakah?” yang semakin memojokan dirimu dan masalahmu. Jika kau
pernah merasakan semua itu, aku ucapkan “Selamat!” karena itu pertanda bahwa
kau masihlah menjadi manusia yang Allah SWT sayangi.
Ketika kau ditimpa suatu masalah,
itulah pertanda bahwa kau hidup dan masih dicintai-Nya. Bukan hanya seonggok
daging tak berarti. Jika kau mengeluhkan setiap masalah yang datang kepadamu
dan berharap bahwa dirimu tak memiliki masalah sedikitpun. Lantas. Apa bedanya
kau dengan orang gila yang sering kau jumpai di rumah sakit jiwa, trotoar kota,
atau tempat-tempat yang lainnya? Mereka hanya tersenyum bahagia. Tertawa lepas
diiringi canda ria. Hidup bebas tanpa terasa sedikitpun masalah. Karena
satu-satunya masalah yang ia rasakan adalah kegilaannya itu sendiri. Namun
ingatlah suatu hal. Bahwa masalahmu tak seberat masalah yang menimpa orang lain
diluar sana. Janganlah kau egois dengan mengatakan bahwa masalahmu merupakan
masalah yang paling berat. Karena seberat-beratnya masalah, pasti kau bisa
mengatasinya. La Yukallifullaha Nafsan Illa Wus’aha. “Allah tidak akan
membebani seseorang kecuali dengan batas kemampuannya” (Q.S Al-Baqarah: 287)
Sekarang, coba aku balik. Apakah kau
pernah merasakan suatu nikmat? Sampai kau merasa bahwa nikmat itulah nikmat
yang paling besar yang pernah kau rasakan? Apakah kau pernah merasakan
nikmatnya sehat? Nikmatnya melihat? Nikmatnya mendengar? Nikmatnya mendengar?
Apakah kau pernah merasakan bahagia? Sampai kau merasa bahwa dirimulah orang
yang paling bahagia sejagat raya? Apakah kau pernah merasakan bahagianya ketika
tujuanmu telah kau capai? Bahagianya suatu keberuntungan? Bahagianya suatu
“kebahagiaan”? Sekecil apapun kebahagiaan itu? Seperti kebahagiaan kecil ketika
menemukan uang dalam saku? Jika kau sudah merasakan semuanya, sudahkah kau
bersyukur?
Pernahkah
kau membandingkan presentase yang kau dapatkan antara “Nikmat” dan “Cobaan”
yang kau dapatkan seperti yang aku tanyakan di atas? Manakah yang sering kau
rasa? Nikmat atau cobaan? Aku yakin bahwa kau lebih sering mendapat nikmat
daripada cobaan. Bahkan, suatu cobaan bisa bermakna nikmat suatu hari nanti. Fa
Biayyi Aalai Rabbikuma Tukadzibaan “Maka nikmat Tuhanmu yang manalagi yang
kau dustakan?” (Q.S Ar-Rahman) Sudahkah kau ingat dan bersyukur kepada-Nya atas
apa yang telah diberikan kepadamu? Jika sudah, apakah hanya dengan tertimpanya
masalah kau bisa mengingat-Nya? Jika memang seperti itu, maka pintalah 1000
masalah dalam setiap harimu. Agar kau bisa mengingat-Nya selalu. Bukan aku
bermaksud untuk mengguruimu. Karena akupun, berkata pada diriku sendiri.
No comments:
Post a Comment