Apakah kau melihat apa yang kulihat? Aku melihat seseorang yang sedang mengguratkan senyum indahnya. Gigi putihnya berjejer rapih membentuk barisan. Kurasa, kau tak akan tega walau hanya untuk hinggap di barisan itu. Ah... menenangkan.
Entah mengapa, jiwa ini membawaku ke taman bunga ini selain karena nektarnya yang tumpah ruah. Dan entah mengapa, matahari cukup cerah di Desember yang seharusnya kelabu. Saat dimana jutaan bulir hujan itu jatuh dari awan yang tentu saja kau bisa melihatnnya berwarna kelabu. Asupan air yang melimpah untuk jutaan kuntum bunga ini. Dan tentu saja, limpahan nektar yang bisa aku dan kawananku bisa bawa.
Ah, aku baru ingat mengapa aku di sini. Aku menanti dirimu. Dirimu yang saat ini menghampiriku dengan sayap hijau itu. Indahnya.
***
Apakah kau melihat apa yang kulihat? Aku melihat seekor kupu-kupu yang sedang hinggap di atas bunga-bunga. Sayap corak birunya mengepak dengan anggun. Kurasa, kau tak akan tega walau hanya untuk menyentuh sayap indah itu. Ah... menenangkan.
Entah mengapa, jiwa ini membawaku ke taman bunga ini selain karena keindahannya. Dan entah mengapa, matahari cukup cerah di Desember yang seharusnya kelabu. Saat dimana jutaan bulir hujan itu jatuh dari awan yang tentu saja kau bisa melihatnya berwarna kelabu. Menciptakan genangan-genangan yang menjadi wahana bermain untuk anak-anak Gang Kelinci. Dan tentu saja, jutaan air yang tumpah itu merupakan anugerah bagi setiap makhluk di bumi ini.
Ah, aku baru ingat mengapa aku di sini. Aku menanti dirimu. Dirimu yang saat ini menghampiriku dengan balutan sweater hijau itu. Indahnya.
“Maaf, Hana. Seharusnya aku mendengarkan saran Kang Karman untuk mengganti ban itu sejak lama. Mengganti ban yang bocor cukup menguras tenaga dan waktuku.” Kau terdengar sedikit kesal dengan peluh di dahimu.
“Tak masalah. Novel dan kupu-kupu biru itu membuat waktu berputar lebih cepat, Dani.” Kau tersenyum dan duduk di sampingku.
“Kau lihat itu Hana? Kupu-kupu itu sedang bercengkrama dengan kekasihnya. Apa kau tidak iri melihat mereka begitu mesra?” Kau mencoba untuk bergurau.
“Iri kau bilang?” Aku sedikit tersenyum. “Hey, sejak kapan kupu-kupu bersayap hijau itu muncul?” Aku menunjuk pada kupu-kupu yang kini bercengkrama berdua.
“Bukankah sedari tadi kau memperhatikan kedua kupu-kupu itu, Hana? Bagaiman bisa kau tidak menyadarinya?”
“Entahlah, mungkin ketika kau tiba. Lihatlah! Ia menggunakan pakaian yang sama denganmu.” Aku mencoba bergurau.
“Jadi, kau samakan aku dengan kupu-kupu? Semanis itukah aku?” Kau balas gurauanku dengan candaan.
Seperti itulah kita menghabiskan siang ini bersama. Di taman indah ini. Menemaniku dengan senda gurau. Desember kelabu tak berarti bagiku bila kulewati denganmu. Kaulah “kamu” ku ketika aku katakan “Aku mencintai kamu.” Mungkin selayaknya pasangan kupu-kupu itu?
***
Hey, aku teringat satu hal. Taman ini merupakan taman dimana pertama kalinya aku bertemu denganmu. Mei yang ceria menjadi saksi akan hal itu. Ada jutaan kuntum bunga yang bermekaran di taman ini. Tetapi saat itu kau menghampiri bunga yang sedang kuhinggapi. Mendekatiku dan membisikan sebuah kalimat nan indah. “Aku mencintaimu.” Seketika, hatiku hanyalah milikmu.
Oh, aku juga baru ingat. Wanita dan lelaki itu merupakan orang yang sama yang kulihat di hari indah itu. Si wanita sedang duduk sambil memegangi sesuatu yang penuh dengan tulisan. Membolak-balikan setiap lembarannya. Lantas, lelaki itu datang dengan senyumnya.
“Apa kau suka dengan novel itu?” Lelaki itu mencoba membuka sebuah percakapan. Namun, si Wanita hanya sedikit melirik dan kembali terlarut dalam tulisan-tulisan itu.
“Kami punya koleksi penuh novel-novel serupa. Setiap seri. Kamipun memiliki biografi si penulis. 512 halaman lengkap sejak ia terlahir ke bumi sampai terkubur menjadi tulang-belulang. Dan masih banyak lagi novel-novel, seri, dan biografi-biografi yang setiap hari kami diskusikan,”
“Apa kau sedang menawariku untuk berlangganan buku? Apa kau seorang sales marketing sebuah toko buku?” Wanita itu mulai terlihat tertarik. “Atau kau salah satu anggota dari klub pecinta buku yang terkenal di kota itu? BookClub Disaster?”
“Bukan ketiganya. Aku hanya bergurau. Haha.” Lelaki itu menggeleng. “Ternyata kau memang kutu buku. Aku heran, mengapa para kutu buku memiliki wanita secantik dirimu?” Wanita itu terlihat jengkel. “Maaf sebelumnya. Aku Dani. Boleh aku tahu namamu?”
“Baiklah, aku Hana. Apa mereka selalu memiliki penggoda para kutu buku sepertiku?” Wajah lelaki itu terlihat memerah. “Aku hanya bergurau. Haha”
Setelah itu, mereka menghabiskan siang dengan gurauan-gurauan. Menumbuhkan benih-benih yang biasa manusia sebut sebagai “Cinta.”
***
Novel itu tergeletak begitu saja dengan halaman yang terbuka di atas tanah. Halaman itu sobek dan sedikit kotor membentuk jejak sepatu. Beberapa kuntum bunga terlihat mati terinjak-injak. Eyeliner yang sengaja kupakai untuk menemuimu luntur begitusaja oleh tetesan air mataku. Tak kusangka. Hari ini aku akan berpisah denganmu. Seakan aku masih bisa menghirup aroma indah dari kuntum-kuntum bunga saat pertama kita bertemu. Namun ternyata, aku harus melalui Desember dengan kelabu.
“Aku harus pergi, Hana.”
“Mengapa? Mengapa harus secepat ini? Teganya kau, Dani! Apa kau rela menghancurkan segalanya? Aku tak bisa, Dani.”
“Tapi, Aku harus.” Kau memalingkan wajahmu.
“Apa karena dia? Apa karena kau lebih memilih model cantik itu ketimbang kutu buku ini?” Emosiku mulai meluap. “Jawab Dani! Jawab!”
“Bukan begitu, Hana. Tapi, aku harus pergi.” Kau masih mencoba mengelak.
“Busuk! Buang semua bualan dan omong kosongmu itu!” Aku melemparkan novel yang sejak tadi kupegang ke wajahmu.
“Cukup! Ya. Aku lebih memilih Diva ketimbang kau!” Kau mendorongku dengan kasar. Memaksaku menginjak kuntum-kuntum bunga itu. Dan kau menginjak novelku. “Aku tak bisa hanya duduk-duduk di taman ini. Menungguimu membaca buku-buku itu sepanjang hari. Dan berusaha mencuri perhatianmu dengan bergurau. Berpura-pura bodoh di hadapanmu. Ah, apalah Mei ceria, Desember kelabu. Istilah-istilah bodoh yang kau ciptakan. Aku tak bisa lagi berpura-pura, Hana. Aku akan pergi.” Aku sudah terisak dengan ucapan-ucapanmu. Sobekan di novel itu tak seberapa dengan sobekan yang kau ciptakan di hatiku.
“Cukup! Pergi!” Tak kuasa lagi aku menahan tangis. “Baiklah.” Kaupun pergi meninggalkan aku dengan novel, dan kuntum-kuntum bunga yang hancur.
Aku melihat kupu-kupu bersayap biru terbang sendirian. Ia terbang limbung kesana-kemari. Tak tahu arah. Terbang di atas kuntum-kuntum bunga yag mati terinjak-injak. Wahai kawanku, mengapa engkau sendiri? Kemana perginya kekasihmu yang bersayap hijau itu? Entahlah sahabatku. Ia pergi meninggalkanku. Sama halnya dengan perginya pria bersweater hijau itu.
Krapyak, 12 Dec. 2015
Muhammad Alvin Fauzi
Semoga Desember ini, bukanlah Desember yang kelabu.
Sunday, December 4, 2016
Kupu-Kupu Desember
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment