Tak seperti yang dibayangkan. Ruangan itu tidaklah bercat putih. Tidak ada alat-alat dengan selang yang menjuntai kesana kemari, tali, benda benda tajam atau apapun yang orang lain kira ada di tempat ini. Selain itu, tak sedikitpun tercium bau obat-obatan. Obat merah sekalipun. Bahkan, tidak juga ada kasur yang biasa digunakan oleh mereka. Tidak sedikitpun terasa suasana itu. Suasana yang kerap kali membuat bukan hanya anak-anak bahkan orang dewasa pun terkadang enggan untuk datang ke tempat tersebut.
Fix. Tempat ini berbeda dengan tempat yang sering dibayangkan orang kebanyakan.
Ruangan ini bercat hijau terang. Dengan garis horizontal berbentuk ornamen yang membagi dinding menjadi dua bagian sama rata. Jika kalian sempat menarik nafas dalam-dalam, yang kalian dapatkan adalah ruangan yang sangat harum. Seakan pemiliknya menanam banyak bunga di setiap sudut ruangan. Rak bertingkat 4 yang dipenuhi dengan buku-buku menghiasi bagian dinding yang menghadap ke jendela. Morning view yang ditemani buku dan teh. Perpaduan yang sempurna. Pemilik ruangan ini pasti memiliki selera membaca dalam suasana tenang.
Di depan rak tersebut, terdapat sepasang sofa yang ditaruh berhadapan. Sofa berwarna coklat dengan bahan yang empuk. Sepasang kursi tersebut dipisahkan oleh meja kerja yang berbentuk persegi panjang. Tidak ada yang spesial dari meja tersebut. Sama hal nya dengan meja kerja pada umumnya. Selain dokumen-dokumen yang sedang dikerjakan, di atas meja tersebut terdapat papan nama yang bertuliskan "dr. Wanda Maria."
Fix, tempat ini tak seperti ruang praktek dokter pada umumnya. Ruangan ini lebih terlihat seperti ruangan baca dan ruangan santai.
"Silahkan duduk!" Perempuan tersebut mempersilahkanku duduk sambil tersenyum.
"Kali ini siapa yang kau bawa padaku, Evan?"
"Hmmpth. Seperti biasa, Wanda. Ajaklah pria ini berbincang. Dapatkan segera kisah menarik dari dirinya. Atau Edward akan memecatku untuk kasus ini." Evan, pria botak berkulit gelap yang mengantarku ke ruangan ini mengeluh atas omelan atasannya.
"Oki dokki kapten!" Wanita di depanku membuat lingkaran dengan telunjuk dan ibu jarinya selagi mengangkat ketiga jari sisanya sebagai pertanda 'Ok!' atas respon dari permintaan Evan. Setelah satu dua kalimat, Evan pun meninggalkan ruangan dan menyisakan kami berdua yang saat ini sedang saling tatap.
"Perkenalkan, saya Wanda. Saya seorang psikiatri di kantor ini." Wanita itu menjulurkan tangannya untuk berkenalan. Akupun menyambut tangannya yang halus itu.
"Saya Azzam." Jawabku singkat.
"Baiklah pak Azzam, apa yang memaksa Evan dan atasannya membawamu ke sini?"
"Justru itu yang saya tanyakan sedari tadi. Kurang kah interogasi selama 6 jam? Omong-omong, jangan panggil saya 'Pak!' panggil saja saya Azzam. Saya rasa, umur kita tidak jauh berbeda. Cenderung sama mungkin."
"Baiklah Azzam, mari kita cari tahu." Wanda menopangkan kedua tangannya yang disatukannya di atas meja. Seakan Wanda mulai berpikir keras.
"Lalu?"
"Hmmpth, mulailah dengan sebuah kisah! Tentangmu. Tentang apapun."
"Baiklah, ..."
***Yosh, Bismillah! Saya akan mencoba untuk kembali menulis. (Setelah sekian lama berhenti) Akan saya mulai dengan cerita bersambung ini. Yang akan diupdate KETIKA SEMPAT. Jika respon teman-teman sangat tinggi, semangat saya juga akan tinggi untuk melanjutkannya. Kritik dan saran akan saya terima. Terimakasih.
-Tinggalkanlah komentar yang membangun!
-hz
No comments:
Post a Comment