Setiap orang tentu saja menginginkan hal yang terbaik untuk dirinya sendiri. Entah dari segi kesehatan, jodoh, harta, pendidikan, nasib, dan yang lainnya. Terutama dalam hal pendidikan. Karena dengan memiliki pendidikan yan tinggi, mereka bisa mendapatkan pekerjaan bagus, derajat yang tinggi, jabatan tinggi, penghasilan tinggi, keluarga bahagia, dan segla hal yang sering mereka bayang-bayangkan atau yang mereka impi-impikan. Dan langkah awal yang mereka pilih adalah: memilih dan bersekolah di universitas ternama, dan jadi sarjana.
Masalah sarjana. Kebanyakan orang berbondong-bondong tiap tahunnya untuk mendaftar di sebuah universitas yang mereka impikan (tentunya yang sesuai kemampuan dan keinginan mereka). Berharap
diterima, kuliah singkat, skripsi cepat selesai, cepat lulus, dan cepat sarjana. Seakan sarjana menjadi pendidikan terakhir yang wajib mereka rasakan. Seakan tertulis huruf "S" tambahan di depan atau "dr" di depan nama mereka menjadi hal yang wajib. Hal yang benar-benar harus mereka miliki. Seakan dunia hancur bila tanpa huruf-huruf itu. Persyaratan wajib atas kebahagaian. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya siswa yang ingin mengubah statusnya menjadi (Maha)siswa.
Tapi tidaklah mereka berpikir, bahwa menjadi sarjana, masuk di universitas tertentu, atau belajar di suatu fakultas akan membawa mereka pada impian mereka. Ya, mungkin mereka akan mendapatkan "embel-embel" tambahan huruf di depan nama mereka. Tetapi hal itu tak menjamin akan keberhasilan dan kebahagian yang sejak dari dulu mereka inginkan. Mari kita berhitung dan berpikir sejenak.
menurut www.wikipedia.org hingga tahun 2014 ada sekitar 73 universitas yang membuka fakultas kedokteran. Dan hitung ada berapa calon dokter yang lulus setiap tahunnya. Kalikan dengan sekitar 5 tahun. Karena tidak mungkin seorang dokter hanya bekerja dalam satu tahun di suatu rumah sakit Jumlah rumah sakit di Indonesia ada sekitar 763. Bandingkan dengan lulusan fakultas kedokteran tiap tahunnya se Indonesia. Ada berapa mahasiswa atau sarjana lulusan kedokteran yang bisa jadi dokter. Belum lagi dokter biasanya pensiun dalam puluhan tahun. Belum lagi rumah sakit yang diisi dokter dari luar negri. Lantas, kemana sarjana kedokteran yang lainnya?
Lalu, mari kita hitung dari para calon guru. Ada berapa universitas yang membuka fakultas pendidikan? Ada berapa jumlah yang lulus atau menjadi sarjana setiap tahunnya? Ada berapa jumlah sekolah di Indonesia? Belum lagi banyak guru-guru yang tidak memiliki gelas sarjana. Atau banyak juga guru yang bergelar sarjana ekonomi, sarjana seni, lulusan fakultas yang berbau islami (qur'an hadits, tafsir, hukum islam). Lantas kemana mereka yang berpangkat sarjana pendidikan yang tidak menjadi guru?
Hal di atas masih sebagian kecil contoh dari fakultas kedokteran dan fakultas pendidikan. Lantas dari fakultas sastra? fakultas kehutanan? pertanian? dokter hewan? jumlah mereka pertahun?
Memang banyak sekali sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki Indonesia. Terbukti dari membludaknya sarjana di Indonesia setiap tahunnya. Kemana mereka yang bersarjana tapi tidak di tempatnya (di bidang yang dipelajari di universitasnya)? Kita kekurangan lapangan pekerjaan yang menyebabkan banyaknya pengangguran. belum lagi yang tidak memiliki pangkat sarjana yang dianggap remeh. Memang bukan maksud saya berkata bahwa, kita kuliah hanya untuk mendapat pekerjaan. Karena sejatinya ilmu memang harus dicari tanpa maksud untuk dapat pekerjaan. Tapi mari kita berpikir dan berhitung sejenak. Bahwa walau di universtias ternama sekalipun, sarjana kedokteran ataupun pendidikan sekalipun, kita tidak bisa mendapatkan pekerjaan dan kebahagian secara instant. Masih banyak rintangan yang harus dilewati oleh para sarjana.
So, jika kalian masih berpikir bahwa sarjana memberi jaminan bahwa kita akan mendapat pekerjaan, Think again! Einstein dan segala perhitingan dan pemikirannya pun tak akan bisa menjamin kita untuk mendapat pekerjaan.
Mau sarjana? Think Again!
No comments:
Post a Comment