Friday, May 23, 2014

NamakuH MaharaniH PutriH PalupiH

Puluhan, bahkan ratusan pasang alas kaki terangkat ke udara. Orang-orang berlalu lalang di taman kota. Entah apapun maksud dan tujuan mereka. Menikmati indahnya taman, atau sekedar untuk mempersingkat perjalanan menuju tempat tujuan mereka. Mereka hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Taka ada yang peduli satu sama lain. Bahkan hanya untuk sekedar menyapa.
            Langit terlihat cerah walau sekarang berada di musim penghujan. Seakan ada yang spesial dengan hari ini. Tapi tidak dengan hatiku. Hatiku merasakan kebalikannya: Mendung tak secerah biasanya. Kau bayangkan. Silih berganti masalah datang menimpaku. Membuatku bad mood saja. Mulai dari guru sejarah yang menjengkelkan, juga mamih yang menjengkelkan. Akulah pemilik masalah terbesar di dunia.—
           “Dafa! Kamu memerhatikan pelajaran saya tidak?” pak Dendi guru sejarah yang menjengkelkan itu membentakku karena aku tak memerhatikan pelajarannya. Dari tadi aku sibuk memerhatikan jendela yang basah. Di luar sedang turun hujan.
            “Enggak, Pa. Saya lagi bad mood nih, Pak.” Kata-kata itu meluncur begitu saja. Aku berbicara dengan tidak sedetikpun meliriknya. Aku tahu Pak Dendi mesti marah besar kepadaku. Ia mengecak pinggang, menggeleng, dan menarik nafas dalam-dalam.
            “Dafa Andrean Al-ghazali! Kamu keluar dari kelas saya!” ia benar benar marah kali ini. Aku menoleh. Kalimat terakhirnya benar-benar membuat kelas hening kali ini.
             “Bapak mengusir saya?” aku bertanya dengan nada merendah. “Apa bapak tahu? Ayah saya, Hamid Budi Al-ghazali adalah penyumbang terbesar di sekolah ini. Bapak tentu tahu itu.” Pak Dendi terkejut dengan apa yang kukatakan. Bagaimana lagi? Aku terlanjur sebal.
             “Baiklah, bapak tak perlu berkomentar apa-apa. Saya akan keluar dari kelas yang membosankan ini. Saya akan keluar.” Aku mengibaskan tangan pada Pak Dendi. Aku pulang.
              Keputusanku pulang mengundang maslah lain: Mamih. Mamih sudah menungguku di rumah.
             “Dafa sayang, kamu kenapa lagi? Pihak sekolah menelpon mamih tadi.” Syurkurlah. Aku tak perlu lagi repot-repot menjelaskan. “Papih kamu itu orang terkenal di sekolah, Sayang. Kamu jangan malu-maluin papih kamu gitu dong!”
             “Mih, listen! Pertama, aku bukan anak kecil lagi. So stop panggil aku dengan kata-kata sayang! Kedua, aku lagi bad mood, Mih. Jadi please jangan ganggu aku dulu!” aku berkata dengan nada tinggi pada mamih sambil mencengkram lengannya. Mamih sangat terkejut dan tak sempat berbuat apa-apa.
              “Tapi...” mamih melepaskan cengkramanku.
              “sudahlah. Aku lelah, Mih. Aku mau menenangkan diri. Jadi jangan ganggu aku dulu!” aku pun sudah melangkah meninggalkan mamih ke garasi sebelum mamih menghadangku. Mamih tidak sempat berkata apa-apa. Aku pergi meninggalkan rumah menuju taman kota.[]
               Di taman inilah aku duduk. Sendiri. Aku berpikir kenapa tidak ada yang mengerti sedikitpun kepadaku? Kenapa? Mereka tak mengerti keinginanku. Aku hanya butuh tenang. Tenang tak ada yang menggangguku.
               Handphone-ku bergetar. Aku melihat sejenak. Enam panggilan tak terjawab. Dan dua belas pesan masuk. Dua panggilan dari mamih. Dan empat dari Feby –kekasihku, yang juga tak mengerti aku ingin sendiri. Juga dua belas pesan dari Feby yang isinya sama: KAMU DI MANA DAFA? Aku yakin mereka tak mencariku. Jika mereka mencariku, setengah jam saja mereka memutari kota, mereka akan langsung menemukanku. Taman kota berada tepat di tengah-tengah kota.
               (cek ecek ecek) “Mari, Kak!” seorang pengamen menjalankan tugasnya di kursi yang berseberangan denganku. Entah kenapa ia menarik perhatianku. Ia masih anak di bawah umur. Tingginya sepingganggku. Menggemaskan dengan pakaian muslim ungu dan kerudung biru laut yang ia kenakan. Wajahnya putih oleh bedak. Bedak yang tak rata tentunya. Bibirnya merah oleh lipstik. Juga bagian di sekeliling matanya yang hitam oleh sesuatu yang aku tak tahu namanya. Siapa yang tak tertarik dengan pengamen cilik ini. Tangan kirinya memegang kayu yang di tempeli tutup botol gepeng yang terbuat dari kaleng. Kecrekan sederhana. Tangan kanannya memegang plastik bungkus permen. Amunisi wajib yang selalu dibawa pengamen pada umumnya. Entah kenapa hatiku menjadi lebih tenang. Aku tak tahu.
                 (cek ecek ecek) “Mari, Kak!” anak itu mengulurkan kantongnya kepadaku. akupun terkaget. Sejak kapan dia berada di situ? “uh?” aku hanya terdiam.
                 “Yasudah kalo gak mau ngasih. Dasar pelit!” anak itu menjulurkan lidahnya mengejekku.
                 “Eh, uh!” aku grogi dan menggaruk kepala yang tak gatal. Aku tak pernah grogi ketika berhadapan dengan wanita sebelumnya. Ini berbeda mungkin. Dengan reflek aku merogoh saku dan mengambil uang sekenanya. Uang 50 ribu aku masukan kedalam plastiknya. Aku tak peduli dengan jumlahnya. Aku masih punya banyak di tabunganku.
                 “Eh, banyak banget kak?” anak itu memasang tampang bingung. Tentu saja bingung. Belum pernah ada pengamen mendapatkan uang lima puluh ribu dari hasil menjual suara ‘emas’ mereka.
                 Aku merendahkan tubuhku. Membuat mata kami sejajar. Jantungku berdegup kencang. Aku tak pernah merasakan hal yang seperti ini dengan Feby. Aku mencolek hidungnya seraya berkata. “Ambil aja buat jajan!”
                Anak itu meloncat kegirangan dengan apa yang ia dapatkan. Memamerkan gigi susunya yang sudah tanggal beberapa. “Makasih, Kak!” ia pamit dan berlari menjauh dariku. Aneh, hatiku jadi tenang karenanya. Apa ini yang disebut cinta pada pandangan pertama? Aku segera mengibaskan pikiran bodoh itu.[]
                Keesokan harinya, setelah melempar tas sembarang, dan melepas seragam, aku memacu motor Ducati biru yang belum kumatikan ketika tiba dari sekolah. Aku ingin segera menuju taman kota untuk bertemu pengamen cilik itu. Aku berangkat setelah menghiraukan perintah mamih untuk makan siang terlebih dahulu. “Nanti aja di jalan!”
               Aku beruntung. Anak itu berada di tempat yang sama, pakaian yang sama, kegiatan yang sama, dandanan yang sama, dan tentu saja waktu yang berbeda.
              “Dek, sini!” aku melambaikan tangan memanggil anak itu. (cek ecek ecek) sambil memukulkan ‘alat musik’nya, ia mendekat.
              “SesuatuH...” ia menirukan gaya menyanyi artis yang mungkin ia lihat di televisi. “uh?” aku terperanjat kaget tentu saja. “Ya, Kak?”
               “Namanya siapa, Dek?” aku merendahkan tubuh agar sejajar dengannya.
               “Kasih uang dulu, deh!” ia menjulurkan wadah uangnya. Aku menggaruk kepala yang tak gatal.
               “Mau ngasih ga? Kalo enggak. Aku mau pergi aja deh.” Ia pun berpura-pura jalan meninggalkanku. Akupun spontan menghentikan langkahnya. Dan merogoh sakuku. Hari ini aku mendapatkan uang dua puluh ribu dan memasukan kedalamnya. Ia tersenyum.
              “Makasih, Kak? Kakak yang kemarin kan? Kok baik sih?” aku mengangguk sambil tersenyum. Menunjuk bangku yang kosong menyuruhnya untuk duduk.
               “Oia. NamakuH MaharaniH PutriH PalupiH.” Dengan gaya ‘alay’ –atau mendesah– ia mengucapkan namanya dengan tambahan huruf ‘H’ di setiap akhir katanya. “sesuatuH...” aku mengernyitkan dahi ketika melihat gayanya dan mendengar namanya. Nama yang terlalu bagus untuk seorang pengamen.
               “DipanggilnyaH appaH? Aku menirukan gayanya.
               “Panggil ajaH PutriH!”
                “Putri kelas berapa?” aku lelah menirukan gaya ‘alay’nya. Putri juga berhenti menggunakan gaya alaynya.
               “Aku kelas dua SD. Emang kakak namanya siapa? Dan kelas berapa?”
               “Panggil saja Kak Dafa. Kakak kelas sebelas.” Orang-orang memerhatikanku. Mereka seperti melihat orang gila yang sedang berbicara sendiri. Aku tak peduli.
               “Katanya kelas dua? Kok enggak sekolah?”
                “Emangnya harus sekolah terus?” ia malah balik bertanya kepadaku. Aku melihat jam tangan. Pukul dua siang. Tentu saja bel pulang sekolah sudah berbunyi untuk ukuran anak SD. Aku menepuk dahi.
                “Kok kamu ngamen, sih?” pertanyaanku semaik menjurus. Tapi tak ada sedikitpun guratan kesedihan dan rasa tersindir dari wajah lugu Putri.
                 “Ibu lagi sakit, Kak. Kasihan. Jadi gak bisa cari uang buat bayar sekolah. Putri udah nunggak tiga bulan. Putri harus sekolah yang rajin kata Ibu.” Putri mengucapkannya tanpa ada sediktipun tampang sedih.   Aku merasa malu dengan putri. Gadis sekecil ini menasihatiku secara tidak langsung. Gadis sekecil Putri harus mencari sendiri uang sekolahnya. Aku yang sudah tinggal duduk manis di sekolah tanpa mengeluarkan setetespun keringat, malah bermalas-malasan. Bahkan aku membentak Pak Dendi kemarin. Putri sangat mencintai Ibunya dengan menggantikan Ibunya mencari uang. Tak terbesit sedetikpun di benakku rasa sayang pada mamih. Aku sangat malu pada Putri.
               “Kakak kok melamun?” Malaikat kecil ini memecah lamunanku.
               “Enggak, Put.” Aku menyeka air mata yang menetes dari mataku. Ia sukses menyadarkan aku. Kemarin aku berpikir bahwa akulah pemilik masalah terbesar di dunia. Ternyata tidak. Putri saja yang memiliki masalah lebih berat dariku, tak sedetikpun ia bersedih. Aku? Aku sudah berpikir menjadi manusia yang paling tak beruntung. Putri mengajarkanku untuk melihat terlebih dahulu kepada orang yang ‘lebih tak beruntung’ dariku.
               “Yaudah, Kak. Aku pamit, yah! Aku mau ngamen lagi, Kak!” Putri sudah berlari meninggalkanku.
               “Eh, Put!” aku memanggilnya kembali. Teringat dengan sesuatu. “Besok ketemu lagi di sini!” Putri mengangguk dan meninggalkanku. Aku masih tertunduk memikirkan kalimatnya.
               (cek ecrek ecrek) kecrekan itu kembali berbunyi. Menyusuri setiap sisi taman kota yang ramai. Mengais rupiah untuk uang sekolah katanya. Besok kami akan bertemu lagi. Aku tak tahu, ternyata besok adalah hari yang mengejutkan.[]
               “Ternyata benar yang di katakan anak-anak di sekolah. Kamu menghindar dariku. Kamu selingkuh! Dan kamu menunggu perempuan lain di taman! Pantas saja kamu menolak untuk mengantarkan aku pulang. Beruntung aku memutuskan untuk membuntutimu. Aku jadi tahu semuanya. Kamu jahat Dafa! Kamu Jahat!” Feby memukulku dengan tasnya. Entah kenapa ia marah-marah kepadaku.
               “Udah marahnya?” aku bertanya dengan nada merendahkannya. Nafasnya masih belum stabil. Tentu saja ia masih marah. “Pertama, aku menhindar kemarin, karena aku memang lagi sendiri. Kedua, aku gak selingkuh! Ketiga, aku tidak sedang menunggu perempuan lain. Aku sedang menunggu gadis pengamen cilik yang kutemui kemarin.”
               “Pengamen?” Feby bertanya kepadaku dengan nada bingung. Percuma aku menjelaskan kepadanya. Hanya akan menambah runyam masalah.
                 “Kamu sakit Dafa?” Feby menyentuhkan punggung tangannya dengan keningku. Mengecek suhunya. Aku langsung mengibaskan tangannya. Percuma aku menjelaskannya. Itu akan memperparah masalah.—
                 Setelah pertemuan itu dengan Putri, aku tak sabar menanti hari esok. Dan ketika bel masuk sekolah berbunyi, aku tak sabar menanti bel pulang sekolah. Aku menanti bertemu dengan Putri. Bel pulang sekolah berbunyi. Aku langsung berlari menuju parkiran dan mengeluarkan motorku. Feby menghadangku dan meminta untuk diantar pulang. Aku menolak dan langsung memutar piston motorku lebih cepat dari biasanya.
                 Setelah sampai di taman, aku langsung menuju kursi tempat kami bertemu kemarin. Tak seperti kemarin. Putri tidak ada. Aku berpikir positif dan berpikir bahwa mungkin Putri sedang disuruh ibunya belanja ke warung atau apalah pikiran positif lainnya. Setengah jam aku menunggu. Putri tak kunjung tiba. Yang tiba malah Feby.[]
                  “Ada urusan apa kamu dengannya?” Feby bertanya dengan tampang ganjil. “Jangan-jangan kamu –.“ aku langsung menyumpal mulutnya. Dan melepaskannya ketika yakin dia tak akan melanjutkan kalimatnya.
                   “Aku tak secabul yang kau pikirkan.” Feby mengerutkan dahinya. Dari pada Feby berpikir yang tidak-tidak, akupun langsung menjelaskan cerita sedetail mungkin. Ia hanya ber “oh.” Di ujung cerita.
                   Bosan menunggu, akupun memutuskan untuk mencoba bertanya pada gepeng –gembel pengemis— sekitar.  Siapa tahu ada yang tahu sedikit informasi tentang Putri.
                  “Pak, kasihan, Pak. Belum makan, Pak.” ibu-ibu pengemis itu menjulurkan gelas plastiknya kepadaku. aku merogoh saku dan memasukan uang ribuan kembalian dari sekolah tadi kedalam gelasnya. Ibu itu berterimakasih.
                  “Saya boleh nanya, Bu?” ibu itu mengangguk. Akupun menyebutkan ciri-ciri dan nama Putri. Ibu itu mengangguk. Sepertinya ia tahu sesuatu tentang Putri. Ada secercah harapan di hatiku.
                   “Oh, Putri. Tapi Putri sudah xwyzklMbvsdM.” Aku mengernyitkan dahi tak mengerti kalimat terakhirnya.
                   “Maaf, Bu. Bisa tolong diulangi? Putri kenapa?” ibu itu mengangguk.
                  “Putri xwyzklMbvsdM.” Nihil. Aku tetap tak mengerti kalimat terakhirnya. Ibu itu berkata sambil mengangkat kedua jemarinya dan menunjuk ke arah jalan raya. Aku menoleh. Dan tak menemukan apapun. Aku menoleh pada Feby. Ia mengangkat bahunya. Setidaknya, ibu ini tahu tentang Putri.
                  “Ibu tahu rumah Putri?” ibu itu menyebutkan sebuah alamat. Tanpa mengambil waktu lama, aku berterimakasih dan langsung memacu motorku menuju alamat yang dituju ibu tadi. Sambil menyempatkan diri membeli nasi bungkus. Mungkin mereka belum makan siang.
                   Aku kembali teringat dengan kalimat ibu itu tadi. “Putri xwyzklMbvsdM.” Aku menyingkirkan pikiran-pikiran aneh tentang Putri. Setidaknya aku akan segera bertemu dengan Putri.
                   Rumah Putri berada tidak jauh dari taman. Bodohnya aku malah mengambil jalan memutari taman terlebih dahulu. Padahal aku hanya tinggal belok ke kanan di perempatan pertama setelah taman.  Rumahnya semi permanen. Dindingnya hanya terbuat dari triplek yang di satukan satu sama lain hingga membentuk rumah. Lantainya belum diubin. Bukan, rumah Putri bukan dalam tahap renofasi. Namun itulah rumahnya. Belum jadi sepenuhnya. Mungkin mereka kehabisan dana untuk melanjutkan pembuatan rumah mereka. Akupun mengetuk pintu yang juga terbuat dari triplek. Jangan tanya bel rumah. Gagang pintupun tak ada. Mereka menggunakan gembok untuk mengunci pintu mereka. Feby duduk di atas kursi yang terbuat dari kayu. Hanya itulah yang ada di halaman rumah Putri.
                  (tok tok tok) “Permisi. Assalamu’alaikum!” tak ada balasan dari dalam. Aku mengetuk untuk yang kedua kalinya. Beruntung pintu segera dibuka. Dari balik pintu, terlihat wanita paruh baya yang mengunakan daster dan koyo di pelipis kiri dan kanan. Terbatuk sebentar sebelum menjawab panggilan.
                  (uhuk) “Wa’alaikum salam. Mau mencari siapa ya, Dek?” ibu itu memasang tampang bingung.
                  “Saya mencari Putri, Bu. Apa Putri sudah pulang sekolah?” aku bertanya sesopan mungkin. Ibu itu malah mengernyitkan dahi. Seperti terdengar asing di telinganya nama ‘Putri’. Aku ikutan bingung. Juga Feby yang sudah berdiri sejak pintu dibuka ikutan bingung.
                   “Ada apa bu?” ibu itu seperti sedang berpikir sesaat, terhuyung, dan pingsan di depan pintu rumahnya. Aku dan Feby bingung. Tanpa basa basi aku langsung membawa ibu itu masuk ke dalam. Aku langsung membaringkannya di atas kursi panjang yang juga terbuat dari kayu. Feby kusuruh untuk membuat teh hangat di dapur. Ia mengangguk dan langsung pergi ke dapur. Feby kebingungan. Karena bahkan hanya untuk sekedar membuat teh, keluarga ini tak mempunyai gula. Aku langsung menyuruhnya untuk membeli teh yang sudah jadi di warung. Beberapa saat, ibu itu tersadar.
                  “Kalian siapa?” muka ibu itu terlihat sangat pucat.
                   “Perkenalkan, Bu. Nama saya Dafa. Dan itu teman saya Feby.” Aku menunjuk Feby. Ia kecewa karena hanya kusebut sebagai ‘teman’. “Kami hendak mencari Putri, Bu.” Aku berbicara sesopan mungkin. Ibu itu kembali melamun sesaat. Lantas membuka mulutnya.
                  “Kalian tak akan bisa menemukannya sekarang.” Ibu itu berkata datar. Aku mengernyitkan dahi tak mengerti. Apa Putri masih sekolah? Tapi, kenapa ibu ini berkata dengan nada yang tak biasa. “Putri meninggal dua hari yang lalu.”
                “DUM!” seperti ada yang menghantamkan sesuatu ke hatiku. Celaka! Itu hari dimana aku pertama kalinya bertemu dengan putri. Aku sungguh tak mengerti apa yang terjadi?
               “Ia meninggal karena tertabrak motor di taman kota ketika mengamen.” Air mata ibu itu mulai turun. (huhu)“Aku menyesal karena mengizinkannya mengamen pada hari itu. Aku juga menyesal karena tidak bisa mencari uang untuk membayar bayaran sekolahnya. Bahkan untuk mengadakan tahlilah pun kami tak mampu. Jika saja, aku bisa mencari uang. Kalian masih bisa bertemu Putri saat ini.” Ibu itu sudah menangis tersedu ketika mengucapkan kalimatnya yang terakhir. Feby mencoba menenangkan ibu itu.
               “Aku hanya bisa membelikan baju muslim ungu sebelum kepergiannya. Ungu adalah warna kesukaannya. Aku hanya bisa membelikan yang bekas pada Putri. Muslim ungu yang ia pinta padaku sejak lebaran tahun lalu.” Muslim ungu juga pakaian yang ia gunakan ketika bertemu denganku. Aku jadi ingat sekarang. Kenapa orang-orang memerhatikanku sewaktu aku berbicara dengan Putri? Mereka melihatku seperti melihat orang gila yang berbicara sendiri. Karena sejatinya, aku memang berbicara sendiri. Berbicara dengan arwah Putri. Juga kalimat terakhir ibu-ibu pengemis di taman. “Putri xwyzklMbvsdM.” Sejatinya ibu itu ingin bilang bahwa “Putri sudah mati.” Mungkin Putri menutup pemahamanku atas kalimat ibu-ibu tadi. Putri ingin aku mengetahui berita kematiannya langsung dari ibunya. Juga saat ibu-ibu pengemis itu menunjuk jalan raya dan mengacungkan dua jarinya. Mengartikan bahwa Putri mati tertabrak di jalan dua hari yang lalu. Aku tetap tak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi padaku? Apakah ini teguran bagiku yang sombong dan tak pernah bersyukur. Aku teringat kembali dengan apa yang telah aku perbuat. Membentak    Pak Dendi. Membentak dan tak memperdulikan mamih. Juga Feby. Ia meneteskan air mata kali ini.
                 Aku sangat beruntung masih bisa bertemu dengan putri walau dalam keadaan arwah. Tuhan menyempatkan   Putri untuk secara tidak langsung mengajariku makna kehidupan dan untuk memahami syukur. Putri secara tidak langsung mengajariku bahwa sejatinya kita, dalam urusan harta dan rezeki untuk melihat kepada orang yang lebih rendah dari pada kita. Atau melihat kepada orang yang tidak lebih beruntung dari pada kita. Agar ketika menyuap nasi, atau duduk di bangku sekolah, kita merasa beruntung.  Karena di luar sana, maish banyak saudara-saudara kita yang ‘tidak lebih beruntung’ daripada kita. Saudara-saudara kita yang belum bisa menyuap nasi semudah kita, juga belum bisa duduk di bangku sekolah semudah kita. Putri secara tidak langsung mengajariku akan berharganya sesuap nasi, juga akan berharganya bisa mempunyai kesempatan untuk duduk manis di kelas, dan menikmati pelajaran. Good bye Putri. Sorenya aku mendatangi pusara Putri. Berdoa untuknya.
                 Kini, seminggu sekali. Aku menyempatkan diri untuk duduk di bangku taman kota. Duduk di tempat di mana pertama kalinya aku bertemu dengan Putri. Berharap bisa kembali bertemu dengannya.
(cek ecek ecek) “Mari, Kak. NamakuH MaharaniH PutriH PalupiH. SesuatuH....”


No comments:

Post a Comment