Puluhan, bahkan
ratusan pasang alas kaki terangkat ke udara. Orang-orang berlalu
lalang di taman kota. Entah apapun maksud dan tujuan mereka.
Menikmati indahnya taman, atau sekedar untuk mempersingkat perjalanan
menuju tempat tujuan mereka. Mereka hanya sibuk dengan urusan mereka
masing-masing. Taka ada yang peduli satu sama lain. Bahkan hanya
untuk sekedar menyapa.
Langit terlihat cerah walau sekarang
berada di musim penghujan. Seakan ada yang spesial dengan hari ini.
Tapi tidak dengan hatiku. Hatiku merasakan kebalikannya: Mendung tak
secerah biasanya. Kau bayangkan. Silih berganti masalah datang
menimpaku. Membuatku bad mood saja. Mulai dari guru sejarah
yang menjengkelkan, juga mamih yang menjengkelkan. Akulah pemilik
masalah terbesar di dunia.—
“Dafa! Kamu memerhatikan pelajaran
saya tidak?” pak Dendi guru sejarah yang menjengkelkan itu
membentakku karena aku tak memerhatikan pelajarannya. Dari tadi aku
sibuk memerhatikan jendela yang basah. Di luar sedang turun hujan.
“Enggak, Pa. Saya lagi bad mood
nih, Pak.” Kata-kata itu meluncur begitu saja. Aku berbicara
dengan tidak sedetikpun meliriknya. Aku tahu Pak Dendi mesti marah
besar kepadaku. Ia mengecak pinggang, menggeleng, dan menarik nafas
dalam-dalam.
“Dafa Andrean Al-ghazali! Kamu
keluar dari kelas saya!” ia benar benar marah kali ini. Aku
menoleh. Kalimat terakhirnya benar-benar membuat kelas hening kali
ini.
“Bapak mengusir saya?” aku
bertanya dengan nada merendah. “Apa bapak tahu? Ayah saya, Hamid
Budi Al-ghazali adalah penyumbang terbesar di sekolah ini. Bapak
tentu tahu itu.” Pak Dendi terkejut dengan apa yang kukatakan.
Bagaimana lagi? Aku terlanjur sebal.
“Baiklah, bapak tak perlu
berkomentar apa-apa. Saya akan keluar dari kelas yang membosankan
ini. Saya akan keluar.” Aku mengibaskan tangan pada Pak Dendi. Aku
pulang.
Keputusanku pulang mengundang maslah
lain: Mamih. Mamih sudah menungguku di rumah.
“Dafa sayang, kamu kenapa lagi?
Pihak sekolah menelpon mamih tadi.” Syurkurlah. Aku tak perlu lagi
repot-repot menjelaskan. “Papih kamu itu orang terkenal di sekolah,
Sayang. Kamu jangan malu-maluin papih kamu gitu dong!”
“Mih, listen! Pertama, aku
bukan anak kecil lagi. So stop panggil aku dengan kata-kata
sayang! Kedua, aku lagi bad mood, Mih. Jadi please
jangan ganggu aku dulu!” aku berkata dengan nada tinggi pada mamih
sambil mencengkram lengannya. Mamih sangat terkejut dan tak sempat
berbuat apa-apa.
“Tapi...” mamih melepaskan
cengkramanku.
“sudahlah. Aku lelah, Mih. Aku mau
menenangkan diri. Jadi jangan ganggu aku dulu!” aku pun sudah
melangkah meninggalkan mamih ke garasi sebelum mamih menghadangku.
Mamih tidak sempat berkata apa-apa. Aku pergi meninggalkan rumah
menuju taman kota.[]
Di taman inilah aku duduk. Sendiri.
Aku berpikir kenapa tidak ada yang mengerti sedikitpun kepadaku?
Kenapa? Mereka tak mengerti keinginanku. Aku hanya butuh tenang.
Tenang tak ada yang menggangguku.
Handphone-ku bergetar. Aku
melihat sejenak. Enam panggilan tak terjawab. Dan dua belas pesan
masuk. Dua panggilan dari mamih. Dan empat dari Feby –kekasihku,
yang juga tak mengerti aku ingin sendiri. Juga dua belas pesan dari
Feby yang isinya sama: KAMU DI MANA DAFA? Aku yakin mereka tak
mencariku. Jika mereka mencariku, setengah jam saja mereka memutari
kota, mereka akan langsung menemukanku. Taman kota berada tepat di
tengah-tengah kota.
(cek ecek ecek) “Mari, Kak!”
seorang pengamen menjalankan tugasnya di kursi yang berseberangan
denganku. Entah kenapa ia menarik perhatianku. Ia masih anak di bawah
umur. Tingginya sepingganggku. Menggemaskan dengan pakaian muslim
ungu dan kerudung biru laut yang ia kenakan. Wajahnya putih oleh
bedak. Bedak yang tak rata tentunya. Bibirnya merah oleh lipstik.
Juga bagian di sekeliling matanya yang hitam oleh sesuatu yang aku
tak tahu namanya. Siapa yang tak tertarik dengan pengamen cilik ini.
Tangan kirinya memegang kayu yang di tempeli tutup botol gepeng yang
terbuat dari kaleng. Kecrekan sederhana. Tangan kanannya memegang
plastik bungkus permen. Amunisi wajib yang selalu dibawa pengamen
pada umumnya. Entah kenapa hatiku menjadi lebih tenang. Aku tak tahu.
(cek ecek ecek) “Mari, Kak!”
anak itu mengulurkan kantongnya kepadaku. akupun terkaget. Sejak
kapan dia berada di situ? “uh?” aku hanya terdiam.
“Yasudah kalo gak mau ngasih. Dasar
pelit!” anak itu menjulurkan lidahnya mengejekku.
“Eh, uh!” aku grogi dan menggaruk
kepala yang tak gatal. Aku tak pernah grogi ketika berhadapan dengan
wanita sebelumnya. Ini berbeda mungkin. Dengan reflek aku
merogoh saku dan mengambil uang sekenanya. Uang 50 ribu aku masukan
kedalam plastiknya. Aku tak peduli dengan jumlahnya. Aku masih punya
banyak di tabunganku.
“Eh, banyak banget kak?” anak itu
memasang tampang bingung. Tentu saja bingung. Belum pernah ada
pengamen mendapatkan uang lima puluh ribu dari hasil menjual suara
‘emas’ mereka.
Aku merendahkan tubuhku. Membuat mata
kami sejajar. Jantungku berdegup kencang. Aku tak pernah merasakan
hal yang seperti ini dengan Feby. Aku mencolek hidungnya seraya
berkata. “Ambil aja buat jajan!”
Anak itu meloncat kegirangan dengan
apa yang ia dapatkan. Memamerkan gigi susunya yang sudah tanggal
beberapa. “Makasih, Kak!” ia pamit dan berlari menjauh dariku.
Aneh, hatiku jadi tenang karenanya. Apa ini yang disebut cinta pada
pandangan pertama? Aku segera mengibaskan pikiran bodoh itu.[]
Keesokan harinya, setelah melempar tas
sembarang, dan melepas seragam, aku memacu motor Ducati biru
yang belum kumatikan ketika tiba dari sekolah. Aku ingin segera
menuju taman kota untuk bertemu pengamen cilik itu. Aku berangkat
setelah menghiraukan perintah mamih untuk makan siang terlebih
dahulu. “Nanti aja di jalan!”
Aku beruntung. Anak itu berada di
tempat yang sama, pakaian yang sama, kegiatan yang sama, dandanan
yang sama, dan tentu saja waktu yang berbeda.
“Dek, sini!” aku melambaikan
tangan memanggil anak itu. (cek ecek ecek) sambil memukulkan ‘alat
musik’nya, ia mendekat.
“SesuatuH...” ia menirukan gaya
menyanyi artis yang mungkin ia lihat di televisi. “uh?” aku
terperanjat kaget tentu saja. “Ya, Kak?”
“Namanya siapa, Dek?” aku
merendahkan tubuh agar sejajar dengannya.
“Kasih uang dulu, deh!” ia
menjulurkan wadah uangnya. Aku menggaruk kepala yang tak gatal.
“Mau ngasih ga? Kalo enggak.
Aku mau pergi aja deh.” Ia pun berpura-pura jalan meninggalkanku.
Akupun spontan menghentikan langkahnya. Dan merogoh sakuku. Hari ini
aku mendapatkan uang dua puluh ribu dan memasukan kedalamnya. Ia
tersenyum.
“Makasih, Kak? Kakak yang kemarin
kan? Kok baik sih?” aku mengangguk sambil tersenyum. Menunjuk
bangku yang kosong menyuruhnya untuk duduk.
“Oia. NamakuH MaharaniH PutriH
PalupiH.” Dengan gaya ‘alay’ –atau mendesah– ia mengucapkan
namanya dengan tambahan huruf ‘H’ di setiap akhir katanya.
“sesuatuH...” aku mengernyitkan dahi ketika melihat gayanya dan
mendengar namanya. Nama yang terlalu bagus untuk seorang pengamen.
“DipanggilnyaH appaH? Aku menirukan
gayanya.
“Panggil ajaH PutriH!”
“Putri kelas berapa?” aku lelah
menirukan gaya ‘alay’nya. Putri juga berhenti menggunakan gaya
alaynya.
“Aku kelas dua SD. Emang kakak
namanya siapa? Dan kelas berapa?”
“Panggil saja Kak Dafa. Kakak kelas
sebelas.” Orang-orang memerhatikanku. Mereka seperti melihat orang
gila yang sedang berbicara sendiri. Aku tak peduli.
“Katanya kelas dua? Kok enggak
sekolah?”
“Emangnya harus sekolah terus?” ia
malah balik bertanya kepadaku. Aku melihat jam tangan. Pukul dua
siang. Tentu saja bel pulang sekolah sudah berbunyi untuk ukuran anak
SD. Aku menepuk dahi.
“Kok kamu ngamen, sih?”
pertanyaanku semaik menjurus. Tapi tak ada sedikitpun guratan
kesedihan dan rasa tersindir dari wajah lugu Putri.
“Ibu lagi sakit, Kak. Kasihan. Jadi
gak bisa cari uang buat bayar sekolah. Putri udah nunggak tiga bulan.
Putri harus sekolah yang rajin kata Ibu.” Putri mengucapkannya
tanpa ada sediktipun tampang sedih. Aku merasa malu dengan putri.
Gadis sekecil ini menasihatiku secara tidak langsung. Gadis sekecil
Putri harus mencari sendiri uang sekolahnya. Aku yang sudah tinggal
duduk manis di sekolah tanpa mengeluarkan setetespun keringat, malah
bermalas-malasan. Bahkan aku membentak Pak Dendi kemarin. Putri
sangat mencintai Ibunya dengan menggantikan Ibunya mencari uang. Tak
terbesit sedetikpun di benakku rasa sayang pada mamih. Aku sangat
malu pada Putri.
“Kakak kok melamun?”
Malaikat kecil ini memecah lamunanku.
“Enggak, Put.” Aku menyeka air
mata yang menetes dari mataku. Ia sukses menyadarkan aku. Kemarin
aku berpikir bahwa akulah pemilik masalah terbesar di dunia. Ternyata
tidak. Putri saja yang memiliki masalah lebih berat dariku, tak
sedetikpun ia bersedih. Aku? Aku sudah berpikir menjadi manusia yang
paling tak beruntung. Putri mengajarkanku untuk melihat terlebih
dahulu kepada orang yang ‘lebih tak beruntung’ dariku.
“Yaudah, Kak. Aku pamit, yah! Aku
mau ngamen lagi, Kak!” Putri sudah berlari meninggalkanku.
“Eh, Put!” aku memanggilnya
kembali. Teringat dengan sesuatu. “Besok ketemu lagi di sini!”
Putri mengangguk dan meninggalkanku. Aku masih tertunduk memikirkan
kalimatnya.
(cek ecrek ecrek) kecrekan itu kembali
berbunyi. Menyusuri setiap sisi taman kota yang ramai. Mengais rupiah
untuk uang sekolah katanya. Besok kami akan bertemu lagi. Aku tak
tahu, ternyata besok adalah hari yang mengejutkan.[]
“Ternyata benar yang di katakan
anak-anak di sekolah. Kamu menghindar dariku. Kamu selingkuh! Dan
kamu menunggu perempuan lain di taman! Pantas saja kamu menolak untuk
mengantarkan aku pulang. Beruntung aku memutuskan untuk membuntutimu.
Aku jadi tahu semuanya. Kamu jahat Dafa! Kamu Jahat!” Feby
memukulku dengan tasnya. Entah kenapa ia marah-marah kepadaku.
“Udah marahnya?” aku bertanya
dengan nada merendahkannya. Nafasnya masih belum stabil. Tentu saja
ia masih marah. “Pertama, aku menhindar kemarin, karena aku memang
lagi sendiri. Kedua, aku gak selingkuh! Ketiga, aku tidak sedang
menunggu perempuan lain. Aku sedang menunggu gadis pengamen cilik
yang kutemui kemarin.”
“Pengamen?” Feby bertanya kepadaku
dengan nada bingung. Percuma aku menjelaskan kepadanya. Hanya akan
menambah runyam masalah.
“Kamu sakit Dafa?” Feby
menyentuhkan punggung tangannya dengan keningku. Mengecek suhunya.
Aku langsung mengibaskan tangannya. Percuma aku menjelaskannya. Itu
akan memperparah masalah.—
Setelah pertemuan itu dengan Putri,
aku tak sabar menanti hari esok. Dan ketika bel masuk sekolah
berbunyi, aku tak sabar menanti bel pulang sekolah. Aku menanti
bertemu dengan Putri. Bel pulang sekolah berbunyi. Aku langsung
berlari menuju parkiran dan mengeluarkan motorku. Feby menghadangku
dan meminta untuk diantar pulang. Aku menolak dan langsung memutar
piston motorku lebih cepat dari biasanya.
Setelah sampai di taman, aku langsung
menuju kursi tempat kami bertemu kemarin. Tak seperti kemarin. Putri
tidak ada. Aku berpikir positif dan berpikir bahwa mungkin Putri
sedang disuruh ibunya belanja ke warung atau apalah pikiran positif
lainnya. Setengah jam aku menunggu. Putri tak kunjung tiba. Yang tiba
malah Feby.[]
“Ada urusan apa kamu dengannya?”
Feby bertanya dengan tampang ganjil. “Jangan-jangan kamu –.“
aku langsung menyumpal mulutnya. Dan melepaskannya ketika yakin dia
tak akan melanjutkan kalimatnya.
“Aku tak secabul yang kau pikirkan.”
Feby mengerutkan dahinya. Dari pada Feby berpikir yang tidak-tidak,
akupun langsung menjelaskan cerita sedetail mungkin. Ia hanya ber
“oh.” Di ujung cerita.
Bosan menunggu, akupun memutuskan
untuk mencoba bertanya pada gepeng –gembel pengemis— sekitar.
Siapa tahu ada yang tahu sedikit informasi tentang Putri.
“Pak, kasihan, Pak. Belum makan,
Pak.” ibu-ibu pengemis itu menjulurkan gelas plastiknya kepadaku.
aku merogoh saku dan memasukan uang ribuan kembalian dari sekolah
tadi kedalam gelasnya. Ibu itu berterimakasih.
“Saya boleh nanya, Bu?” ibu itu
mengangguk. Akupun menyebutkan ciri-ciri dan nama Putri. Ibu itu
mengangguk. Sepertinya ia tahu sesuatu tentang Putri. Ada secercah
harapan di hatiku.
“Oh, Putri. Tapi Putri sudah
xwyzklMbvsdM.” Aku mengernyitkan dahi tak mengerti kalimat
terakhirnya.
“Maaf, Bu. Bisa tolong diulangi?
Putri kenapa?” ibu itu mengangguk.
“Putri xwyzklMbvsdM.” Nihil. Aku
tetap tak mengerti kalimat terakhirnya. Ibu itu berkata sambil
mengangkat kedua jemarinya dan menunjuk ke arah jalan raya. Aku
menoleh. Dan tak menemukan apapun. Aku menoleh pada Feby. Ia
mengangkat bahunya. Setidaknya, ibu ini tahu tentang Putri.
“Ibu tahu rumah Putri?” ibu itu
menyebutkan sebuah alamat. Tanpa mengambil waktu lama, aku
berterimakasih dan langsung memacu motorku menuju alamat yang dituju
ibu tadi. Sambil menyempatkan diri membeli nasi bungkus. Mungkin
mereka belum makan siang.
Aku kembali teringat dengan kalimat
ibu itu tadi. “Putri xwyzklMbvsdM.” Aku menyingkirkan
pikiran-pikiran aneh tentang Putri. Setidaknya aku akan segera
bertemu dengan Putri.
Rumah Putri berada tidak jauh dari
taman. Bodohnya aku malah mengambil jalan memutari taman terlebih
dahulu. Padahal aku hanya tinggal belok ke kanan di perempatan
pertama setelah taman. Rumahnya semi permanen. Dindingnya hanya
terbuat dari triplek yang di satukan satu sama lain hingga membentuk
rumah. Lantainya belum diubin. Bukan, rumah Putri bukan dalam tahap
renofasi. Namun itulah rumahnya. Belum jadi sepenuhnya. Mungkin
mereka kehabisan dana untuk melanjutkan pembuatan rumah mereka.
Akupun mengetuk pintu yang juga terbuat dari triplek. Jangan tanya
bel rumah. Gagang pintupun tak ada. Mereka menggunakan gembok untuk
mengunci pintu mereka. Feby duduk di atas kursi yang terbuat dari
kayu. Hanya itulah yang ada di halaman rumah Putri.
(tok tok tok) “Permisi.
Assalamu’alaikum!” tak ada balasan dari dalam. Aku
mengetuk untuk yang kedua kalinya. Beruntung pintu segera dibuka.
Dari balik pintu, terlihat wanita paruh baya yang mengunakan daster
dan koyo di pelipis kiri dan kanan. Terbatuk sebentar sebelum
menjawab panggilan.
(uhuk) “Wa’alaikum salam. Mau
mencari siapa ya, Dek?” ibu itu memasang tampang bingung.
“Saya mencari Putri, Bu. Apa Putri
sudah pulang sekolah?” aku bertanya sesopan mungkin. Ibu itu malah
mengernyitkan dahi. Seperti terdengar asing di telinganya nama
‘Putri’. Aku ikutan bingung. Juga Feby yang sudah berdiri sejak
pintu dibuka ikutan bingung.
“Ada apa bu?” ibu itu seperti
sedang berpikir sesaat, terhuyung, dan pingsan di depan pintu
rumahnya. Aku dan Feby bingung. Tanpa basa basi aku langsung membawa
ibu itu masuk ke dalam. Aku langsung membaringkannya di atas kursi
panjang yang juga terbuat dari kayu. Feby kusuruh untuk membuat teh
hangat di dapur. Ia mengangguk dan langsung pergi ke dapur. Feby
kebingungan. Karena bahkan hanya untuk sekedar membuat teh, keluarga
ini tak mempunyai gula. Aku langsung menyuruhnya untuk membeli teh
yang sudah jadi di warung. Beberapa saat, ibu itu tersadar.
“Kalian siapa?” muka ibu itu
terlihat sangat pucat.
“Perkenalkan, Bu. Nama saya Dafa.
Dan itu teman saya Feby.” Aku menunjuk Feby. Ia kecewa karena hanya
kusebut sebagai ‘teman’. “Kami hendak mencari Putri, Bu.” Aku
berbicara sesopan mungkin. Ibu itu kembali melamun sesaat. Lantas
membuka mulutnya.
“Kalian tak akan bisa menemukannya
sekarang.” Ibu itu berkata datar. Aku mengernyitkan dahi tak
mengerti. Apa Putri masih sekolah? Tapi, kenapa ibu ini berkata
dengan nada yang tak biasa. “Putri meninggal dua hari yang lalu.”
“DUM!” seperti ada yang
menghantamkan sesuatu ke hatiku. Celaka! Itu hari dimana aku pertama
kalinya bertemu dengan putri. Aku sungguh tak mengerti apa yang
terjadi?
“Ia meninggal karena tertabrak motor
di taman kota ketika mengamen.” Air mata ibu itu mulai turun.
(huhu)“Aku menyesal karena mengizinkannya mengamen pada hari itu.
Aku juga menyesal karena tidak bisa mencari uang untuk membayar
bayaran sekolahnya. Bahkan untuk mengadakan tahlilah pun kami tak
mampu. Jika saja, aku bisa mencari uang. Kalian masih bisa bertemu
Putri saat ini.” Ibu itu sudah menangis tersedu ketika mengucapkan
kalimatnya yang terakhir. Feby mencoba menenangkan ibu itu.
“Aku hanya bisa membelikan baju
muslim ungu sebelum kepergiannya. Ungu adalah warna kesukaannya. Aku
hanya bisa membelikan yang bekas pada Putri. Muslim ungu yang ia
pinta padaku sejak lebaran tahun lalu.” Muslim ungu juga pakaian
yang ia gunakan ketika bertemu denganku. Aku jadi ingat sekarang.
Kenapa orang-orang memerhatikanku sewaktu aku berbicara dengan Putri?
Mereka melihatku seperti melihat orang gila yang berbicara sendiri.
Karena sejatinya, aku memang berbicara sendiri. Berbicara dengan
arwah Putri. Juga kalimat terakhir ibu-ibu pengemis di taman. “Putri
xwyzklMbvsdM.” Sejatinya ibu itu ingin bilang bahwa “Putri
sudah mati.” Mungkin Putri menutup pemahamanku atas kalimat
ibu-ibu tadi. Putri ingin aku mengetahui berita kematiannya langsung
dari ibunya. Juga saat ibu-ibu pengemis itu menunjuk jalan raya dan
mengacungkan dua jarinya. Mengartikan bahwa Putri mati tertabrak di
jalan dua hari yang lalu. Aku tetap tak mengerti kenapa hal ini bisa
terjadi padaku? Apakah ini teguran bagiku yang sombong dan tak pernah
bersyukur. Aku teringat kembali dengan apa yang telah aku perbuat.
Membentak Pak Dendi. Membentak dan tak memperdulikan mamih. Juga
Feby. Ia meneteskan air mata kali ini.
Aku sangat beruntung masih bisa
bertemu dengan putri walau dalam keadaan arwah. Tuhan menyempatkan Putri untuk secara tidak langsung mengajariku makna kehidupan dan
untuk memahami syukur. Putri secara tidak langsung mengajariku bahwa
sejatinya kita, dalam urusan harta dan rezeki untuk melihat kepada
orang yang lebih rendah dari pada kita. Atau melihat kepada orang
yang tidak lebih beruntung dari pada kita. Agar ketika menyuap nasi,
atau duduk di bangku sekolah, kita merasa beruntung. Karena di luar
sana, maish banyak saudara-saudara kita yang ‘tidak lebih
beruntung’ daripada kita. Saudara-saudara kita yang belum bisa
menyuap nasi semudah kita, juga belum bisa duduk di bangku sekolah
semudah kita. Putri secara tidak langsung mengajariku akan
berharganya sesuap nasi, juga akan berharganya bisa mempunyai
kesempatan untuk duduk manis di kelas, dan menikmati pelajaran. Good
bye Putri. Sorenya aku mendatangi pusara Putri. Berdoa untuknya.
Kini, seminggu sekali. Aku
menyempatkan diri untuk duduk di bangku taman kota. Duduk di tempat
di mana pertama kalinya aku bertemu dengan Putri. Berharap bisa
kembali bertemu dengannya.
(cek ecek ecek) “Mari, Kak. NamakuH
MaharaniH PutriH PalupiH. SesuatuH....”
No comments:
Post a Comment