Bagai
pinang dibelah dua.
Tapi
pinang yang satu bagus, yang satu busuk.
Semua orang tak
pernah bisa menawar di dunia rahim sana. Jika bisa, aku berani membayar
berapapun harganya. Aku dilahirkan bagai pinang
dibelah dua jika kalian mengucapkannya dalam bahasa pepatah. Ya, aku
kembar. Kembar secara fisik. Namun
berbeda secara sifat.
“Kembar kok beda?” merupakan kalimat yang sudah tidak
asing di telingaku. Satu rangkaian kalimat yang kontradiktif. Kembar itu
bermakna sama. Namun ada tambahan kata beda. Yang membuat sebuah
kontradiktif tersebut. Hal itulah yang membuatku tak mau dilahirkan kembar. Aku
Reni. Dan kakakku yang super itu Rena. Mereka memanggilku Rere dan kakak dengan
Nana. Sudah sangat terlihat rasisme itu dari nama panggilan kami. Aku Rere, dan
dia Nana. Rere-Nana. Digabungkan menjadi Rena. Bukan Reni.
“Re, coba lihat kakakmu yang rajin itu. Selalu
juara di kelasnya. Kau harus ikuti jejaknya di kelasmu!” kalimat mamih yang
paling aku benci. Haruskah setiap kembar itu sama dalam segala hal? Haruskah
setiap kembar memiliki otak yang sama? Haruskah setiap kembar memiliki prestasi
yang sama? Dan masih banyak lagi kata haruskah? Dan sama yang ingin aku tanyakan kepada setiap
orang di dunia.
Kakak superku itu memang selalu
super. Piala olimpiade Fisika yang ia kumpulkan sejak SMP sudah menumpuk di
lemari piala keluarga kami. Punyaku hanya satu. Itupun lomba mewarnai tingkat
Kecamatan saat kami TK –yang sama
tentunya. Juga fotonya yang sedang menerima penghargaan terpampang memenuhi
dinding. Foto bersama mentri pendidikan, mentri komunikasi, bupati, gubernur,
kepala sekolah, direktur perusahaan, dan masih banyak lagi. Aku hanya punya
satu foto selfie di dinding. Kusam dipajang di bawah foto-fotonya. Nana
–aku malas memanggilnya kakak– selalu menjadi idaman cowok-cowok di sekolah.
Ribuan kiriman coklat dan bunga disematkan untuknya. Tak satupun tertuju
padaku. Padahal aku sama cantiknya dengannya. Kulit kami sama putih dan sama
mulusnya. Rambut kami sama panjang dan sama hitamnya. Apa mereka buta? Kami
sama. Kenapa tak ada yang peduli denganku?
Karena itulah aku berharap untuk tak
pernah dilahirkan kembar. Atau setidaknya tidak dilahirkan kembar dengan Nana.
***
Aku selalu sinis ketika Nana duduk
di sampingku. Juga ketika Nana memakai pakaian yang sama dengan yang ku pakai
–kecuali seragam sekolah.
“ish!
Kenapa harus sama sih? Ganti!”
Teriakku. Nana hanya tersenyum dan tak peduli. Setelah itu ibu selalu
memarahiku atas kelakuanku pada kakak superku itu. Nana memang tak pernah membenciku.
Justru ia sayang kepadaku. Ia juga berpikir bahwa aku sama sayangnya kepadanya.
“Kitakan kembar. Jadi harus kompak
dan saling menyayangi.” Itulah selalu kelakarnya yang tak lucu ketika
membantuku. Aku justru merasa risih mendengar itu. Dan aku benci mendengar itu.
Asal kalian tahu. Sebenarnya, aku tak terlalu membenci Nana. Sejatinya, di
lubuk hatiku yang paling dalam, aku menyayanginya –walau sedikit. Aku
membencinya hanya karena kami kembar. Hanya itu saja. Aku membencinya hanya
ketika teman-teman kami berkata “kembar tapi beda.” Kalimat kontradiktif itu. Aku hanya membenci bagian itu
saja.
“Na, aku bosan menjadi kembar. Kau
harus memilih. Aku atau kau yang harus mati? Agar tidak ada lagi yang kembar di
antara kita.”
“Jangan berkelakar, Re. kau masih
seperti anak-anak saja. Kita sudah kelas dua belas, Re.” Nana hanya melambaikan
tangannya. Berpikir bahwa aku hanya berkelakar. Lantas aku mengeluarkan pisau.
Nana terkaget. Baru menyadari bahwa aku serius.
“Re, sudah, Re. kenapa dengan
dirimu?” Nana berkata dengan mata berkaca-kaca. Aku berpikir sejenak. Aku
merasa ini hanyalah hal bodoh.
“Ah! Sudahlah!” Aku melempar pisau
itu. Dan Nana memelukku. Selanjutnya aku mencoba untuk menerima. Menerima bahwa
kami itu kembar. Menerima bahwa dialah Rena yang super. Dan inilah aku Reni
yang bodoh.
***
Pagi itu aku berlari menuju ruangan dimana
Nana di rawat. Aku ingin menunjukkan hasil kelulusanku. Aku berhasil menepati
janjiku. Sejak Nana dirawat di RS aku berjanji padanya
untuk belajar lebih giat, menunjukkan bahwa kami itu sama, sama-sama pintar,
sama-sama baik.
Tuhan berkehendak lain. Harapanku
pupus. Aku mendengar tangisan mamih, aku melihat
semua orang di kamar ini menangis. Tatapanku tertuju pada tempat tidur Nana,
tubuh kurusnya kini tertutup kain. Aku melangkah gontai, derai air matapun
berjatuhan layaknya hujan deras di atas lautan. “Na, kenapa tidak menungguku,
setidaknya menungguku unutk menyampaikan kabar gembira ini? Kenapa Na?”
teriakku dan mamih memelukku dengan lembut.
Kanker telah benar-benar memisahkan kami,
membuang jauh pinang sebelah. Kini aku sendiri. Kini aku pinang
dibelah dua yang sendiri. Ternyata kami tetap berbeda. “Na, kenapa penyakit ini kau emban sendiri? Bukankah kita
kembar?” Tangisanku semakin deras. Kertas yang sedari tadi ku genggang kini
robek dan basah.
Selamat jalan Super Nana. Sejatinya,
aku sangat menyayangimu. Selain inginku capai cita-citaku, akan ku raih pula impianmu, bukankah
kita kembar?
Krapyak
08 Oktober 2014
(Dimuat di Majalah Bangkit edisi Desember 2014 dengan judul "Kontradiktif Pinang" -Edit)
No comments:
Post a Comment