Friday, June 19, 2015

Aku, Pinang Yang Buruk



Bagai pinang dibelah dua.
Tapi pinang yang satu bagus, yang satu busuk.
Semua orang tak pernah bisa menawar di dunia rahim sana. Jika bisa, aku berani membayar berapapun harganya. Aku dilahirkan bagai pinang dibelah dua jika kalian mengucapkannya dalam bahasa pepatah. Ya, aku kembar. Kembar secara fisik. Namun berbeda secara sifat.
            “Kembar kok  beda?” merupakan kalimat yang sudah tidak asing di telingaku. Satu rangkaian kalimat yang kontradiktif. Kembar itu bermakna sama. Namun ada tambahan kata beda. Yang membuat sebuah kontradiktif tersebut. Hal itulah yang membuatku tak mau dilahirkan kembar. Aku Reni. Dan kakakku yang super itu Rena. Mereka memanggilku Rere dan kakak dengan Nana. Sudah sangat terlihat rasisme itu dari nama panggilan kami. Aku Rere, dan dia Nana. Rere-Nana. Digabungkan menjadi Rena. Bukan Reni.
             “Re, coba lihat kakakmu yang rajin itu. Selalu juara di kelasnya. Kau harus ikuti jejaknya di kelasmu!” kalimat mamih yang paling aku benci. Haruskah setiap kembar itu sama dalam segala hal? Haruskah setiap kembar memiliki otak yang sama? Haruskah setiap kembar memiliki prestasi yang sama? Dan masih banyak lagi kata haruskah? Dan  sama yang ingin aku tanyakan kepada setiap orang di dunia.
            Kakak superku itu memang selalu super. Piala olimpiade Fisika yang ia kumpulkan sejak SMP sudah menumpuk di lemari piala keluarga kami. Punyaku hanya satu. Itupun lomba mewarnai tingkat Kecamatan saat kami TK –yang sama tentunya. Juga fotonya yang sedang menerima penghargaan terpampang memenuhi dinding. Foto bersama mentri pendidikan, mentri komunikasi, bupati, gubernur, kepala sekolah, direktur perusahaan, dan masih banyak lagi. Aku hanya punya satu foto selfie di dinding. Kusam dipajang di bawah foto-fotonya. Nana –aku malas memanggilnya kakak– selalu menjadi idaman cowok-cowok di sekolah. Ribuan kiriman coklat dan bunga disematkan untuknya. Tak satupun tertuju padaku. Padahal aku sama cantiknya dengannya. Kulit kami sama putih dan sama mulusnya. Rambut kami sama panjang dan sama hitamnya. Apa mereka buta? Kami sama. Kenapa tak ada yang peduli denganku?
            Karena itulah aku berharap untuk tak pernah dilahirkan kembar. Atau setidaknya tidak dilahirkan kembar dengan Nana.
***
            Aku selalu sinis ketika Nana duduk di sampingku. Juga ketika Nana memakai pakaian yang sama dengan yang ku pakai –kecuali seragam sekolah.
“ish! Kenapa harus sama sih? Ganti!” Teriakku. Nana hanya tersenyum dan tak peduli. Setelah itu ibu selalu memarahiku atas kelakuanku pada kakak superku itu. Nana memang tak pernah membenciku. Justru ia sayang kepadaku. Ia juga berpikir bahwa aku sama sayangnya kepadanya.
            “Kitakan kembar. Jadi harus kompak dan saling menyayangi.” Itulah selalu kelakarnya yang tak lucu ketika membantuku. Aku justru merasa risih mendengar itu. Dan aku benci mendengar itu. Asal kalian tahu. Sebenarnya, aku tak terlalu membenci Nana. Sejatinya, di lubuk hatiku yang paling dalam, aku menyayanginya –walau sedikit. Aku membencinya hanya karena kami kembar. Hanya itu saja. Aku membencinya hanya ketika teman-teman kami berkata “kembar tapi beda.” Kalimat kontradiktif itu. Aku hanya membenci bagian itu saja.
            “Na, aku bosan menjadi kembar. Kau harus memilih. Aku atau kau yang harus mati? Agar tidak ada lagi yang kembar di antara kita.”
            “Jangan berkelakar, Re. kau masih seperti anak-anak saja. Kita sudah kelas dua belas, Re.” Nana hanya melambaikan tangannya. Berpikir bahwa aku hanya berkelakar. Lantas aku mengeluarkan pisau. Nana terkaget. Baru menyadari bahwa aku serius.
            “Re, sudah, Re. kenapa dengan dirimu?” Nana berkata dengan mata berkaca-kaca. Aku berpikir sejenak. Aku merasa ini hanyalah hal bodoh.
            “Ah! Sudahlah!” Aku melempar pisau itu. Dan Nana memelukku. Selanjutnya aku mencoba untuk menerima. Menerima bahwa kami itu kembar. Menerima bahwa dialah Rena yang super. Dan inilah aku Reni yang bodoh.
***
            Pagi itu aku berlari menuju ruangan dimana Nana di rawat. Aku ingin menunjukkan hasil kelulusanku. Aku berhasil menepati janjiku. Sejak Nana dirawat di RS aku berjanji padanya untuk belajar lebih giat, menunjukkan bahwa kami itu sama, sama-sama pintar, sama-sama baik.
            Tuhan berkehendak lain. Harapanku pupus. Aku mendengar tangisan mamih, aku melihat semua orang di kamar ini menangis. Tatapanku tertuju pada tempat tidur Nana, tubuh kurusnya kini tertutup kain. Aku melangkah gontai, derai air matapun berjatuhan layaknya hujan deras di atas lautan. “Na, kenapa tidak menungguku, setidaknya menungguku unutk menyampaikan kabar gembira ini? Kenapa Na?” teriakku dan mamih memelukku dengan lembut.
Kanker telah benar-benar memisahkan kami, membuang jauh pinang sebelah. Kini aku sendiri. Kini aku pinang dibelah dua yang sendiri. Ternyata kami tetap berbeda. “Na, kenapa penyakit ini kau emban sendiri? Bukankah kita kembar?” Tangisanku semakin deras. Kertas yang sedari tadi ku genggang kini robek dan basah.
            Selamat jalan Super Nana. Sejatinya, aku sangat menyayangimu. Selain inginku capai cita-citaku, akan ku raih pula impianmu, bukankah kita kembar?
Krapyak 08 Oktober 2014
(Dimuat di Majalah Bangkit edisi Desember 2014 dengan judul "Kontradiktif Pinang" -Edit)

No comments:

Post a Comment