“Pas jaman baheula
jasa. Allah marentahan Malaikat Jibril supaya ngajemput Nabi Muhammad pang tepang
sareng Allah.[1] Jarak yang mereka lalui yaitu dari Masjidil Haram di Mekah. Sampai ke
Masjidil Aqsa di Palestina. Lantas sampai ke Allah.” Pak Ujang bercerita.
Itulah triknya agar pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ini lebih menarik. Aku
memperhatikan takdzim.
“Jarakna sabaraha
asta?”[2] Salah seorang teman bertanya.
“Teubih jasa![3]
Tapi, Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril hanya butuh waktu satu malam. WUSH!!
Lebih cepat dari kecepatan cahaya!” Pak Ujang menirukan gerakan pesawat lewat
dengan tangan kanannya. Menambah ketakjuban kami.
“Naek apa, Pak? Kan
jaman segitu belum ada pesawat terbang?”
“Pertanyaan yang
cerdas! Mereka naik Buraq. Semacam binatang yang seperti kuda, tapi bukan kuda.
Badannya panjang. Cepat sekali larinya...” Tiba-tiba Arif muncul dari pintu
kelas sambil terengah-engah. Seragam putih merahnya berantakan. Sepertinya ia
berlari dari rumahnya. “... secepat larinya si arip!” Sontak seisi kelas
tertawa lepas.
“Tos timana anjeun
arip?”[4]
“Punteun,[5]
Pak. Hosh...hosh... Rumah abdi jauh. Saya berangkat jam tujuh kurang dari
rumah, Pak. Saya sudah berusaha lari. Tapi tetep telat. Maap, Pak!” Arif
bercerita dengan nafas tersengal.
“Kalau tak mau telat,
berlarilah seperti Buraq!” Seisi kelas kembali tertawa. Arif dipersilahkan
duduk. Ia duduk di sampingku. Wajahnya mengguratkan raut wajah jengkel. Namun,
selayaknya anak SD pada umumnya. Jengkel itu pudar selaras dengan berjalannya
waktu. Dan benar-benar hilang saat bel istirahat berbunyi.
***
Padang rumput hijau
nan indah terpapar di hadapanku. Pemandangan yang sangat indah. Aku tak tahu
tempat apa ini. Dan akupun tak tahu bagaimana aku bisa berada di tempat ini.
Seingatku, aku masih di kelas bersama Arif. Entahlah. Kawanan binatang sejenis
kuda –namun bukan kuda, berwarna putih dan berkaki empat berkumpul tak jauh
dari tempatku berdiri. Entah binatang apa itu. Ada tulisan arab yang tak asing tertulis di kening mereka. Sepayang
sayap mengepak tertempel di paha mereka. Unicorn? Pegasus? Entahlah. Mereka tak
terlihat seperti binatang mitos itu.
Seekor binatang
memisahkan diri dari kawanannya. Ia seperti menangis tersedu. Tak lama
kemudian, seseorang berjubah putih menghampirinya. Wajahnya tak terlihat jelas.
Terbias cahaya dibelakangnya.
“Mengapa kau menangis
wahai Buraq?” dengan halus orang itu bertanya. Seakan bertanya pada anak-anak
yang menangis di pinggir jalan kelaparan. “Uh! Buraq?” Batinku. Apa aku
tak salah dengar? Inikah Buraq yang diceritakan Pak Ujang?
“Aku sering sekali
mendengar nama Muhammad bin Abdullah. Namun, tak sedetikpun aku melihat
wajahnya. Rindu ini tak terperi padanya
wahai Jibril.” Buraq itu menjawab. “Uh! Jibril?” Batinku. Dunia apa ini?
Di mana sebenarnya aku?
“Baiklah. Aku akan
mempertemukanmu dengan Muhammad. Aku mendapat tugas bersama Mikail untuk
menjemputnya. Kau akan mengantarnya dari Haram ke Aqsa. Kau bisa menjadi
tunggangan yang cepat untuknya.” Mimik wajah Buraq berubah sumringah. Merasa
cukup. orang berjubah (Jibril) pergi meninggalkan Buraq.
Namun, sesaat setelah
Jibril pergi, Buraq kembali termenung. Ia teringat kata-kata “cepat” yang
diucapkan Jibril. Aku mencoba melangkah mendekatinya. Namun, langkahku terhenti
karena ada seorang lagi yang menghampiri Buraq tersebut. Aku mengernyitkan dahi
saat tahu siapa orang itu. Arif?
“Apa yang salah
denganmu Buraq?” Tanya Arif.
“Aku akan mengantar
Muhammad. Namun, Jibril memintaku untuk menjadi tunggangan yang cepat untuknya.
Namun, lariku tak secepat Buraq lainnya.” Arif tersenyum mendengar jawaban
Buraq.
“Baiklah Buraq.
Berlarilah bersamaku. Akan kuajari kau berlari sebanding, bahkan lebih cepat
dari mereka. Aku biasa melakukannya dari rumah ke sekolah.” Arif mengambil
ancang-ancang.
Awalnya, mereka hanya
berlari-lari kecil. Namun, setelah beberapa saat kecepatan mereka bertambah. Sehingga
aku tak dapat melihat gerakan mereka .
WUSH!!
Suasana kembali
gelap.
***
Perlahan, cahaya
kembali muncul dan menghiasi penglihatanku. Nampaknya, aku kenal tempat ini.
UKS. Bau obat segera memenuhi hidungku.
“Kumaha, Ji?”[6] Arif dengan tenang menanyaiku dari samping tempat tidur.
“Sakit sekali kepala
ini!” Aku memegangi kepalaku.
“Anjeun pingsan di
kelas tadi.[7]
Pak Ujang memintaku untuk membawamu ke UKS.”
Sesaat, aku teringat
sesuatu. “Aduh!”
“Aya naon Pauji?”[8] Arif panik mendengarku mengaduh.
“Surat titipan si
ambu kanggo bu guru katinggaleun di bumi. Padahal tadi ntos di duhureun meja.”[9] Aku mengutuk diriku sendiri. Arif hanya tersenyum melihatku mengaduh
“Tunggu sebentar!”
Arif mengambil ancang-ancang. Dan WUSH!! Larinya tak terlihat. Belum habis rasa
takjubku, Arif sudah kembali membawa surat yang kumaksud.
“Nih suratnya!” Arif
menyodorkan surat itu, “Ulah ditinggalkeun deui nya!”[10]
Aku tercengang.
Buraq? Lebih baik aku kembali pingsan. Buk!
Krapyak, 13 Mei 2015
(Dimuat di www.nu.or.id Sabtu 15 Mei 2015 -Isra MI'raj)
[1] “Waktu dulu sekali. Allah memerintahkan Malaikat Jibril dan Mikail
untuk menjemput Nabi Muhammad supaya bertemu dengan Allah.”
[2] “Jaraknya berapa meter?”
[3] “Jauh sekali...
[4] “Dari mana kamu Arif?”
[5] “Permisi...
[6] “Bagaiman, Ji?”
[7] “Kamu pingsan di kelas tadi...
[8] “Ada apa Pauji?”
[9] “Surat titipan ibuku untuk bu guru tertinggal di rumah. Padahal sudah
kutaruh di atas meja.”
[10] “Jangan di tinggalkan lagi yah!”
No comments:
Post a Comment