Tetesan,
demi tetesan merintik terjatuh menyerbu bumi. Memudarkan sedikit demi sedikit
warna kecoklatan aspal yang ditaburi debu-debu jalanan. Ciptakan genangan demi
genangan di sana sini. Pria dengan mantol hitam pekat memaksakan motornya
menerobos genangan yang membesar di jalanan. Terseok sedikit demi menghindari daerah yang tergenanag lebih dalam.
Lantas,kembali menancapkan gasnya. Ia memacu motornya secepat mungkin.Meninggalkan
kekhawatiran akan kerusakan mesin karena air.
Omelansang bos karena keterlambatan dirinya lebih menyeramkan untuk dibayangkan dari pada bayangan mesin motornya yan rusak.
Begitupula taksi yang berwarna oranye itu. Melaju
membelah genangan,di rintik yang semakin deras. Dengan cekatan,
tangan yang belasan tahun memegang stir itu menghindari genangan.Setelah
didesak si penumpang dan setelah iming-iming
ongkos tambahan tentunya.
“Ayo, Pak. Pesawat saya akan
berangkat 15 menit lagi!”
Dengan brutal, sedan Timordari arah berlawanan tak sempat memelankan
kecepatannya saat bertemu dengan genangan besar itu.Menciptakan cipratan yang
mengenai segerombolan anak-anak sekolah. Mereka nekat membelah hujan,setelah tak kuat menahan perut yang mulai konser. Yang terkena cipratan berhenti sambil
memaki. Yang lainnya tertawa meledeki. Tak sadar seragam yang mereka gunakan
juga mulai basah ditetesi air hujan yang semakin deras. Tak jauh berbeda dengan
yang ditertawakan. Tawa mereka lepas. Selepas awan jenuh yang membebaskan
bebannya. Mengeluarkan tetesan, demi tetesan hujan di rabu siang. tak seperti
aku, yang terdesak beban. Namun tak bisa melepaskannya. Tak bisa selepas awan.
Tak mampu selepas mereka dengan logo ‘OSIS’ di kantung seragam mereka.
Ujung
mataku menangkap sesuatu. Seorang anak kecil. Lusuh. Menatap tegun tetesan air
yang terjatuh harmonis. Jongkok di pojokan toko kelontong –tempatnya berteduh
seorang diri. Menahan air dengan menengadahkan telapaknya. Ah, sudahlah. Hanya
anak kecil. Batinku.
Hujan
mulai reda. Aku melompat menghindari genangan.
Tak peduli meninggalkan anak itu
***
Hari berganti.
“Aduh!”
aku menepuk dahiku. Jarum panjang di jam tanganku sudah bergerak lima belas
menit dari waktu yang aku dan Rinasepakati. Ia merupakan temanku sewaktu SMA
dulu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali bertemu dengannya. Sekalinya
bertemu, ia mengajak percetakanku bekerjasama dengan perusahan advertisement
yang dipegangnya. Ini kesempatan bagi percetakanku untuk selangkahlebih maju.
Aku
terjebak oleh tetesan hujan yang jatuh bergerombol dari langit yang tadinya
terang benderang di kamis siang. Lagi. Di tempat yang sama seperti kemarin. “Oh
hujan! Kenapa kau harus turun di saat seperti ini? Merusak saja!” gerutuku.
Jengkel.
Aku berteduhdi depan toko kelontong, yang sama letaknya. Dengan tetesan, yang
sama derasnya. Anak yang sama lugunya. Dengan baju, yang sama lusuhnya.
Tatapan, yang sama tegunnya. Posisi, yang sama pojoknya. Tangan, yang sama
menjulurnya. Dan melakukan hal, yang sama percisnya. Menahan tetesan hujan. . Kali ini, ia terlihat lebih bahagia. Teramat
sangat bahagia bahkan. Ia bahagia merasakan tetesan hujan yang dingin membasahi
telapak tangannya.“Hey, apa yang ia lakukan?” batinku.
“Dek, kamu ngapain?” Aku mencoba
memanggilnya.
Namun,
tatapannya tak berubah sesentipun. Ia hanya mengernyitkan dahi sejenak. Lantas,
kembali terheran dengan tetesan hujannya. Tak sederajatpun menoleh. Sejenak, ada
yang aneh dari gerak geriknya. Tangannya bagai menggapai udara. Aku mengibaskan
tanganku di depan matanya. Tatapannya tetap kosong. Ternyata ia buta. Namun,
lihatlah! Anak itu masih bisa tersenyum bahagia. Bermain dengan tetesan hujan
di tangannya. Dengan segala kekurangan yang dimilikinya. Dengan segala beban
yang harus ia pikul dengan keterbelakangannya. Ia masih bisa merasa bahagia.
Hanya sekedarbermain dengan tetesan air hujan dari atap toko klontong itu.
Bahagia dengan hujan . Sedangkan aku? Aku hanya bisa mengeluh dan menggerutu
atas hujan ini. Menggerutu atas niat tuhan ini. Hanya karena aku tak bisa
bertemu dengan Rina.
Handphoe
ku berdering. Rina.
“Halo, Ishkar? Maaf, Kar. Sepertinya
aku akan telat datang ke kafe. Aku terjebak hujan!” Suaranya terdengar
bersahutan dengan suara hujan.
“Oh, ia, Rin. Memangnya kamu
terjebak hjujan di mana?” motor 4 tak yang dikendarai ugal-ugalan melintas di
depanku. Suarnya menggerung mengganggu pendengaranku.
“Aku… di jalan… ha…ji… su.. Di toko
Roti Bu…” Suara Rina tak terdengar penuh oleh telingaku.
“Halo? Di mana, Rin? Maaf, gak’
terlalu kedengeran” aku melihat papan nama jalan di ujung jalan. ‘Jl. H.
Surwo’ juga toko roti di seberang jalan ‘Budi Roti.’
“Ia, Kar. Aku di Jalan Haji
Surwo. Toko roti Budi.”
Uh?
Astaga. Hatiku berdebar entah. Ternyata hujan bukanlah penghambat bagi
pertemuanku dengan Rina. Melainkan memudahkanku untuk bertemu dengan Rina
segera.
“Halo, Ishkar?”
“Oh, iya, Rin. Aku juga sedang di
dekat situ. Nanti aku ke sana.” Telpon ditutup setelah satu dua kalimat. Ujung
mataku kembali menangkap sesuatu. Anak itu. Masih tertawa riang bermain dengan
tetesan hujannya. Aku tersenyum.
“Hey, Ishkar. Senyum-senyum sendiri.
Ngeliatin apa?” Rina memecah fokusku.
“Anak kecil itu.” Aku menunjuk.
“Anak yang mana? Aneh, deh.”
“Itu. Di…” Hilang. Anak kecil itu
ternyata tak adala lagi di tempatnya. Uh?
***
Anak
itu kembali jongkok di depan toko kelontong itu. Lagi. Masih bermain dengan
tetesan hujan. Masih bahagia. Namun kali ini, ia tersenyum kepadaku.
“Hai, kak!”
--End--
Krapyak,
21 Januari 2015
No comments:
Post a Comment