Monday, June 22, 2015

Anak Tetesan Hujan

Tetesan, demi tetesan merintik terjatuh menyerbu bumi. Memudarkan sedikit demi sedikit warna kecoklatan aspal yang ditaburi debu-debu jalanan. Ciptakan genangan demi genangan di sana sini. Pria dengan mantol hitam pekat memaksakan motornya menerobos genangan yang membesar di jalanan. Terseok sedikit demi menghindari daerah yang tergenanag lebih dalam. Lantas,kembali menancapkan gasnya. Ia memacu motornya secepat mungkin.Meninggalkan kekhawatiran akan kerusakan mesin karena air. Omelansang bos karena keterlambatan dirinya lebih menyeramkan untuk dibayangkan dari pada bayangan mesin motornya yan rusak.
Begitupula taksi yang berwarna oranye itu. Melaju membelah genangan,di rintik yang semakin deras. Dengan cekatan, tangan yang belasan tahun memegang stir itu menghindari genangan.Setelah didesak si penumpang dan setelah iming-iming ongkos tambahan tentunya.

            “Ayo, Pak. Pesawat saya akan berangkat 15 menit lagi!”
Dengan brutal, sedan Timordari arah berlawanan tak sempat memelankan kecepatannya saat bertemu dengan genangan besar itu.Menciptakan cipratan yang mengenai segerombolan anak-anak sekolah. Mereka nekat membelah hujan,setelah tak kuat menahan perut yang mulai konser. Yang terkena cipratan berhenti sambil memaki. Yang lainnya tertawa meledeki. Tak sadar seragam yang mereka gunakan juga mulai basah ditetesi air hujan yang semakin deras. Tak jauh berbeda dengan yang ditertawakan. Tawa mereka lepas. Selepas awan jenuh yang membebaskan bebannya. Mengeluarkan tetesan, demi tetesan hujan di rabu siang. tak seperti aku, yang terdesak beban. Namun tak bisa melepaskannya. Tak bisa selepas awan. Tak mampu selepas mereka dengan logo ‘OSIS’ di kantung seragam mereka.
Ujung mataku menangkap sesuatu. Seorang anak kecil. Lusuh. Menatap tegun tetesan air yang terjatuh harmonis. Jongkok di pojokan toko kelontong –tempatnya berteduh seorang diri. Menahan air dengan menengadahkan telapaknya. Ah, sudahlah. Hanya anak kecil. Batinku.
Hujan mulai reda. Aku melompat menghindari genangan. Tak peduli meninggalkan anak itu
***
Hari berganti.
“Aduh!” aku menepuk dahiku. Jarum panjang di jam tanganku sudah bergerak lima belas menit dari waktu yang aku dan Rinasepakati. Ia merupakan temanku sewaktu SMA dulu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali bertemu dengannya. Sekalinya bertemu, ia mengajak percetakanku bekerjasama dengan perusahan advertisement yang dipegangnya. Ini kesempatan bagi percetakanku untuk selangkahlebih maju.
Aku terjebak oleh tetesan hujan yang jatuh bergerombol dari langit yang tadinya terang benderang di kamis siang. Lagi. Di tempat yang sama seperti kemarin. “Oh hujan! Kenapa kau harus turun di saat seperti ini? Merusak saja!” gerutuku.
Jengkel. Aku berteduhdi depan toko kelontong, yang sama letaknya. Dengan tetesan, yang sama derasnya. Anak yang sama lugunya. Dengan baju, yang sama lusuhnya. Tatapan, yang sama tegunnya. Posisi, yang sama pojoknya. Tangan, yang sama menjulurnya. Dan melakukan hal, yang sama percisnya. Menahan tetesan hujan.  . Kali ini, ia terlihat lebih bahagia. Teramat sangat bahagia bahkan. Ia bahagia merasakan tetesan hujan yang dingin membasahi telapak tangannya.“Hey, apa yang ia lakukan?” batinku.
            “Dek, kamu ngapain?” Aku mencoba memanggilnya.
Namun, tatapannya tak berubah sesentipun. Ia hanya mengernyitkan dahi sejenak. Lantas, kembali terheran dengan tetesan hujannya. Tak sederajatpun menoleh. Sejenak, ada yang aneh dari gerak geriknya. Tangannya bagai menggapai udara. Aku mengibaskan tanganku di depan matanya. Tatapannya tetap kosong. Ternyata ia buta. Namun, lihatlah! Anak itu masih bisa tersenyum bahagia. Bermain dengan tetesan hujan di tangannya. Dengan segala kekurangan yang dimilikinya. Dengan segala beban yang harus ia pikul dengan keterbelakangannya. Ia masih bisa merasa bahagia. Hanya sekedarbermain dengan tetesan air hujan dari atap toko klontong itu. Bahagia dengan hujan . Sedangkan aku? Aku hanya bisa mengeluh dan menggerutu atas hujan ini. Menggerutu atas niat tuhan ini. Hanya karena aku tak bisa bertemu dengan Rina.
Handphoe ku berdering. Rina.
            “Halo, Ishkar? Maaf, Kar. Sepertinya aku akan telat datang ke kafe. Aku terjebak hujan!” Suaranya terdengar bersahutan dengan suara hujan.
            “Oh, ia, Rin. Memangnya kamu terjebak hjujan di mana?” motor 4 tak yang dikendarai ugal-ugalan melintas di depanku. Suarnya menggerung mengganggu pendengaranku.
            “Aku… di jalan… ha…ji… su.. Di toko Roti Bu…” Suara Rina tak terdengar penuh oleh telingaku.
            “Halo? Di mana, Rin? Maaf, gak’ terlalu kedengeran” aku melihat papan nama jalan di ujung jalan. ‘Jl. H. Surwo’ juga toko roti di seberang jalan ‘Budi Roti.’
            “Ia, Kar. Aku di Jalan Haji Surwo. Toko roti Budi.
Uh? Astaga. Hatiku berdebar entah. Ternyata hujan bukanlah penghambat bagi pertemuanku dengan Rina. Melainkan memudahkanku untuk bertemu dengan Rina segera.
            “Halo, Ishkar?”
            “Oh, iya, Rin. Aku juga sedang di dekat situ. Nanti aku ke sana.” Telpon ditutup setelah satu dua kalimat. Ujung mataku kembali menangkap sesuatu. Anak itu. Masih tertawa riang bermain dengan tetesan hujannya. Aku tersenyum.
            “Hey, Ishkar. Senyum-senyum sendiri. Ngeliatin apa?” Rina memecah fokusku.
            “Anak kecil itu.” Aku menunjuk.
            “Anak yang mana? Aneh, deh.”
            “Itu. Di…” Hilang. Anak kecil itu ternyata tak adala lagi di tempatnya. Uh?
***
Anak itu kembali jongkok di depan toko kelontong itu. Lagi. Masih bermain dengan tetesan hujan. Masih bahagia. Namun kali ini, ia tersenyum kepadaku.
            “Hai, kak!”
--End--

Krapyak, 21 Januari 2015

No comments:

Post a Comment