Eh,
Japran! Bini lo pingsan di Tanah Abang. Bini sakit lo suruh beli takjil!” suara
Mpok Lela dari jendela rumah kami memecah konsentrasi suamiku saat menonton
televisi.
“Si Nia pinsan, Mpok? Trus Mpok bawa
ke mana?” Mpok Lela menyebutkan salah satu tempat. Dengan tergesa, Bang Zafran suamiku mengikuti
jejak langkah Mpok Lela menyusuri gang demi gang. Meninggalkan pria berpeci hitam
sendirian dalam televisi. Menyampaikan
kata demi kata tausiah Ramadhan.
Sungguh, tak ada yang kuingat
bagaimana aku bisa pingsan tadi –Apa karena memang biasanya orang pingsan sealu
seperti itu? Seingatku sore ini Bang Zafran sedang ingin berbuka puasa dengan
kolak. Lantas, tentu saja ia menyuruhku untuk menyiapkannya.
“Nia, Abang lagi pengen buka sama
kolak. Siapin ya,Neng!”
“Maaf, Bang. Neng gak bisa bikinnya.” Aku menggaruk kepala
yang tak gatal. “Nia beli di Tanah Abang aja ya, Bang?”
“Terserah Neng aja. Apa aja Abang mah doyan.” Setelah satu-dua kalimat,
akhirnya akupun pergi ke Tanah Abang.
Tak kusangka. Ternyata Tanah Abang
lebih ramai dari yang aku kira. Sesak oleh orang-orang yang berlalu-lalang,
hilir-mudik, jual-beli takjil. Sekali duakali bergurai sesama penjual gorengan
dengan bahasa Jowo yang kental. Saling
bertukar tanggal mudik ke kampung. Tak sabar menanti senyuman anak istri yang
menanti di kampung sana. Lautan manusia memeuhi area Tanah Abang.
Rupanya, bukan hanya para pedagang
takjil saja yang memenuhi Tanah Abang. Tak jauh dari keramaian, orang-orang dengan
baju yang sama membagikan takjil gratis. Satu dua membawa kardus berisikan
kolak. Sisanya membagikan kolak tersebut pada warga sekitar. “Mari, Pak, Bu, takjil
gratis untuk buka puasa!” ujar mereka sambil membagikan takjil tersebut. “Eh,
takjil gratis?” Batinku. Seketika aku teringat akan suat hal. Tiba-tiba badanku
mulai bergetar. Lemas menjalari tubuhku. Pandangaku mendadak pudar. “Buk!” aku
tak ingat apapun sampai aku terbaring di sini. Tak lama kemudian, Bang Zafran
tiba bersama Mpok Lela.
“Kamu kenapa, Neng? Sakit kok gak
bilang-bilang? Maafin Abang, Neng.” Bang Zafran mendekatiku.
“Neng gak tau, Bang. Abis liat orang rame-rame, tiba-tiba aja Neng pusing.
Trus Neng gak inget apa-apa lagi. Pingsan
gitu aja, Bang.”
“Kamu Agoraphobia[1],
Neng? Kok gak cerita-cerita ke Abang? Suamimu ini kan dokter, Neng. Percuma
aja Abang bantu nyembuhin banyak orang, kalau perempuan yang Abang sayang
sendiri malah sakit, Neng?” Mendengar kalimat Bang Zafran, kesedihankupun
pecah. Air mata meleleh di pipiku. Sontak aku memeluknya.
“Maafin Nia, Bang.” Bang Zafran
membalas pelukanku dan mencoba menenangkanku. “Nanti cerita ke Abang ya, Neng.
Abang seneng, kok bisa bantu kamu,
Neng.” Aku mengangguk dalam tangis.
Saat itulah. Potongan masa lalu yang
terkuubur dalam senyap muncul di permukaan. Kenangan yang tela usang kembali
dihadirkan. Kenangan yang selama 15 tahun ini berhasil kukunci rapat. Hari ini
akan terbuka kembali di hadapan laki-laki yang kucintai.
***
“Nia, jangan jauh-jauh ya
ngabuburitnya, Nak!” Mamah mengingatkan pada diriku 15 tahun lalu.
“Ia, Mah. Paling maen sama
temen-temen di gang.” Setelah satu-dua kalimat lagi akupun meninggalkan rumah. Tanpa
beban menyusuri gang demi gang daerah rumahku.
Di ujung gang, aku melihat seorang
anak laki-laki dengan ibunya yang membawa baskom. “Kolak! Kolak!” Teriak mereka
dari rumah ke rumah. Tak berselang lama si anak sadar bahwa aku memperhatikan
mereka.
“Kamu mau beli kolak?” Tanya si anak
dengan wajah riang menawarkan jualannya.
“Eh, eng.. enggak. Aku cuman mau
lewat.” Balas ku. Anak itu hanya ber- “Oh” sejenak dengan muka murung.
“Aku gak pernah liat kamu. Kamu bukan
dari kampung ini ya?” Aku coba bertanya demi mengembalikan keriangan anak itu.
“Ia. Aku anak kampung sebelah. Susah
sekali berjualan kolak di sini. Kenapa Ramadhan ini jarang yang beli kolak ya?”
Wajah lusuhnya berubah kecewa. Aku hanya
menggeleng. “Entah”
“Oia.
Perkenalkan namaku Rahmat.” Ia menjulurkan tangannya.
“Namaku
Husnia. Panggil saja Nia.” Aku menjabat tangannya. Setelah percakapan kecil
dengan ibunya Rahmat, akhirnya kami bisa main sekaligus menunggu kumandang
adzan bersama. Inilah awal permulaan pertemuanku dengan Rahmat. Sekaligus awal
dari kisah itu.
Setelah
hari itu. Kami selalu menghabiskan waktu senja bersama. Entah hanya dengan percakapan-percakapan
kanak-kanak, berlarian di sepanjang gang, atau hanya sekedar berlomba mencari orang
yang menggunakan baju warna apalah di keramaian hilir-mudik suasana orang-orang
berjualan takjil.
“Ibu
kamu kenapa gak jualan di sini aja, Rahmat? Kan enak di sini. Ramai.” Aku mencoba
untuk memberikan ide itu.
“Maunya,
sih gitu, Nia. Justru karena ramenya
ini. Kita kalah saing. Kita pernah nyoba jualan di sini. Tapi gak laku. Uangnya
malah habis untuk bayar uang keamanan. Yasudahlah. Kami terpaksa mencoba untuk
berkeliling saja yang tak harus bayar pajak. Tapi tetap saja susah. Semua orang
ya pada kesini,” Rahmat hanya tersenyum tipis.
“Ayo,
takjil gratis! Takjil gratis!” Kakak-kakak berpakaian sama berteriak membagikan
kolak gratis tak jauh dari tempat kami duduk. Mendadak suasana ramai
menghampiri rombongan kakak-kakak itu. Orang-orang berpakaian lusuh berebut
untuk mendapatkan takjil tersebut. Tak sedikit yang langsung makan di tempat. Padahal
kumandang adzan masih sekitar 1 jam.
“Kamu
mau kolak, Nia?” Rahmat bertanya padaku.
“Mau
sih. Tapi itu rame banget, Rahmat. Nanti kamu desak-desakan.”
“Aku
sih biasa, Nia. Kamu tunggu di sini ya.” Aku hanya mengangguk.
Berselang
setengah jam. Ternyata keramaian “Takjil Gratis” bukan hanya menjadi keramaian.
Para pedagang yang merasa pembelinya mulai menghilang merasa tak terima. Orang-orang
yang tadinya akan membeli dagangan mereka menjadi berbalik untuk mengambil
takjil gratis. Kericuhanpun tak terhindarkan.
“Woi
sakit!”, “Woi ada anak-anak! Anak-anak duluan!”, “Mbak, ini ada ibu-ibu! Ibu-ibu
dulu!”, “Ada yang pingsan woi!” teriakan terdengar memnuhi langit ibu kota. Sungguh
potret kemiskinan ibu kota. Hanya demi “Takjil Gratis” yang harganya tak
seberapa. Akupun tak melihat batang hidungnya Rahmat. Sudah hampir satu jam ia
berdesak-desakan dalam keramaian. Aku sangat khawatir. Tak lama kemudian, akhirnya
kekhawatirankupun terjawab.
“Nia!
Aku dapat!” Rahmat mengangkat dua bungkus kolak dari keramaian. Badannya masih
terjepit. Hanya terlihat kepla dan tangan kanannya.
Itulah
saat terakhirkalinya aku melihat Rahmat. Kericuhan semakin membesar. Para pedagang
yang tak sabar melempari kakak-kakak dengan batu dan barang-barang disekitar
mereka. Bahkan ada yang mendekat dan memukul-mukulkan balok kayu ke arah
mereka. Korban salah lempar mulai berjatuhan. Aku. Aku hanya terduduk kaku
diantara puluhan batu yang berterbangan diatasku. Begitu juga Rahmat. Saat ia
mencoba untuk keluar dari keramaian, Rahmat terjepit. Nafasnya sesak. Keseimbangannya
lelah. Iapun terjatuh. Wajahnya lebam terinjak oleh puluhan orang yang mulai
ricuh. Darah mengucur dari pelipis kanannya. Lebam itu membuat matanya hanya
terbuka sebelah. Badanya yang kecil menjadi pijakan orang-orang. Tangannya menjulur
kearahku. Aku hanya diam kaku. Tak mampu melakukan apapun. “Nia! Tolong!!!”
Mulutnya berucap. Terbuka tak bersuara. Lagi. Aku hanya bisa menangis. Melihat tubuh
Rahmat yang sudah tak terlihat lagi. Digantikan deru langkah kaki yang ricuh
pergi ke segala arah.
“Puk!”
Sebongkah batu menghantam pelipis kananku. Pandaganku buram. Akhirnya suasana
menjadi gelap. Akupun tak sadarkan diri. 15 tahun kenangan suram itu aku pendam.
Aku mencoba untuk melupakan kericuhan itu. Melupakan segalanya. Rahmat. Mengunci
rapat-rapat segalanya. 15 tahun aku berhasil menguncinya. Namun, rupanya
kenangan itu sangat kuat. Hari ini ia berhasil mendobrak pintu yang ku kunci. Kenangan
itu muncul di depan suamiku.
“Abang
gak tau ternyata kamu punya trauma sekelam
itu, Neng. Maafin Abang. Bang Zafran kembali memelukku.” Aku membalas peluknya
dan kembali mengangguk dalam tangis.
***
“Tok!
Tok! Tok!” Suara ketukan terdengar dari pintu rumah kami. “Nia yang bukain,
Bang.”
Setelah
kubuka, berdirilah seorang lelaki di depanku. Sepertinya ia seumuranku. Wajahnya
senang seperti habis menang lotre. “Cari siapa ya, Mas?”
“Nia.
Ini Nia?” Aku mengangguk perlahan tak mengerti. “Susah sekali mencarimu Nia. 15
tahun lamanya aku mencarimu, Nia. Rupanya bahkan kau masih berada di Ibu kota.”
Wajah tirusnya terlihat girang. “Siapa ya, Mas?” Aku mengernyitkan dahi.
“Aku
Rahmat! Teman ngabuburitmu dulu.” Sontak aku terkaget.
“Bang
Zafran!” Aku berteriak sebisaku. “Buk!” suasana kembali gelap.
Krapyak,
22 Juni 2015
No comments:
Post a Comment