Monday, June 22, 2015

Takjil Gratis Rahmat

Eh, Japran! Bini lo pingsan di Tanah Abang. Bini sakit lo suruh beli takjil!” suara Mpok Lela dari jendela rumah kami memecah konsentrasi suamiku saat menonton televisi.
            “Si Nia pinsan, Mpok? Trus Mpok bawa ke mana?” Mpok Lela menyebutkan salah satu tempat.  Dengan tergesa, Bang Zafran suamiku mengikuti jejak langkah Mpok Lela menyusuri gang demi gang. Meninggalkan pria berpeci hitam sendirian dalam televisi. Menyampaikan kata demi kata tausiah Ramadhan.

            Sungguh, tak ada yang kuingat bagaimana aku bisa pingsan tadi –Apa karena memang biasanya orang pingsan sealu seperti itu? Seingatku sore ini Bang Zafran sedang ingin berbuka puasa dengan kolak. Lantas, tentu saja ia menyuruhku untuk menyiapkannya.
            “Nia, Abang lagi pengen buka sama kolak. Siapin ya,Neng!”
            “Maaf, Bang. Neng gak bisa bikinnya.” Aku menggaruk kepala yang tak gatal. “Nia beli di Tanah Abang aja ya, Bang?”
            “Terserah Neng aja. Apa aja Abang mah doyan.” Setelah satu-dua kalimat, akhirnya akupun pergi ke Tanah Abang.
            Tak kusangka. Ternyata Tanah Abang lebih ramai dari yang aku kira. Sesak oleh orang-orang yang berlalu-lalang, hilir-mudik, jual-beli takjil. Sekali duakali bergurai sesama penjual gorengan dengan bahasa Jowo yang kental. Saling bertukar tanggal mudik ke kampung. Tak sabar menanti senyuman anak istri yang menanti di kampung sana. Lautan manusia memeuhi area Tanah Abang.
            Rupanya, bukan hanya para pedagang takjil saja yang memenuhi Tanah Abang. Tak jauh dari keramaian, orang-orang dengan baju yang sama membagikan takjil gratis. Satu dua membawa kardus berisikan kolak. Sisanya membagikan kolak tersebut pada warga sekitar. “Mari, Pak, Bu, takjil gratis untuk buka puasa!” ujar mereka sambil membagikan takjil tersebut. “Eh, takjil gratis?” Batinku. Seketika aku teringat akan suat hal. Tiba-tiba badanku mulai bergetar. Lemas menjalari tubuhku. Pandangaku mendadak pudar. “Buk!” aku tak ingat apapun sampai aku terbaring di sini. Tak lama kemudian, Bang Zafran tiba bersama Mpok Lela.
            “Kamu kenapa, Neng? Sakit kok gak bilang-bilang? Maafin Abang, Neng.” Bang Zafran mendekatiku.
            “Neng gak tau, Bang. Abis liat orang rame-rame, tiba-tiba aja Neng pusing. Trus Neng gak inget apa-apa lagi. Pingsan gitu aja, Bang.”
            “Kamu Agoraphobia[1], Neng? Kok gak cerita-cerita ke Abang? Suamimu ini kan dokter, Neng. Percuma aja Abang bantu nyembuhin banyak orang, kalau perempuan yang Abang sayang sendiri malah sakit, Neng?” Mendengar kalimat Bang Zafran, kesedihankupun pecah. Air mata meleleh di pipiku. Sontak aku memeluknya.
            “Maafin Nia, Bang.” Bang Zafran membalas pelukanku dan mencoba menenangkanku. “Nanti cerita ke Abang ya, Neng. Abang seneng, kok bisa bantu kamu, Neng.” Aku mengangguk dalam tangis.
            Saat itulah. Potongan masa lalu yang terkuubur dalam senyap muncul di permukaan. Kenangan yang tela usang kembali dihadirkan. Kenangan yang selama 15 tahun ini berhasil kukunci rapat. Hari ini akan terbuka kembali di hadapan laki-laki yang kucintai.
***
            “Nia, jangan jauh-jauh ya ngabuburitnya, Nak!” Mamah mengingatkan pada diriku 15 tahun lalu.
            “Ia, Mah. Paling maen sama temen-temen di gang.” Setelah satu-dua kalimat lagi akupun meninggalkan rumah. Tanpa beban menyusuri gang demi gang daerah rumahku.
            Di ujung gang, aku melihat seorang anak laki-laki dengan ibunya yang membawa baskom. “Kolak! Kolak!” Teriak mereka dari rumah ke rumah. Tak berselang lama si anak sadar bahwa aku memperhatikan mereka.
            “Kamu mau beli kolak?” Tanya si anak dengan wajah riang menawarkan jualannya.
            “Eh, eng.. enggak. Aku cuman mau lewat.” Balas ku. Anak itu hanya ber- “Oh” sejenak dengan muka murung.
            “Aku gak pernah liat kamu. Kamu bukan dari kampung ini ya?” Aku coba bertanya demi mengembalikan keriangan anak itu.
            “Ia. Aku anak kampung sebelah. Susah sekali berjualan kolak di sini. Kenapa Ramadhan ini jarang yang beli kolak ya?” Wajah lusuhnya berubah kecewa. Aku hanya  menggeleng. “Entah”
“Oia. Perkenalkan namaku Rahmat.” Ia menjulurkan tangannya.
“Namaku Husnia. Panggil saja Nia.” Aku menjabat tangannya. Setelah percakapan kecil dengan ibunya Rahmat, akhirnya kami bisa main sekaligus menunggu kumandang adzan bersama. Inilah awal permulaan pertemuanku dengan Rahmat. Sekaligus awal dari kisah itu.
Setelah hari itu. Kami selalu menghabiskan waktu senja bersama. Entah hanya dengan percakapan-percakapan kanak-kanak, berlarian di sepanjang gang, atau hanya sekedar berlomba mencari orang yang menggunakan baju warna apalah di keramaian hilir-mudik suasana orang-orang berjualan takjil.
“Ibu kamu kenapa gak jualan di sini aja, Rahmat? Kan enak di sini. Ramai.” Aku mencoba untuk memberikan ide itu.
“Maunya, sih gitu, Nia. Justru karena ramenya ini. Kita kalah saing. Kita pernah nyoba jualan di sini. Tapi gak laku. Uangnya malah habis untuk bayar uang keamanan. Yasudahlah. Kami terpaksa mencoba untuk berkeliling saja yang tak harus bayar pajak. Tapi tetap saja susah. Semua orang ya pada kesini,” Rahmat hanya tersenyum tipis.
“Ayo, takjil gratis! Takjil gratis!” Kakak-kakak berpakaian sama berteriak membagikan kolak gratis tak jauh dari tempat kami duduk. Mendadak suasana ramai menghampiri rombongan kakak-kakak itu. Orang-orang berpakaian lusuh berebut untuk mendapatkan takjil tersebut. Tak sedikit yang langsung makan di tempat. Padahal kumandang adzan masih sekitar 1 jam.
“Kamu mau kolak, Nia?” Rahmat bertanya padaku.
“Mau sih. Tapi itu rame banget, Rahmat. Nanti kamu desak-desakan.”
“Aku sih biasa, Nia. Kamu tunggu di sini ya.” Aku hanya mengangguk.
Berselang setengah jam. Ternyata keramaian “Takjil Gratis” bukan hanya menjadi keramaian. Para pedagang yang merasa pembelinya mulai menghilang merasa tak terima. Orang-orang yang tadinya akan membeli dagangan mereka menjadi berbalik untuk mengambil takjil gratis. Kericuhanpun tak terhindarkan.
“Woi sakit!”, “Woi ada anak-anak! Anak-anak duluan!”, “Mbak, ini ada ibu-ibu! Ibu-ibu dulu!”, “Ada yang pingsan woi!” teriakan terdengar memnuhi langit ibu kota. Sungguh potret kemiskinan ibu kota. Hanya demi “Takjil Gratis” yang harganya tak seberapa. Akupun tak melihat batang hidungnya Rahmat. Sudah hampir satu jam ia berdesak-desakan dalam keramaian. Aku sangat khawatir. Tak lama kemudian, akhirnya kekhawatirankupun terjawab.
“Nia! Aku dapat!” Rahmat mengangkat dua bungkus kolak dari keramaian. Badannya masih terjepit. Hanya terlihat kepla dan tangan kanannya.
Itulah saat terakhirkalinya aku melihat Rahmat. Kericuhan semakin membesar. Para pedagang yang tak sabar melempari kakak-kakak dengan batu dan barang-barang disekitar mereka. Bahkan ada yang mendekat dan memukul-mukulkan balok kayu ke arah mereka. Korban salah lempar mulai berjatuhan. Aku. Aku hanya terduduk kaku diantara puluhan batu yang berterbangan diatasku. Begitu juga Rahmat. Saat ia mencoba untuk keluar dari keramaian, Rahmat terjepit. Nafasnya sesak. Keseimbangannya lelah. Iapun terjatuh. Wajahnya lebam terinjak oleh puluhan orang yang mulai ricuh. Darah mengucur dari pelipis kanannya. Lebam itu membuat matanya hanya terbuka sebelah. Badanya yang kecil menjadi pijakan orang-orang. Tangannya menjulur kearahku. Aku hanya diam kaku. Tak mampu melakukan apapun. “Nia! Tolong!!!” Mulutnya berucap. Terbuka tak bersuara. Lagi. Aku hanya bisa menangis. Melihat tubuh Rahmat yang sudah tak terlihat lagi. Digantikan deru langkah kaki yang ricuh pergi ke segala arah.
“Puk!” Sebongkah batu menghantam pelipis kananku. Pandaganku buram. Akhirnya suasana menjadi gelap. Akupun tak sadarkan diri. 15 tahun kenangan suram itu aku pendam. Aku mencoba untuk melupakan kericuhan itu. Melupakan segalanya. Rahmat. Mengunci rapat-rapat segalanya. 15 tahun aku berhasil menguncinya. Namun, rupanya kenangan itu sangat kuat. Hari ini ia berhasil mendobrak pintu yang ku kunci. Kenangan itu muncul di depan suamiku.
“Abang gak tau ternyata kamu punya trauma sekelam itu, Neng. Maafin Abang. Bang Zafran kembali memelukku.” Aku membalas peluknya dan kembali mengangguk dalam tangis.
***
“Tok! Tok! Tok!” Suara ketukan terdengar dari pintu rumah kami. “Nia yang bukain, Bang.”
Setelah kubuka, berdirilah seorang lelaki di depanku. Sepertinya ia seumuranku. Wajahnya senang seperti habis menang lotre. “Cari siapa ya, Mas?”
“Nia. Ini Nia?” Aku mengangguk perlahan tak mengerti. “Susah sekali mencarimu Nia. 15 tahun lamanya aku mencarimu, Nia. Rupanya bahkan kau masih berada di Ibu kota.” Wajah tirusnya terlihat girang. “Siapa ya, Mas?” Aku mengernyitkan dahi.
“Aku Rahmat! Teman ngabuburitmu dulu.” Sontak aku terkaget.
“Bang Zafran!” Aku berteriak sebisaku. “Buk!” suasana kembali gelap.
Krapyak, 22 Juni 2015




[1] Takut akan keramaian

No comments:

Post a Comment