Apakah
benar hidup adalah pilihan? Apakah manusia benar-benar diberikan hak untuk
memilih segala urusannya? Lantas, apakah gunanya takdir? Lalu, apa yang terjadi
jika manusia salah memilih?
Bus
yang kutumpangi merupakan bus yang jauh dari kata nyaman. Memang karena bukan
kenyamanan penumpang yang diprioritaskan. Melainkan kedatangan penumpang yang
menjadi nomor wahid. Perjalanan pulangku ini merupakan perjalanan yang penuh
dengan konflik batin setelah berkutat lama dengan pertanyaan
“Hidup&pilihan.” Keluargaku di Semarang tentu melebarkan tangan, menyambut
dengan senang hati putrinya pulang dari Jogja. Semua masalah ini bermulai,
sejak aku lulus SMA.
***
Mamih
sedang duduk sambil membaca majalah di ruang tengah. Ditemani secangkir teh yang
masih mengepulkan asap. Aku malu-malu mendekati mamih. Ingin membicarakan
seputar kelanjutan pendidikanku selepas lulus nanti. Kelulusanku tak ada
hitungan bulan dari sekarang.
“Mih!”
Sapaku dengan halus. Aku mencoba
untuk menarik perhatian mamih sepenuhnya. “Ya!”
“Gea
harus sekolah di mana setelah lulus nanti, Mih?” Aku bertanya dengan harap.
“Loh?
Bukannya papihmu sudah bilang? Kamu akan disekolahkan di luar negri bersama
Prisca. Sekolah Ekonomi. Kamu akan ditempatkan di perusahaan papahnya Prisca
setelah lulus nanti. Itu sudah dibahas jauh-jauh hari, Gea.” Mamih menutup
majalahnya.
“Aku
tau, Mih. Tapi makusudku, bagaimana dengan pilihanku?”
“Pilihan? Memangnya pilihan kamu di mana?.”
“Gea
ingin belajar Al-qur’an, Mih. Gea ingin hafal Al-qur’an
dan menjadi hafidzoh.” Demi mendengar ucapanku, mamih
memandangku tajam. Perhatiannya kini murni kepadaku. “Maksudmu?” begitulah maksud dari tatapannya itu.
“Gea
cinta dengan Al-qur’an, Mih. Entah kenapa, hati Gea tenang jika membaca
Al-qur’an. Gea ingin mendalami ilmu Al-qur’an di Jogja. Di sana ada pondok
Al-qur’an tertua di pulau jawa, Mih.”
“Gea
Erlita!” Suara mamih lebih keras sekarang. “Tapi, pendidikanmu sudah ditentukan
jauh-jauh hari. Jalur yang jelas. Hidupmu akan terjamin jika kau ikuti apa kata
papihmu. Mamih tidak suka kau jadi pembangkang seperti ini!”
“Itu
kehendak mamih & papih. Itu bukan pilihan Gea. Pilihan Gea adalah menghafal
Al-qur’an. “ Ucapku lebih keras.
“Lalu,
apa kata kolega-kolega mamih nanti? Papihmu pemilik perusahaan yang sudah menggurita. Dan
anaknya hanya sekolah di Jogja? Mereka aka berpikir bahwa mamih hanya membuang
kamu, Gea. Mamih cuman ingin kamu bahagia.” Mamih berkata lirih.
“Mamih tidak ingin Gea bahagia. Mamih cuman memperdulikan apa kata orang. Mamih tak memperdulikan apa
kata Gea. Aku lebih bahagia dengan pilihanku, Mih.” Mata mamih mulai berkaca.
Aku harus segera menyelesaikan kalimatku. “Gea ingin belajar di Jogja. Ini
pilihan Gea, Mih!”
Aku
pergi meninggalkan mamih dengan sejuta argumennya.
Selanjutnya,
tekadku sudah bulat. Tak bisa ditawar lagi. Sejuta alasan dan bujuk rayu mamih
tertuju padaku. Aku tetap kukuh dengan pilihanku untuk pergi belajar Al-qur’an. Inilah
pilihanku. Pilihan untuk meninggalkan tawaran yang menjanjikan hidup nyaman, dan bahagia. Aku
akan disekolahkan di luar negri bersama Prisca. Pulang langsung bekerja di
perusahaan papahnya. Tapi aku rela. Rela meninggalkan semua itu demi Al-qur’an. Aku
lebih tergiur dengan syafaat dari Al-qur’an yang akan diberikan kepada orang
yang mencintainya insyaAllah. Mamih
mengalah. Aku berangkat ke Jogja.
***
Awal
pertama aku belajar, hatiku bahagia tak terperi. Pertama, karena kemenanganku
atas mamih. Kedua, karena pendidikanku. Semua terasa indah. Aku bagai berjalan di
atas hamparan taman bunga. Aku mulai merasakan indahnya Al-qur’an. Hafalanku
lancar. Bahkan, aku termasuk santri yang
cepat dalam hafalan. Semua sesuai keinginanku.
Selang
beberapa minggu, mulai ada krikil yang mengganggu jalanku. Mulai banyak masalah yang
menjejali kepalaku. Menyendat jalan masuknya hafalan ke otak. Selang beberapa
waktu, bukan hanya krikil ataupun polisi tidur yang menghambat sebentar. Namun ada
lubang besar yang menghambat perjalananku. Masalah dan tugas datang silih
berganti membuat antrean untuk menjejali kepalaku. Selesai masalah satu, bagian
reservasi otakku berteriak lantang. “No antrean 369. Masalah selanjutnya
silahkan masuk!” Mulai tugas dari dosen, tugas organisasi, masalah dengan
teman, masalah pribadi, kelompok, semua berjejalan bergantian mengambil nomor
antrean. Begitulah kira-kira yang terjadi di kepalaku saat ini. Membuat
hafalanku tersendat, dan membuatku berpikir tentang “hidup & pilihan.”
Selang
beberapa bulan, hafalanku bukan hanya tersendat. Namun sepenuhnya mandek. Masalah yang awalanya mengantre
silih berganti dengan damai, kini mulai berdesakkan dan ricuh ingin segera
diselesaikan. Kuliahku sedang sibuk-sibuknya. Iman dan semangatku sedang
lemah-lemahnya. Di sinilah mulai timbul pertanyaan itu. “Benarkah pilihanku untuk bersekolah di Jogja?”
Aku
berselancar di dunia maya dengan tujuan untuk menenangkan pikiranku. Setelah
berselancar beberapa saat, aku menemukan sebuah foto. Itu foto Prisca di depan
pintu gerbang universitasnya. Senyuman tersungging dari bibirnya. Prisca pasti
senang sekali di sana. Pikiran aneh itu mulai bersliweran di benakku. Jika saja aku mengikuti kata-kata mamih.
Jika saja aku ikut bersekolah dengan Prisca. Senyumanku pasti akan sama lebarnya dengan Prisca. Walau di
sana pasti akan sama sibuknya, tapi setidaknya Prisca masih bisa tersenyum.
Berbeda dengan tampang lusuhku. Itu terlihat ketika aku melihat cermin. Aku
juga teringat kata-kataku sendiri dulu. “Gea
ingin belajar di Jogja. Ini pilihan Gea, Mih!” airmataku menetes. Aku di
ambang kesedihan. Benarkah pilihanku ini?
Apakah ini akibat yang kuterima dari salah pilih? Aku terlelap dalam
tangis. Entah apa yang terjadi 9 hari kedepan. Itulah asal muasal mengapa aku berada di bus hari ini.
***
Suara pengamen silih
berganti memenuhi langit-langit bus. Menemani suara deru mesin bus Mercedes
Benz OF 1110. Mesin paling rendah jika dibandingkan dengan bus yang sudah
menggunakan body Jetbus 2. Langit bumi bedanya. Pengamen datang silih berganti
bagai playlist –dalam artian
sebenarnya. Selesai pengamen satu, datang pengamen yang lainnya. Juga pedagang
asongan yang “brutal” menjajakan dagangannya.
Selanjutnya,
bus melaju dengan tanpa ada gangguan menuju semarang. Aku pergi menjemput masa
depanku.
***
Aku
tiba di Semarang dengan selamat. Mamih memintaku untuk langsung pergi ke rumah sakit St.
Elizabeth. Aku mengernyitkan dahi. Siapa
yang sakit?
Pertanyaanku
terjawab. Di atas tempat tidur, terbaring Prisca dengan belalai yang terpasang
di sekujur tubuhnya. Aku tak tega melihat penampilan Prisca. Mukannya pucat. Bagian di bawah matanya
menghitam. Layaknya orang yang
terkena depresi. Berbeda 180 derajat dengan fotonya tempo
hari. Aku melihat gurat kesedihan di mata mamih. Aku tak mengerti. Sebenarnya,
apa yang dipikirkan mamih? Pertanyaan itu akan terjawab setiba kami di rumah.
“Prisca
kenapa, Mih?” Aku memulai percakapan setelah punggungku merapat dengan sofa.
“Prisca
depresi berat, Gea. Ia mengidap HIV. Janin yang berada dalam kandungannya dalam
bahaya. Oleh karena itu Prisca dibawa
ke rumah sakit segera.”
“Uh?”
Aku terlonjak dari sofaku. “Apa? HIV?
Hamil?” Gusarku dalam batin.
“Prisca
terjerumus dengan pergaulan di sana. Ia hamil. Dan pasangannya menularkan HIV kepadanya.
Mamih bersyukur kamu tak jadi ikut dengan Prisca.”
Demi
mendengar berita itu, hatiku berdegup kencang. Kini pertanyaan yang mengusikku
tempo hari terjawab.
“Subhanallah”
Aku berseru.
“Kamu
kenapa, Gea?” Aku sudah berlari ketika mamih mengajukan pertanyaan terakhirnya.
Tempat tujuanku adalah agen tiket bus ke Jogja.
Tuhan,
ampunilah sahabatku ini. Berilah dia kesembuhan, aku yakin ini bukan sepenuhnya
kesalahannya. Terima kasih Tuhan, terima kasih Engkau masih menjagaku dan
peristiwa ini menggugahku kembali. Andai saja aku pasrah atas mamih.Andai saja
aku pergi bersama Prisca. Andai saja aku tak pergi ke Jogja. Andai saja...
Andai... Aku... sudahlah. Teriak hatiku.
Aku
berharap tidak ada lagi antrean. Setidaknya, mereka mengantre dengan teratur di kepalaku.
Dalam segala kegusaran.
Krapyak,
04 November 2014
No comments:
Post a Comment