Wednesday, June 24, 2015

Bukan Sekedar Pilihan

Apakah benar hidup adalah pilihan? Apakah manusia benar-benar diberikan hak untuk memilih segala urusannya? Lantas, apakah gunanya takdir? Lalu, apa yang terjadi jika manusia salah memilih?
                Bus yang kutumpangi merupakan bus yang jauh dari kata nyaman. Memang karena bukan kenyamanan penumpang yang diprioritaskan. Melainkan kedatangan penumpang yang menjadi nomor wahid. Perjalanan pulangku ini merupakan perjalanan yang penuh dengan konflik batin setelah berkutat lama dengan pertanyaan “Hidup&pilihan.” Keluargaku di Semarang tentu melebarkan tangan, menyambut dengan senang hati putrinya pulang dari Jogja. Semua masalah ini bermulai, sejak aku lulus SMA.

***

                Mamih sedang duduk sambil membaca majalah di ruang tengah. Ditemani secangkir teh yang masih mengepulkan asap. Aku malu-malu mendekati mamih. Ingin membicarakan seputar kelanjutan pendidikanku selepas lulus nanti. Kelulusanku tak ada hitungan bulan dari sekarang.
                “Mih!” Sapaku dengan halus. Aku mencoba untuk menarik perhatian mamih sepenuhnya. “Ya!”
                “Gea harus sekolah di mana setelah lulus nanti, Mih?” Aku bertanya dengan harap.
                “Loh? Bukannya papihmu sudah bilang? Kamu akan disekolahkan di luar negri bersama Prisca. Sekolah Ekonomi. Kamu akan ditempatkan di perusahaan papahnya Prisca setelah lulus nanti. Itu sudah dibahas jauh-jauh hari, Gea.” Mamih menutup majalahnya.
                “Aku tau, Mih. Tapi makusudku, bagaimana dengan pilihanku?”
                “Pilihan? Memangnya pilihan kamu di mana?.”
                “Gea ingin belajar Al-qur’an, Mih. Gea ingin hafal Al-qur’an dan menjadi hafidzoh.” Demi mendengar ucapanku, mamih memandangku tajam. Perhatiannya kini murni kepadaku. Maksudmu?” begitulah maksud dari tatapannya itu.
                “Gea cinta dengan Al-qur’an, Mih. Entah kenapa, hati Gea tenang jika membaca Al-qur’an. Gea ingin mendalami ilmu Al-qur’an di Jogja. Di sana ada pondok Al-qur’an tertua di pulau jawa, Mih.”
                “Gea Erlita!” Suara mamih lebih keras sekarang. “Tapi, pendidikanmu sudah ditentukan jauh-jauh hari. Jalur yang jelas. Hidupmu akan terjamin jika kau ikuti apa kata papihmu. Mamih tidak suka kau jadi pembangkang seperti ini!”
                “Itu kehendak mamih & papih. Itu bukan pilihan Gea. Pilihan Gea adalah menghafal Al-qur’an. “ Ucapku lebih keras.
                “Lalu, apa kata kolega-kolega mamih nanti? Papihmu pemilik perusahaan yang sudah menggurita. Dan anaknya hanya sekolah di Jogja? Mereka aka berpikir bahwa mamih hanya membuang kamu, Gea. Mamih cuman ingin kamu bahagia.” Mamih berkata lirih.
                “Mamih tidak ingin Gea bahagia. Mamih cuman memperdulikan apa kata orang. Mamih tak memperdulikan apa kata Gea. Aku lebih bahagia dengan pilihanku, Mih.” Mata mamih mulai berkaca. Aku harus segera menyelesaikan kalimatku. “Gea ingin belajar di Jogja. Ini pilihan Gea, Mih!”
                Aku pergi meninggalkan mamih dengan sejuta argumennya.
                Selanjutnya, tekadku sudah bulat. Tak bisa ditawar lagi. Sejuta alasan dan bujuk rayu mamih tertuju padaku. Aku tetap kukuh dengan pilihanku untuk pergi belajar Al-qur’an. Inilah pilihanku. Pilihan untuk meninggalkan tawaran yang menjanjikan hidup nyaman, dan bahagia. Aku akan disekolahkan di luar negri bersama Prisca. Pulang langsung bekerja di perusahaan papahnya. Tapi aku rela. Rela meninggalkan semua itu demi Al-qur’an. Aku lebih tergiur dengan syafaat dari Al-qur’an yang akan diberikan kepada orang yang mencintainya insyaAllah. Mamih mengalah. Aku berangkat ke Jogja.
***
                Awal pertama aku belajar, hatiku bahagia tak terperi. Pertama, karena kemenanganku atas mamih. Kedua, karena pendidikanku. Semua terasa indah. Aku bagai berjalan di atas hamparan taman bunga. Aku mulai merasakan indahnya Al-qur’an. Hafalanku lancar. Bahkan, aku termasuk santri yang cepat dalam hafalan. Semua sesuai keinginanku.
                Selang beberapa minggu, mulai ada krikil yang mengganggu jalanku. Mulai banyak masalah yang menjejali kepalaku. Menyendat jalan masuknya hafalan ke otak. Selang beberapa waktu, bukan hanya krikil ataupun polisi tidur yang menghambat sebentar. Namun ada lubang besar yang menghambat perjalananku. Masalah dan tugas datang silih berganti membuat antrean untuk menjejali kepalaku. Selesai masalah satu, bagian reservasi otakku berteriak lantang. “No antrean 369. Masalah selanjutnya silahkan masuk!” Mulai tugas dari dosen, tugas organisasi, masalah dengan teman, masalah pribadi, kelompok, semua berjejalan bergantian mengambil nomor antrean. Begitulah kira-kira yang terjadi di kepalaku saat ini. Membuat hafalanku tersendat, dan membuatku berpikir tentang “hidup & pilihan.”
                Selang beberapa bulan, hafalanku bukan hanya tersendat. Namun sepenuhnya mandek. Masalah yang awalanya mengantre silih berganti dengan damai, kini mulai berdesakkan dan ricuh ingin segera diselesaikan. Kuliahku sedang sibuk-sibuknya. Iman dan semangatku sedang lemah-lemahnya. Di sinilah mulai timbul pertanyaan itu. “Benarkah pilihanku untuk bersekolah di Jogja?”
                Aku berselancar di dunia maya dengan tujuan untuk menenangkan pikiranku. Setelah berselancar beberapa saat, aku menemukan sebuah foto. Itu foto Prisca di depan pintu gerbang universitasnya. Senyuman tersungging dari bibirnya. Prisca pasti senang sekali di sana. Pikiran aneh itu mulai bersliweran di benakku. Jika saja aku mengikuti kata-kata mamih. Jika saja aku ikut bersekolah dengan Prisca. Senyumanku pasti akan sama lebarnya dengan Prisca. Walau di sana pasti akan sama sibuknya, tapi setidaknya Prisca masih bisa tersenyum. Berbeda dengan tampang lusuhku. Itu terlihat ketika aku melihat cermin. Aku juga teringat kata-kataku sendiri dulu. “Gea ingin belajar di Jogja. Ini pilihan Gea, Mih!” airmataku menetes. Aku di ambang kesedihan. Benarkah pilihanku ini? Apakah ini akibat yang kuterima dari salah pilih? Aku terlelap dalam tangis. Entah apa yang terjadi 9 hari kedepan. Itulah asal muasal mengapa aku berada di bus hari ini.
***
Suara pengamen silih berganti memenuhi langit-langit bus. Menemani suara deru mesin bus Mercedes Benz OF 1110. Mesin paling rendah jika dibandingkan dengan bus yang sudah menggunakan body Jetbus 2. Langit bumi bedanya. Pengamen datang silih berganti bagai playlist –dalam artian sebenarnya. Selesai pengamen satu, datang pengamen yang lainnya. Juga pedagang asongan yang “brutal” menjajakan dagangannya.
                Selanjutnya, bus melaju dengan tanpa ada gangguan menuju semarang. Aku pergi menjemput masa depanku.
***
                Aku tiba di Semarang dengan selamat. Mamih memintaku untuk langsung pergi ke rumah sakit St. Elizabeth. Aku mengernyitkan dahi. Siapa yang sakit?
                Pertanyaanku terjawab. Di atas tempat tidur, terbaring Prisca dengan belalai yang terpasang di sekujur tubuhnya. Aku tak tega melihat penampilan Prisca. Mukannya pucat. Bagian di bawah matanya menghitam. Layaknya orang yang terkena depresi. Berbeda 180 derajat dengan fotonya tempo hari. Aku melihat gurat kesedihan di mata mamih. Aku tak mengerti. Sebenarnya, apa yang dipikirkan mamih? Pertanyaan itu akan terjawab setiba kami di rumah.
                “Prisca kenapa, Mih?” Aku memulai percakapan setelah punggungku merapat dengan sofa.
                “Prisca depresi berat, Gea. Ia mengidap HIV. Janin yang berada dalam kandungannya dalam bahaya. Oleh karena itu Prisca dibawa ke rumah sakit segera.”
                “Uh?” Aku terlonjak dari sofaku. “Apa? HIV? Hamil?” Gusarku dalam batin.
                “Prisca terjerumus dengan pergaulan di sana. Ia hamil. Dan pasangannya menularkan HIV kepadanya. Mamih bersyukur kamu tak jadi ikut dengan Prisca.”
                Demi mendengar berita itu, hatiku berdegup kencang. Kini pertanyaan yang mengusikku tempo hari terjawab.
                “Subhanallah” Aku berseru.
                “Kamu kenapa, Gea?” Aku sudah berlari ketika mamih mengajukan pertanyaan terakhirnya. Tempat tujuanku adalah agen tiket bus ke Jogja.
                Tuhan, ampunilah sahabatku ini. Berilah dia kesembuhan, aku yakin ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Terima kasih Tuhan, terima kasih Engkau masih menjagaku dan peristiwa ini menggugahku kembali.  Andai saja aku pasrah atas mamih.Andai saja aku pergi bersama Prisca. Andai saja aku tak pergi ke Jogja. Andai saja... Andai... Aku... sudahlah. Teriak hatiku.
                Aku berharap tidak ada lagi antrean. Setidaknya, mereka mengantre dengan teratur di kepalaku.
Dalam segala kegusaran.

Krapyak, 04 November 2014

No comments:

Post a Comment