Kau duduk termenung,
memandang dengan tatapan kosong. Duduk dengan siku di paha, dan tangan
menjambak rambutmu. Kau terlihat kacau sekali saat itu. Terduduk di depan
kelasmu. Di atas kursi yang terbuat dari kayu dengan kakinya yang terbuat dari besi.
Kursi panjang yang dibuat cocok sekali mungkin untukmu yang sedang
memikirkan... entahlah. Entah apa yang kau pikirkan. Walau kau duduk diantara
kawan yang bermain riang. Engkau tak peduli.
“Stress
gue!” dalihmu ketika ditanya seorang kawan. Mereka hanya sekedar bertanya.
Lantas pergi tak hiraukan lagi. Bagai angin yang hanya lewat menyentuh kulit,
lalu pergi tak peduli. Sama tak pedulinya dengan kau pada mereka. Hidup
diantara ketidak pedulian sekitar.
Kau
menutup seluruh wajahmu dengan kedua telapak tanganmu. Bukan, kau bukan sedang
bermain petak umpet dengan anak-anak gang menur. Hal yang sering kau lakukan di
minggu pagi. Kau tidak sedang melakukan itu. Bahkan kau sudah jarang menemui
mereka lagi, –cenderung menghindar malah. Kau menutup wajahmu dengan kedua
telapak tangan. Kau frustasi. Kau menarik kedua tanganmu itu dari kening sampai
ke belakang kepala. Menghayati setiap sentuhannya. Dengan pikiran-pikiran yang
memenuhi benakmu yang kau harapkan akan hilang disetiap inci sentuhannya.
Kau
mengenang setiap detik demi detikmu bersama Mamah. Wanita yang paling kau cintai
–dan mencintaimu. Mengecewakannya lebih buruk dari hilangnya harga diri bagimu.
Kau ingat setiap detik senyumannya. Merasa akan harus untuk membanggakannya.
Kehilangan hasrat hidup ketika tak bisa torehkan senyum bangga di manis
wajahnya. Takut akan saat dimana kau kehilangannya. Kau rasa, hanya inilah
kesempatanmu untuk membanggakannya. Torehkan senyum di wajahnya. Balaskan budi,
walau kau tahu, tak akan pernah terbalas”si budi” itu.
Hari
itu hanya tinggal 4 hari dari hari ini. Hari setelah minggu, sebelum
kehancuran.
“Belum
siap gue!” nafasmu terasa sesak, seakan tersendat oleh huruf-huruf dari buku
yang kau jadikan bantal –setelah kau coba untuk melahapnya. Menulis jutaan
rencana. Lulus-SNMPTN-SBMPTN-Kuliah-Sukses-Bangga! Namun nihil dalam
pelaksanaanya. Menuliskan tentang apa yang Mamah katakan, dan merekamnya dalam
guratan pena. Sebagai bahan peledak, pelontar moral untuk semangat sesaat. Namun,
hanya sesaat dan jatuh kemudian.
Setiap
pelajaran yang belum kau kuasai berdesakan untuk masuk ke otak. Supaya menjadi
pelajaran yang paling kau pikirkan dan perhatikan. Walau ternyata, semua harus
dipikirkan, dan diperhatikan. Satu, dua nama mata pelajaran kau lingkari
sebagai pelajaran yang harus mendapat perhatian lebih. Matematika, Kimia,
Biologi, Fisika. Keempatnya kau lingkari agar masuk kedokteran, pertanian, farmasi,
atau yang sejalur di bidang MIPA. Harapan Mamah tentunya.
“Sudahlah
Wanda... Tak usah kalut seperti itu. Kau pasti bisa lolos!” ku coba merangkul
dan menasihatimu. Mencoba mengusir kegelisahanmu.
“Tak
kalut bagaimana aku? Sebentar lagi ada seleksi masuk kuliah! Demi kuliah dan
demi...” kau berhenti sejenak. Memandang lantai dengan tatapan kosong, lalu
kembali memandangku. “Masa depan!” kembali kau membuang tatapanmu dan berdiam.
Kembali memandangi lantai yang kosong dan berdebu. Kembali menutup wajahmu
dengan telapak tanganmu. Kembali merajuk dengan kegelisahan dan ketakutanmu
akan kegagalan.
“Aduh...
gue capek! Kerjaan gue banyak banget. Rapot belum gua urus. Nilai-nilai masih
ga jelas. Belom belajar. Gak yakin lolos gue kalau gini caranya!” keluhmnu.
“Kayaknya
lo dari SMP sampe lulus SMA kalau ada ulangan gak stress kayak gini deh.
Santai-santai aja. Tapi hasilnya? Lo selalu ada di urutan teratas dari
teman-teman sekelas!” ku coba tuk besarkan hatimu.
“Ya,
tapi gak pernah diurutan pertama! Gak pernah dapet juara! Naek panggung nerima
piala! Gak pernah bikin banga...” suaramu melemah. Tatapnmu kembali terbuang ke
bawah. “mamah!”
“Lo
itu udah termasuk golongan orang-orang yang pasti lolos seleksi! Lo orang
pinter Wanda! Pasti lolos! Pasti sukses!”
“Tapi
tetep aja...” Suara itu menggantung. Kau membentakku dan berdiri. Mataku dan
matamu saling bersitatap sekilas. Punya berkaca-kaca. “Maaf!” Kau pun berlari
menyusuru lorong sekolah. Lorong yang menyambungkan kelas XII MIA-2 dengan XII
MIA-3 yang berada di gedung seebelah.
“Wanda...!”
Kau
berlari menyusuri loron gitu. Menampakkan punggungmu. Biarkan butiran-butiran
air mata dan butiran-butiran beban mengikuti larimu. Mengibaskan rambut
hitammu. Yang legam terpancar sinar matahari. Kau Wanda. Kau diriku.
Krapyak,
12 Mei 2015
No comments:
Post a Comment