Wednesday, June 24, 2015

Kau Butiran-Butiranku

Kau duduk termenung, memandang dengan tatapan kosong. Duduk dengan siku di paha, dan tangan menjambak rambutmu. Kau terlihat kacau sekali saat itu. Terduduk di depan kelasmu. Di atas kursi yang terbuat dari kayu dengan kakinya yang terbuat dari besi. Kursi panjang yang dibuat cocok sekali mungkin untukmu yang sedang memikirkan... entahlah. Entah apa yang kau pikirkan. Walau kau duduk diantara kawan yang bermain riang. Engkau tak peduli.

                “Stress gue!” dalihmu ketika ditanya seorang kawan. Mereka hanya sekedar bertanya. Lantas pergi tak hiraukan lagi. Bagai angin yang hanya lewat menyentuh kulit, lalu pergi tak peduli. Sama tak pedulinya dengan kau pada mereka. Hidup diantara ketidak pedulian sekitar.
                Kau menutup seluruh wajahmu dengan kedua telapak tanganmu. Bukan, kau bukan sedang bermain petak umpet dengan anak-anak gang menur. Hal yang sering kau lakukan di minggu pagi. Kau tidak sedang melakukan itu. Bahkan kau sudah jarang menemui mereka lagi, –cenderung menghindar malah. Kau menutup wajahmu dengan kedua telapak tangan. Kau frustasi. Kau menarik kedua tanganmu itu dari kening sampai ke belakang kepala. Menghayati setiap sentuhannya. Dengan pikiran-pikiran yang memenuhi benakmu yang kau harapkan akan hilang disetiap inci  sentuhannya.
                Kau mengenang setiap detik demi detikmu bersama Mamah. Wanita yang paling kau cintai –dan mencintaimu. Mengecewakannya lebih buruk dari hilangnya harga diri bagimu. Kau ingat setiap detik senyumannya. Merasa akan harus untuk membanggakannya. Kehilangan hasrat hidup ketika tak bisa torehkan senyum bangga di manis wajahnya. Takut akan saat dimana kau kehilangannya. Kau rasa, hanya inilah kesempatanmu untuk membanggakannya. Torehkan senyum di wajahnya. Balaskan budi, walau kau tahu, tak akan pernah terbalas”si budi” itu.
                Hari itu hanya tinggal 4 hari dari hari ini. Hari setelah minggu, sebelum kehancuran.
                “Belum siap gue!” nafasmu terasa sesak, seakan tersendat oleh huruf-huruf dari buku yang kau jadikan bantal –setelah kau coba untuk melahapnya. Menulis jutaan rencana. Lulus-SNMPTN-SBMPTN-Kuliah-Sukses-Bangga! Namun nihil dalam pelaksanaanya. Menuliskan tentang apa yang Mamah katakan, dan merekamnya dalam guratan pena. Sebagai bahan peledak, pelontar moral untuk semangat sesaat. Namun, hanya sesaat dan jatuh kemudian.
                Setiap pelajaran yang belum kau kuasai berdesakan untuk masuk ke otak. Supaya menjadi pelajaran yang paling kau pikirkan dan perhatikan. Walau ternyata, semua harus dipikirkan, dan diperhatikan. Satu, dua nama mata pelajaran kau lingkari sebagai pelajaran yang harus mendapat perhatian lebih. Matematika, Kimia, Biologi, Fisika. Keempatnya kau lingkari agar masuk kedokteran, pertanian, farmasi, atau yang sejalur di bidang MIPA. Harapan Mamah tentunya.
                “Sudahlah Wanda... Tak usah kalut seperti itu. Kau pasti bisa lolos!” ku coba merangkul dan menasihatimu. Mencoba mengusir kegelisahanmu.
                “Tak kalut bagaimana aku? Sebentar lagi ada seleksi masuk kuliah! Demi kuliah dan demi...” kau berhenti sejenak. Memandang lantai dengan tatapan kosong, lalu kembali memandangku. “Masa depan!” kembali kau membuang tatapanmu dan berdiam. Kembali memandangi lantai yang kosong dan berdebu. Kembali menutup wajahmu dengan telapak tanganmu. Kembali merajuk dengan kegelisahan dan ketakutanmu akan kegagalan.
                “Aduh... gue capek! Kerjaan gue banyak banget. Rapot belum gua urus. Nilai-nilai masih ga jelas. Belom belajar. Gak yakin lolos gue kalau gini caranya!” keluhmnu.
                “Kayaknya lo dari SMP sampe lulus SMA kalau ada ulangan gak stress kayak gini deh. Santai-santai aja. Tapi hasilnya? Lo selalu ada di urutan teratas dari teman-teman sekelas!” ku coba tuk besarkan hatimu.
                “Ya, tapi gak pernah diurutan pertama! Gak pernah dapet juara! Naek panggung nerima piala! Gak pernah bikin banga...” suaramu melemah. Tatapnmu kembali terbuang ke bawah. “mamah!”
                “Lo itu udah termasuk golongan orang-orang yang pasti lolos seleksi! Lo orang pinter Wanda! Pasti lolos! Pasti sukses!”
                “Tapi tetep aja...” Suara itu menggantung. Kau membentakku dan berdiri. Mataku dan matamu saling bersitatap sekilas. Punya berkaca-kaca. “Maaf!” Kau pun berlari menyusuru lorong sekolah. Lorong yang menyambungkan kelas XII MIA-2 dengan XII MIA-3 yang berada di gedung seebelah.
                “Wanda...!”
                Kau berlari menyusuri loron gitu. Menampakkan punggungmu. Biarkan butiran-butiran air mata dan butiran-butiran beban mengikuti larimu. Mengibaskan rambut hitammu. Yang legam terpancar sinar matahari. Kau Wanda. Kau diriku.
Krapyak, 12 Mei 2015

  

No comments:

Post a Comment