Monday, June 22, 2015

Diskriminasi Sumpalan

Stereotip kebodohan lama.
Diskriminasi terhadap “kaum tangan hampa.”
Selalu saja. Yang bertangan hampa,
  hanya gigit jari melihat yang membawa “cindramata.”
Entah marmer sampai kaca.

Stereotip kebodohan busuk.
Yang tiba pukul 10, harus kalah dengan yang pukul 1 baru masuk.
Walau kami sudah meminta dan membujuk.
Kasih hanya bagi yang menjenguk,
  dan membawa “jeruk.”
Stereotip kebodohan isapan.
Mereka bilang kami salahi aturan.
Okelah kami amankan,
  duhai kawan.
Tapi berbeda dengan mereka yang dapat pujian.
Bahkan diberi ajakan,
  hanya sekedar untuk makan.
Kami hanya dapat pijakan,
  dan pula tamparan
Aduh mama sayang ee...
Bertubi kami hanya terima duka.
Jauh berbeda dari mereka yang segalanya “diangguk.”
Mereka yang pulang dengan “kuning keemasan,”
  sebagai sumpalan.
Beri cacian,
  tanpa dukungan.
Pinta imbalan,
  berupa ujian.
Walau “juga” salahi aturan
Termaaf, karena “sumpalan.”
Sumpal saja mulutmu dengan aturan!
Aduh mama sayang ee...
Ternyata negri ini tetaplah sama.
Entah dimana kau berada.
Kuberitahu kau sekarang juga.
Apa kasih dan angguk hanya bagi yang menyumpal semata?
                “Merak” memang cantik jelita.
                Jika kau lihat dari penampilan semata.
                Siapa yang tak suka padanya?
   Coba saja kau adu kepintarannya!
   Dengan “si kancil,” “si kera,” ataupun “si buaya.”
   Bisa menandingi saja sudah syukur mengelus dada.
Apalagi menang dan jumawa.
Aduh Merak itu Kita!
Aduh ini hanya tentang “sumpal” semata.
                Sampai bosan aku membahasnya.
   Diskriminasi “Kaum Tangan Hampa”!
                                                -Hz12
                                                Setelah diskriminasi

                                                Itu semua

No comments:

Post a Comment