Stereotip kebodohan lama.
Diskriminasi terhadap “kaum
tangan hampa.”
Selalu saja. Yang bertangan
hampa,
hanya gigit jari melihat yang membawa “cindramata.”
Entah marmer sampai kaca.
Stereotip kebodohan busuk.
Yang tiba pukul 10, harus kalah
dengan yang pukul 1 baru masuk.
Walau kami sudah meminta dan
membujuk.
Kasih hanya bagi yang menjenguk,
dan membawa “jeruk.”
Mereka bilang kami salahi aturan.
Okelah kami amankan,
duhai kawan.
Tapi berbeda dengan mereka yang
dapat pujian.
Bahkan diberi ajakan,
hanya sekedar untuk makan.
Kami hanya dapat pijakan,
dan pula tamparan
Aduh mama sayang ee...
Bertubi kami hanya terima duka.
Jauh berbeda dari mereka yang
segalanya “diangguk.”
Mereka yang pulang dengan “kuning
keemasan,”
sebagai sumpalan.
Beri cacian,
tanpa dukungan.
Pinta imbalan,
berupa ujian.
Walau “juga” salahi aturan
Termaaf, karena “sumpalan.”
Sumpal saja mulutmu dengan
aturan!
Aduh mama sayang ee...
Ternyata negri ini tetaplah sama.
Entah dimana kau berada.
Kuberitahu kau sekarang juga.
Apa kasih dan angguk hanya bagi
yang menyumpal semata?
“Merak”
memang cantik jelita.
Jika
kau lihat dari penampilan semata.
Siapa
yang tak suka padanya?
Coba saja kau adu kepintarannya!
Dengan “si kancil,” “si kera,” ataupun
“si buaya.”
Bisa menandingi saja sudah syukur mengelus dada.
Apalagi menang dan jumawa.
Aduh Merak itu Kita!
Aduh ini hanya tentang “sumpal”
semata.
Sampai
bosan aku membahasnya.
Diskriminasi “Kaum Tangan Hampa”!
-Hz12
Setelah
diskriminasi
Itu semua

No comments:
Post a Comment