Gemetar
tak henti terasa di hati.
Senyum manis tergurat di wajahmu ukhti.
Berdegup, berdebar tak henti.
Tersungging, terhias kau tak mengerti.
Semburat biru kekuningan fajar,
menyeruak di sela jemari.
Cipratan jingga kemerahan senja,
Bolehkah aku berucap akan suatu hal?
Terasa menguat setiap kali jumpa setiap hari.
Bolehkah aku berbagi akan suatu hal?
Terasa besar setiap kali berada dalam diri.
Namun,
lidah ini kelu, walau tuk ucap
“Yaa Ukhti!”
Saat gelap mulai kuasai.
Saat yang ada mulai perlahan pergi.
Ku coba teguhkan diri ini,
tuk ucapkan Yaa ukhti!
Terucap lima kata “Abdi.”
Di saat “Bogoh” kuasai lima indrawi.
Dua puluh “Ka,” juga lima satu “Maneh” ter-copy.
Aduh kelu, kaku,
seakan membatu.
Aduh kamu,
terpaku, katakan aku,
juga
serupa denganmu.
Hati ini tak henti bergetar sampai sehari.
Seakan melepas semua yang mengganjal dalam
diri.
Senyum itu tak henti tergurat.
Di wajahmu itu, dari timur hingga barat.
-Hz12
Tentunya
untukmu 2051
No comments:
Post a Comment