Aku adalah representatif dari naluri dan kehendakku.
Jadi wajar, jika terkadang tak seperti yang dimau.
Jika suatu saat aku ragu.
Ingatkan aku,
Bahwa duniaku adalah kehendakku.
Apa untukku,
Adalah apa yang aku, naluriku, dan kehendakku mau.
Maka, hendaklah jika ketika aku mau,
"Mau-ilah" (inginkalah) hal yang luar biasa yang membantu.
Karena aku,
adalah representatif dari naluri dan kehendakku.
Friday, October 30, 2015
Nikmatnya Sebuah Cobaan (Sebuah Renungan. Hal kecil yang perlu dipertanyakan)
Apakah kau pernah merasakan sebuah masalah yang teramat sangat berat?
Sampai kau merasa bahwa kau tak sanggup untuk mengembannya? Sampai kau merasa
bahwa kau memiliki masalah paling berat diantara yang lainnya? Apakah kau
pernah merasakan sepi? Sampai kau merasa bahwa tak ada satupun yang menemanimu?
Sampai kau merasa bahwa taka da satupun orang yang peduli dengan kau dan
masalahmu? Apakah kau pernah merasakan
kesedihan yang teramat sangat? Sampai kau tak kuasa membendung semua emosi dan
air mata? Sampai kau merasa bahwa kau ingin sekali mengakhiri dunia? Dan
apakah…? Sudahlah… jika aku lanjutkan, tak akan habis tulisan ini dengan
pertanyaan “apakah?” yang semakin memojokan dirimu dan masalahmu. Jika kau
pernah merasakan semua itu, aku ucapkan “Selamat!” karena itu pertanda bahwa
kau masihlah menjadi manusia yang Allah SWT sayangi.
Anak Tetesan Hujan
Tetesan, demi
tetesan merintik terjatuh menyerbu bumi. Memudarkan sedikit demi sedikit warna
kecoklatan aspal yang ditaburi debu-debu jalanan. Ciptakan genangan demi
genangan di sana sini. Pria dengan mantol hitam pekat memaksakan motornya
menerobos genangan yang membesar di jalanan. Terseok sedikit demi menghindari daerah yang tergenanag lebih dalam. Lantas,kembali
menancapkan gasnya. Ia memacu motornya secepat mungkin. Meninggalkan
kekhawatiran akan kerusakan mesin karena air. Omelan sang
bos karena keterlambatan dirinya lebih menyeramkan untuk
dibayangkan dari pada bayangan mesin motornya yang rusak.
Subscribe to:
Comments (Atom)