Entah dengan apa aku akan memulai, tapi aku ingin memulai sebuah catatan untuk kali ini. Kal ini, waktu berputar tak terkira cerpatnya. Semua yang kau rasa biasa, kini mulai menusuk melewati kulit, hingga tulang belulang. Ketika dulu kau rasa membawa sebatang korek ke lapang luas merupakan hal yang mudah, tak lagi terasa begitu untuk kali ini. Ia bisa berubah berkali-kali lebih berat. Puluhan, bahkan ratusan kali lipat lebih berat. Bukan hanya itu, sebatang korek itu bisa membakar segala. Kau kira apa korek itu? Tentu saja sesuatu yang selalu kau remehkan.
Baiklah, kali ini kembali ke masalah awal. Kemana akan perahumu berlabuh? Huh? Lautan dangkal masih terasa amat sangat jauh kurasa. Ku kira bahwa kaupun merasakan hal serupa. Kemana kau akan melempar sauh? Uh, kurasa, kita tak bisa semudah itu melemparkan sauh. Butuh selusin, atau lusinan tenaga kurasa. Dan, apa yang kau bisa? Bahkan untuk mengangkatnya dari geladak kapalpun kurasa aku belum juga kuasa. Aduh, entah siapa yang mengikatnya terlalu berat. Atau justru aku yang terlalu lemah untuk hanya sekedar mengangkatnya ke pinggiran kapal? Sudahlah.
Ingatkah kau pernah berjanji pada sebatang pohon yang kau buat rindang? uh.. aku tak akan pernah melupakan janji itu. Aku berharap kau tak melakukan hal bodong dengan seketika merobohkan pohon itu. Hmm.. aku harap kau akan membuat dirinya hanya menggugurkan daunnya sendiri. Dengan kesepakatan hatinya. Kuasanya. Dan saat daun-daun itu telah tiada, ia akan menumbuhkan daun-daun barunya. Di musim dan tahun yang baru. Berbuah dengan buah yang lebih segar dari tahun lalu. Atau, akan berbuah setiap hari. Ah, akan terasa indah melihatnya. Walau, uh, aku tak merasakan sedikitpun buah itu. Setidaknya mungkin, suatu saat pohon itu akan mengingat bahwa kau pernah suatu hari, mungkin hanya akan berlangsung sekali, menumbuhkan helai demi helai daun yang tadinya runtuh seketika. Untuk masalah itu, kita akan serahkan saja pada ahlinya.
Baiklah, aku akan berkisah untuk malam ini. Malam ini, hanya dengan dua kaki aku melangkah. Ya dengan artian yang sebenernya dan artian yang kubuat-buat sendiri. Aku hanya ingin memuaskan nafsu "Si Merah" Entah kecewakah atau apakah yang akan kurasa. Tapi, satu hal, aku hanya butuh penyegaran. Untuk di awal, mungkin aku tak merasakan kekecewaan.Untuk pertama kalinya, entah sejak kapan Klopp menurunkan seluruh ksatria yang tersembunyi di balik perban kaki -Kurasa. Mulai dari si Magician yang membuka gol pertama lewat tendangan cerdasnya -Begitulah ulas komentator. Selanjutnya, si Anak beruntung dan si One Touch Goal masuk bersamaan. Entah apa, mungkin pengatur itu ingin memberikan kesempatan bagi seluruh punggawa tombaknya. Atau mungkin untuk menjajal sebagai pilihan di pertarungan berikutnya. Entahlah, aku tak bisa menunggu terlalu lama lagi karena waktunya sungguh terbatas.
No comments:
Post a Comment