Monday, May 26, 2014

Goresan Tinta terakhir

Alam terlalu indah untuk dirusak, disentuh tangan-tangan bedebah, dilenyapkan, dibuang, tidak dimanfaatkan dengan benar. Dan alam terlalu indah untuk tak disyukuri.”
Bebek yang kutunggangi kupaksa untuk memutar pistonnya lebih cepat.Tak peduli dengan bus yang meneriakiku karena jarak yang terlalu dekat dengannya. “TIIN... TIIN!!!”
Jangan ugal-ugalan kau bocah.” Aku tak peduli.
Aku memacu motor lebih, bahkan sangat sangat cepat setelah mendengar berita buruk itu.[]
“OJI!!!” teriak ibu dari dapur. Mataku masih merapat “Yaa, Buu! Aya naon?1” aku membalas teriakan ibu.
“Ibu diSMS Pak Hamid. Katanya, si Kiki meninggal semalam. Enggal ngalayat kaditu!2mataku langsung terbuka sepenuhnya.
Akupun menghampiri ibu. Karena kamarku cukup dekat dengan dapur. “Nu bener atuh, Bu? Ulah sok lalagaan!3
“Sok atuh tingali bae!4Ibu menunjukan SMS dari Pak Hamid. Ternyata benar. Kiki sahabat masa kecilku telah tiada. Begitulah inti isinya.
Setelah mencuci muka dan mengambil jaket, aku mencium tangan ibu yang sedang mencuci piring. Ibu mengelapkan tangannya pada bagian pinggang baju dasternya. Hasilnya tetap basah.--
Aku memacu motorku dengan kencang.
Tenda sederhana berwarna biru berdiri tegak merapat tepat di depan rumah si kembar Adi&Kiki –mereka teman sepermainan masa kecilku yang kembar. Kursi yang sering kau temukan pada acara nikahan berjejer rapih tiga baris ke belakang. Kursi itu digunakan untuk para pelayat duduk. Bendera kuning kecil sederhana tergantung sebagai tanda duka. Aku memarkirkan motorku di lahan kosong sebelah rumah Pak Hamid. Aku langsung menerobos masuk melalui pintu utama.
Suasana khas rumah duka menyambutku. Mata dan hidung yang memerah karena tangis.Tissue menutupi hidung dan mulut.
HUHUUU” Mata yang berkaca-kaca dari keluarga, teman terdekat dan tetangga yang ditinggal
Kiki –Termasuk aku, terpampang jelas.
Di tengah mereka, jenazah yang terbungkus kain kafan putih dan diselimuti dengan kain coklat bermotif batik yang menutupi seluruh tubuh kecuali di bagian wajah. Juga di antara para pelayat, dua orang wanita dan seorang pria berkacamata yang duduk berbaur dengan yang lainnya. mereka menjadi perhatianku kali ini. Akupun mendekati mereka dan mencoba menyapa.
“Lena,” kusentuh pundak wanita pertama. Ia berbalik dan langsung memelukku sambil menangis.
“Oji... huhuu... Kiki, Oji... Kiki.”
“Iya, Len. Aku tahu,” aku mengelus-elus pundaknya “Dia pasti bahagia di sana. Kiki lelaki yang baik, Len. Aku yakin itu.”
Dulu, Lena adalah gadis yang manja. Kini kuncir duanya berubah menjadi rambut panjang coklat yang terurai dengan indah. Wajar saja, ia seorang model. Wanita berpupil mata biru dan berbulu mata lentik ini menangis dan membasahi jaket biruku. Di sampingnya, wanita cantik yang dikuncir ekor kuda juga meneteskan air mata. Ia berbalik dan memelukku lebih erat dari Lena.
“HUHUHU... OJI!!!” ternyata ia lebih histeris. Namanya Lilis. Dulu ia adalah gadis preman dan tomboy. Kukira ia tak akan pernah menjadi feminim. Dulu di kampung kami, lelaki mana yang tidak takut dengan gadis preman seperti Lilis. Tapi sekarang. Lelaki mana yang tidak jatuh cinta melihat kecantikannya. Ditambah lagi, ia seorang sekertaris cantik di salah satu perusahaan besar Ibu kota.
“Sabar ya, Lis. Sabar.”Air mataku kini menetes tak terbendung membasahi pipiku. Aku melepaskan pelukan Lilis dan pindah menepuk pundak Adi. Kakaknya Kiki.
“Yang sabar, Di.” Adi memandang dengan tatapan kosong.
“Dia anak yang keras kepala. Aku sudah melarangnya untuk meliput tawuran antar siswa SMA itu. Aku memang tak pernah setuju ia menjadi wartawan lapangan. Aku hanya setuju ketika bertugas mengetik berita. Bukan meliputnya. Seperti inilah akibatnya. ”Ia berhenti sebentar. Adi menoleh kepadaku. Matanya berkaca. “Menyusahkan semua orang saja.” air matanya turun dari balik kaca matanya. Ia tetap sama seperti dulu. Dingin dalam menanggapi setiap hal.Tak banyak bicara.Tapi aku percaya, dia tidak serius ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.Aku tahu dia sangat sedih atas kepergian kembarannya.
Pemuda yang dulunya bersifat dingin ini, kini menjadi fotografer alam. Ia sangat terobsesi dengan alam. Dan memotret ia akan mengabadikannya. Berbeda dengan Adi, Kiki merupakan anak yang keras kepala dan senang menceritakan kisahnya kepada teman-teman. Kini bukan hanya teman yang mengetahui kisahnya. Namun penduduk Indonesia. Wartawan surat kabar mingguan menjadi pilihannya.
Aku? Jangan tanya aku. Aku hanya sarjana kehutanan yang malah bekerja di sebuah percetakan kecil di Jogja. Sungguh tak ada hubungannya dengan jurusan kuliah yang aku ambil.Aku tetap bersyukur tidak menganggur.
Tanpa komando.kakiku langsung melangkah menuju kamarnya Kiki. Anehnya perhatianku langsung tertuju pada diary merah bertuliskan “My live my adventure” pada cover nya. Ini milik Kiki. Akupun mulai membaca halaman demi halaman.
12 mei 2003
Aaahh... punya diary juga. Udah kayak orang-orang terkenal. Hari ini seperti biasa, aku berkumpul dengan teman-teman. Kita bermain air di Batu Ageung. Airnya masih jernih banget. Si Oji dapat banyak ikan. Emang keturunan ikan kali tuh anak...--
Aku tersenyum ketika membacanya.Aku jadi teringat dengan kisah itu.
“Wooy, Ji..!!! geura turun!!!” ajak Kiki dari dalam sungai.
Setelah melepaskan pakaian –minus celana, aku menyusul Kiki dengan melompat dari sebuah batu besar yang entah bagaimana mulanya ada di sana. Itulah kenapa sungai ini disebut “Batu Ageung”.
“BYURR!!”
“Tungguin, Ji! Takut nih.”Perlahan Lena mencelupkan kakinya kesungai yang alirannya tidak terlalu deras. Disusul Lilis. Tentunya mereka tidak melepas pakainnya dan meloncat sepertiku. Bisa repot kalau mereka melakukannya. Kamipun bermain air dengan saling mencipratkan air. Senang sekali rasanya.
Burung bercengkrama dengan sesama di atas pohon. Air sungai mengalir jernih. Semua ini masih alami. Bagai kami dan sungai bersenang canda tawa bersama. Hanya dua hal yang tak kulihat bercengkrama. Batu dan Adi.Ia hanya duduk di atas batu –atau ia sedang bersenang-senang dengan batu. Bersandar dengan kedua tangannya dan kaki kanannya menyilang di atas kaki kirinya bersantai. Memandangi sekitar. Sambil tersenyum.
Adipun bangkit dan berteriak kepada kami yang sedang bersenang-senang.
“Kita sudah remaja. Janganlah seperti anak kecil! SMP kita hampir lulus. Sudah sangat dewasa seharusnya.”
“Sudahlah! Ini liburan terakhir kita.Kita akan berpisah nantinya,” Lilis membalas.Yang dibalas hanya melambaikan tangannya. “Terserah”.
“Aku akan kehutan untuk mencari kayu untuk membuat api. Kalian tangkaplah ikan yang banyak! Kuharap kita pesta ikan besar hari ini,” Adi berkata sambil mengeluarkan pisau dari pinggangnya dan berbalik berjalan ke hutan.
“Ji.Paseueur-seueur neangan lauk yuk5!” ajak Kiki. Kami mengangguk.
Matahari berada tepat di atas ubunb-ubun. Akulah yang keluar sebagai juaranya. Dengan torehan 8 ekor ikan. Aku menombak ikan-ikan itu. Kiki, Lena, Lilis menggunakan cara primitive yang sama. Kejar-jebak-tangkap. Hasilnya. Kiki hanya dapat 3 ekor. Lilis 2 ekor. Dan Lena tidak dapat sama sekali.[]
Aku tersenyum ketika teringat dengan kejadian itu.Ini buku yang menarik. Aku tak sabar untuk mengkhatamkannya.
Lantas aku kembali terfokus pada lembar selanjutnya.
17 mei 2003
Mangga atuh, sok ditingali! Mun hayang ningali doang kieu saterusna, sok mangga di jag!. Mun heunteu, sok cicingkeun bae tah rusak!6
-Mang Ujang-
Yang ini bukan kata-katanya.Ini kata-kata mang ujang waktu itu.Waktu itu kami sedang kebetulan saja lewat di sawah.--
Matahari mengintipi kami dari balik dedaunan. Tak akan terasa panas di sini. Karena ketika ultraviolet menyiram kami, angin juga meniupi kami.
“WOOYYY BARUDAK!!! Kadieu geh sakedap!” Mang Ujang dengan sarung yang dikalungkan di pundaknya memanggil kami. Mang Ujang sering sekali ditakuti oleh anak-anak kampung. Wajar saja, siapa yang tidak takut dengan rambut gondrong tak terurus dan luka bacok di pipi kiri Mang Ujang? Kamipun mendekat.
“Aya naon mang7?” aku menjawab dengan sedikit takut.
Silahkan duduk dulu! Mamang mau cerita.” Kami duduk untuk mengikuti perintahnya.
“Gimana Batu Ageung? Baguskah?”
“Baguslah, Mang. Orang sekampung juga tahu kalau Batu Ageung itu bagus.”
“Makannya, kalau bagus. Dijaga atuh alamnya! Dijaga atuh hutannya! Di jaga atuh udaranya! Dijaga atuh sungainya! Dijaga juga atuh lautnya!” Mang Ujang berkata mantap. Kami memerhatikan dengan seksama. “Jagalah hutan dengan tidak menebang pohon berlebihan! Kita bisa mengambil atau menebang dengan seperlunya. Tebang pilih.” Mang Ujang menjelaskan. “Jagalah udara dengan selalu mempertahankan tanaman untuk menghasilkan oksigen! Juga dengan tidak memperbanyak polusi! Jagalah sungai dengan tidak membuang sampah ke sungai! Begitu juga laut” Mang Ujang menengok ke belakang. “Mamang takut 10 tahun kedepan kita tidak bisa melihat dan merasakan apa yang kita lihat dan apa yang kita rasakan saat ini.” Rambut gondrongnya melayang ditiup angin. Matanya menyipit. Kata-katanya menusuk dan membuat seakan kami berlimalah yang akan menentukan nasib bumi 10 tahun mendatang.
Mangga atuh, sok ditingali! Mun hayang ningali doang kieu saterusna, sok mangga di jaga. Mun heunteu, sok cicingkeun bae tah rusak!”[]
Oji!!. Jenazah satu jam lagi akan disemayamkan. Tinggal menunggu keluarga dari Jakarta. Kau cepatlah!” Lena memotong lamunanku.
iya nanti aku menyusul sebentar lagi.” Aku tak mau menengok. Aku malu jika Lena tahu bahwa aku menangis.
Aku akan cepat mengkhatamkan ini.
21 mei 2003
“Alam terlalu indah untuk dirusak, disentuh tangan-tangan bedebah, dilenyapkan, dibuang, tidak dimanfaatkan dengan benar. Dan alam terlalu indah untuk tak disyukuri.”
-LOKAL -
LOKAL? Mungkin ini singkatan dari nama kami berlima. Lena, Oji, Kiki Adi, Lilis. Aku tahu, ini bukan kata-katanya. Namun kata-kata kami berlima sewaktu duduk-duduk di dekat Batu Agung.--
Sinar matahari masuk menembus melewati dedaunan. Tentu saja ada sepoy angin yang meniupi dedaunan. Menari diiringi nada dari gemericik air dari sungai yang terjun terhambat batu kali. Suasana yang tak akan pernah kau temukan di kota-kota besar saat ini.
“Dalam ilmu geografi, ada aliran posibilisme yang mengatakan bahwa manusia tidak tergantung lagi pada alam. Dan bahkan bisa menentukan nasib alam” Lena memecah kesunyian. Kami semua menoleh kepadanya.
“Tapi ada juga aliran determinisme yang mengatakan bahwa manusia masih tergantung pada alam. Aku masih percaya aliran ini” Lilis membalas.
“Simpelnya hubungan timbal balik. Manusia menjaga alam. Alam akan menjaga manusia.” Kiki menambahkan.
“Menurutku, alam terlalu indah untuk dirusak,” Lena menambahkan.
“Alam terlalu indah untuk disentuh tangan-tangan bedebah,” kata Lilis.
“Alam terlalu indah untuk tak dimanfaatkan dengan benar,” tambah Kiki.
“Alam terlalu indah untuk dilenyapkan” itu punyaku. Sesaat kami terdiam dan memandangi Adi.Yang dipandangi merasa terganggu.
“Apa? Aku tak…” ia berhenti sejenak lalu mengibaskan tangan. “Baiklah. Alam terlalu indah untuk dibuang!” kami mengernyitkan dahi tak mengerti.
“Maksudmu, Di?” Lilis menantang. Akupun mencoba menengahi. Aku tak mau ada keributan. Kiki malah sibuk mencatat. Lena malah menutup mata.
“baiklah. Intinya, alam memang terlalu indah untuk tak disyukuri.” Kami tersenyum dan bersepakat.
“PRRAAKKK DEBUM!!” terdengar suara pohon tumbang. Kami semua menoleh. Suaranya berasal dari hutan arah utara.
“Itu pasti pasti penebang bedebah dari kota,” ucap Adi dengan emosi.
“Aku sudah bilang. Tak ada bedebah yang boleh menyentuh hutanku” Lilis mengepalkan tinjunya. Nampaknya gadis preman ini siap untuk bertempur. Ia langsung melangkah menuju arah suara berasal.
“Hey, Lis!” Adi menahannya. “Jangan bodoh! Negara ini Negara hukum. Kau bisa dituntut jika ternyata mereka punya ijin.” Yang dituju tak mau menghentikan langkahnya dan justru membatin. “banci!”
“Lilis tunggu!” Lena mengikuti dari belakang. Aku juga mengikuti mereka berdua. Aku juga ingin tahu apa yang akan dilakukan preman kampung ini. Karena bingung, Kiki mengikuti jejak kami.
“Bodoh!” gumam Adi. Ia mulai mengikuti kami dari belakang dengan tampang malas.
Setelah melangkah beberapa saat, kami sampai di tempat mereka. Mereka hanya beritga. Yang satu merobohkan. Yang dua merapihkan hingga siap angkut. Pohon besar yang mereka tumbangkan menimpa pohon kecil sebagai bakal pohon besar. Mereka tak peduli.
“Maaf, Pak!” aku mengeraskan suarauntuk mengalahkan suara dengungan gergaji mesin. Salah satu dari mereka ada yang menoleh. “Uh?”
“Maaf. Apa bapak memiliki ijin?” aku bertanya se-so-pan-mung-kin kepada mereka.
“Hey, Bocah! Pergi main sana. Ini bukan taman bermain,” dengan garang salah satu dari mereka menjawab pertanyaanku. Dua lainnya mendekat dan bertanya tentang keadaan. Yang ditanya hanya mengangkat dagu menunjuk kepada kami.
Lilis yang emosi membalas mereka dengan berteriak. “Hey, Pak! Hutan adalah milik kita bersama. Kita diwajibkan untuk menjaganya. Hutan adalah paru-paru bumi. Bumi membutuhkan hutan untuk bernafas. Bapak malah merusaknya.”
Mereka mengernyitkan dahi. Nampaknya mereka marah. Mereka marah karena kita berlima sudah cukup mengganggu mereka dengan membuang-buang waktu mereka.[]
Aku mencium bau obat-obatan yang jarang sekali aku cium. Tembok bercat putih menjadi background pandanganku. Rumah sakit. Aku terbangun di atas kasur putih empuk. Ibu tertidur disampingku dengan kepalanya berada di aras kasurku. “Aku sayang ibu.” Batinku. Aku tak mau membangunkan Ibu. Aku tahu ia pasti menungguiku semalaman di sini.
Belakangan aku tahu kisahnya dari teman-temanku.--
Setelah mereka bertiga berdiskusi sesaat. Salah satu dari mereka mendekat. Aku yang tidak mengetahuinya baru tersadar ketika balok ranting yang baru mereka potong tepat berada di depan mataku. Hasilnya balok itu tepat menerjang pelipisku. Aku terkapar tak sadarkan diri. Sejenak keempat temanku hanya bisa melihat kaget. Tak ada respon dari mereka. Butuh waktu bagi mereka untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi?
“Ini namanya kekerasan, Pak!” Lena berteriak ketika Kiki dan Adi menggotongku untuk dibawa kerumah.Mereka bertiga hanya tersenyum. “akan kulaporkan kalian pada ketua RT kami!”
Sesampainya di rumah, Ibu terkaget dan shock melihat keadaanku. Ibu yang panik langsung membawaku ke rumah sakit terdekat dengan bantuan Mang Ujang. Jadilah aku yang dipasangi belalai yang akupun tak tahu apa namanya. Berita soal aku yang dihantam oleh para penebang pohon menyebar kemana-mana.
Tiga hari setelah kejadian itu. Polisi menangkap para penebang itu. Ternyata Lilis benar.Mereka tak mempunyai ijin menebang. Mereka adalah penebang liar. Polisi berterimakasih kepada kami.[]
“Kau sudah siuman, Nak?” Ibu yang terbangun karena guncangan tubuhku bertanya sambil menggosok-gosokkan matanya. Aku koma beberapa hari rupanya. Ternyata pukulan penebang itu kuat sekali. Aku mengangguk.
Setelah dokter memperbolehkan aku untuk pulang, kami berlima pergi ketempat dimana mereka menebang pohon. Pelipisku masih diperban. Kami mencoba menanam pohon-pohon yang baru. Mencoba kembali mengembalikan kestabilan hutan.
Semoga anak cucuku masih bisa melihat apa yang kulihat saat ini” ucap Adi. Ia jongkok dan memainkan daun dari pohon kecil yang kami tanam. “alam telah banyak membantu kita.” Lilis mengangguk. Kali ini ia setuju dengan ucapan Adi. Adi berdiri dan berbalik menghadap kepada kami. Kami bias melihat mentari senja memuntahkan jingganya dari leher Adi. Keren.Bagai di film-film. “alam memang terlalu indah untuk tak disyukuri.” Lena menangis haru. Lilis dengan mantap mengangguk.Kiki malah tiduran di atas semak-semak.Aku?Aku tersenyum melihat mereka berempat. Gaya memasukan tangan ke kantong celana menghadap mentari sore. Jingganya mendamaikanku.[]
Alam terlalu indah dilupakan Begitulah penutup buku kecil merah ini. Aku menutup buku harian Kiki dengan senyum dan tetesan air mata haru.“Alam dan kenangan yang indah.”Akupun bangkit. Keluarga dari Jakarta sudah tiba. Dan akan dimakamkan sekarang. “Selamat tinggal Kiki.” Entah apa yang terjadi langkahku menjadi berat. Nafasku juga menjadi sesak. Sekelilingku menjadi lembap.Pandanganku menjadi kabur. Aku tak bias melihat kuningnya dinding kamar Kiki. Ini basah. Aku bias mendengar detak jantungku. “Deg-deg. Deg-deg.” Aku bagai bernafas dalam air. Tersedak. Kakiku tak menyentuh lantai. Susah digerakan. Aku tenggelam dalam sungai.
Aku melihat Kiki, Lena, Lilis mengelilingiku. Dan Adi terbatuk-batuk di sampingku dengan pakaiannya yang basah melirik kepadaku.
“Kiki. Kamu gak mati?” Kiki mengernyitkan dahi.
“Ih Oji aneh. Yang tenggelamkan kamu? Kok malah si Kiki yang mati? Ada juga kamu kali yang mati. Kamu gak papa, Ji?” ucap Lena. Aku mengernyitkan dahi tak mengerti. Setahuku. Tadi aku berada di kamar Kiki dan BUM! Aku ada disini.
“Tadi kita nangkap ikan. Tapi gak tahu kenapa kamu malah nyelem lagi dan gak muncul-muncul. Karena panik Adi langsung nyelem buat nolongin kamu. Kamu kayak orang kesurupan gitu.” Lena mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya kepadaku.Aku menoleh pada Adi. “Nyusahin!” tiba- tiba aku teringat dengan diary dan Batu Ageung.
“Tanggal dan tahun berapa sekarang?”
“Kalo gak salah 12 mei 2003. Ada apa sih?” aku terdiam. Aku tak mengerti. Apakah aku kembali ke masa lalu atau aku bisa melihat masa depan. Atau semua hanya mimpi. Aku memegangi pelipisku. Tak ada. Luka itu tak ada di sana. Tapi aku yakin itu semua seperti nyata. Aku akan tetap merahasiakannya kepada siapapun. Sampai aku tahu yang sesungguhnya
Melihat aku terdiam, Lilis bertanya kepadaku. “Ada apasih, Ji?”
“Enggak. Enggak ada apa-apa kok. Ayo kita lanjutkan pestanya.” Aku berbohong.
“Ayooo!!!” sahut Lena sambil mengepalkan tinju ke langit.
“Emang kamu dapet?” goda Kiki.
“Ayolah. Setidaknya aku mencoba untuk membantu.” Lena merayu Kiki.
“Hahaha. Yasudahlah. Yang penting kita pesta besar hari ini. Oji memang keturunan ikan.” Aku ingat kembali kata-kata itu.[]
10 tahun berlalu.Ternyata aku benar. Ini nyata. Aku, percetakan, Lilis, sekertaris, model, Lena, fotografer, Kiki, penebang liar, semuanya.Kecuali bagian dimana aku terhantam balok kayu itu. Karena aku dapat menangkisnya saat itu. Dan juga bagian dimana aku membaca buku harian Kiki. Aku sudah tahu isinya.
10 tahun berlalu.Mang Ujang benar.Hal yang ditakutinya terjadi. Kebakaran hutan. Longsor. Banjir. Polusi. Bolongnya lapisan ozon. Dan semuanya berubah. Aku menyesali anak cucuku tak bisa melihat apa yang aku lihat waktu masa kecilku. Segala cara dilakukan. Go green. Reboisasi. Carbon tax. Percuma.Manusia memperbaiki sekaligus merusak. Bodoh. Satu-satunya cara adalah seluruh penduduk bumi bersatu, berpegangan tangan, hentikan segala hal yang dapat merusak alam, mulai memperbaikinya, dan mulai menjaganya. Siapa yang bisa memulai? Hanya dirimu yang tahu.
Alam terlalu indah untuk tak disyukuri.

Muhammad Alvin Fauzi
Krapyak, Bantul, Yogyakarta.
14 February 2014
Ketika alam mulai murka dengan kita.
Dan Kelud mendukung dengan memuntahkan abunya


1 Ada apa?

2 Buruan ngelayat ke sana!

3 Yang bener ibu? Jangan suka becanda!

4 Silahkan lihat saja sendiri

5 Banyak-banyakan menangkap ikan yuk!

6 Silahkan dilihat! Jika ingin melihat (pemandangan) ini selamanya, silahkan dijaga! Jika tidak ingin, diamkanlah saja dan tunggu untuk menjadi rusak

7 Ada apa Mang?

No comments:

Post a Comment