“Alam
terlalu indah untuk dirusak, disentuh tangan-tangan bedebah,
dilenyapkan, dibuang, tidak dimanfaatkan dengan benar. Dan alam
terlalu indah untuk tak disyukuri.”
Bebek yang kutunggangi kupaksa
untuk memutar pistonnya lebih cepat.Tak peduli dengan bus yang
meneriakiku karena jarak yang terlalu dekat dengannya. “TIIN...
TIIN!!!”
“Jangan
ugal-ugalan kau bocah.” Aku tak peduli.
Aku
memacu motor lebih, bahkan sangat sangat cepat setelah mendengar
berita buruk itu.[]
“OJI!!!”
teriak ibu dari dapur. Mataku masih merapat “Yaa, Buu! Aya
naon?1”
aku membalas teriakan ibu.
“Ibu
diSMS Pak Hamid. Katanya, si Kiki meninggal semalam. Enggal
ngalayat kaditu!2”
mataku langsung terbuka
sepenuhnya.
Akupun
menghampiri ibu. Karena kamarku cukup dekat dengan dapur. “Nu
bener atuh, Bu? Ulah sok lalagaan!3”
“Sok
atuh tingali bae!4”Ibu
menunjukan SMS dari Pak Hamid. Ternyata benar. Kiki sahabat masa
kecilku telah tiada. Begitulah inti isinya.
Setelah
mencuci muka dan mengambil jaket, aku mencium tangan ibu yang sedang
mencuci piring. Ibu mengelapkan tangannya pada bagian pinggang baju
dasternya. Hasilnya tetap basah.--
Aku
memacu motorku dengan kencang.
Tenda
sederhana berwarna biru berdiri tegak merapat tepat di depan rumah si
kembar Adi&Kiki –mereka teman sepermainan masa kecilku yang
kembar. Kursi yang sering kau temukan pada acara nikahan berjejer
rapih tiga baris ke belakang. Kursi itu digunakan untuk para pelayat
duduk. Bendera kuning kecil sederhana tergantung sebagai tanda duka.
Aku memarkirkan motorku di lahan kosong sebelah rumah Pak Hamid. Aku
langsung menerobos masuk melalui pintu utama.
Suasana
khas rumah duka menyambutku. Mata dan hidung yang memerah karena
tangis.Tissue
menutupi hidung dan mulut.
“HUHUUU”
Mata yang berkaca-kaca dari keluarga, teman terdekat dan tetangga
yang ditinggal
Kiki –Termasuk aku, terpampang jelas.
Kiki –Termasuk aku, terpampang jelas.
Di
tengah mereka, jenazah yang terbungkus kain kafan putih dan
diselimuti dengan kain coklat bermotif batik yang menutupi seluruh
tubuh kecuali di bagian wajah. Juga di antara para pelayat, dua orang
wanita dan seorang pria berkacamata yang duduk berbaur dengan yang
lainnya. mereka menjadi perhatianku kali ini. Akupun mendekati mereka
dan mencoba menyapa.
“Lena,”
kusentuh pundak wanita pertama. Ia berbalik dan langsung memelukku
sambil menangis.
“Oji...
huhuu... Kiki, Oji... Kiki.”
“Iya,
Len. Aku tahu,” aku mengelus-elus pundaknya “Dia pasti bahagia di
sana. Kiki lelaki yang baik, Len. Aku yakin itu.”
Dulu,
Lena adalah gadis yang manja. Kini kuncir duanya berubah menjadi
rambut panjang coklat yang terurai dengan indah. Wajar saja, ia
seorang model. Wanita berpupil mata biru dan berbulu mata lentik ini
menangis dan membasahi jaket biruku. Di sampingnya, wanita cantik
yang dikuncir ekor kuda juga meneteskan air mata. Ia berbalik dan
memelukku lebih erat dari Lena.
“HUHUHU...
OJI!!!” ternyata ia lebih histeris. Namanya Lilis. Dulu ia adalah
gadis preman dan tomboy. Kukira ia tak akan pernah menjadi feminim.
Dulu di kampung kami, lelaki mana yang tidak takut dengan gadis
preman seperti Lilis. Tapi sekarang. Lelaki mana yang tidak jatuh
cinta melihat kecantikannya. Ditambah lagi, ia seorang sekertaris
cantik di salah satu perusahaan besar Ibu kota.
“Sabar
ya, Lis. Sabar.”Air mataku kini menetes tak terbendung membasahi
pipiku. Aku melepaskan pelukan Lilis dan pindah menepuk pundak Adi.
Kakaknya Kiki.
“Yang
sabar, Di.” Adi memandang dengan tatapan kosong.
“Dia
anak yang keras kepala. Aku sudah melarangnya untuk meliput tawuran
antar siswa SMA itu. Aku memang tak pernah setuju ia menjadi wartawan
lapangan. Aku hanya setuju ketika bertugas mengetik berita. Bukan
meliputnya. Seperti inilah akibatnya. ”Ia berhenti sebentar. Adi
menoleh kepadaku. Matanya berkaca. “Menyusahkan semua orang saja.”
air matanya turun dari balik kaca matanya. Ia tetap sama seperti
dulu. Dingin dalam menanggapi setiap hal.Tak banyak bicara.Tapi aku
percaya, dia tidak serius ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.Aku
tahu dia sangat sedih atas kepergian kembarannya.
Pemuda
yang dulunya bersifat dingin ini, kini menjadi fotografer alam. Ia
sangat terobsesi dengan alam. Dan memotret ia akan mengabadikannya.
Berbeda dengan Adi, Kiki merupakan anak yang keras kepala dan senang
menceritakan kisahnya kepada teman-teman. Kini bukan hanya teman yang
mengetahui kisahnya. Namun penduduk Indonesia. Wartawan surat kabar
mingguan menjadi pilihannya.
Aku?
Jangan tanya aku. Aku hanya sarjana kehutanan yang malah bekerja di
sebuah percetakan kecil di Jogja. Sungguh tak ada hubungannya dengan
jurusan kuliah yang aku ambil.Aku tetap bersyukur tidak menganggur.
Tanpa
komando.kakiku langsung melangkah menuju kamarnya Kiki. Anehnya
perhatianku langsung tertuju pada diary merah bertuliskan “My live
my adventure” pada cover
nya. Ini milik Kiki. Akupun mulai membaca halaman demi halaman.
12
mei 2003
Aaahh...
punya diary juga. Udah kayak orang-orang terkenal. Hari ini seperti
biasa, aku berkumpul dengan teman-teman. Kita bermain air di Batu
Ageung. Airnya masih jernih banget. Si Oji dapat banyak ikan. Emang
keturunan ikan kali tuh
anak...--
Aku
tersenyum ketika membacanya.Aku jadi teringat dengan kisah itu.
“Wooy,
Ji..!!! geura turun!!!”
ajak Kiki dari dalam
sungai.
Setelah
melepaskan pakaian –minus celana, aku menyusul Kiki dengan melompat
dari sebuah batu besar yang entah bagaimana mulanya ada di sana.
Itulah kenapa sungai ini disebut “Batu Ageung”.
“BYURR!!”
“Tungguin,
Ji! Takut nih.”Perlahan Lena mencelupkan kakinya kesungai yang
alirannya tidak terlalu deras. Disusul Lilis. Tentunya mereka tidak
melepas pakainnya dan meloncat sepertiku. Bisa repot kalau mereka
melakukannya. Kamipun bermain air dengan saling mencipratkan air.
Senang sekali rasanya.
Burung
bercengkrama dengan sesama di atas pohon. Air sungai mengalir jernih.
Semua ini masih alami. Bagai kami dan sungai bersenang canda tawa
bersama. Hanya dua hal yang tak kulihat bercengkrama. Batu dan Adi.Ia
hanya duduk di atas batu –atau ia sedang bersenang-senang dengan
batu. Bersandar dengan kedua tangannya dan kaki kanannya menyilang di
atas kaki kirinya bersantai. Memandangi sekitar. Sambil tersenyum.
Adipun
bangkit dan berteriak kepada kami yang sedang bersenang-senang.
“Kita
sudah remaja. Janganlah seperti anak kecil! SMP kita hampir lulus.
Sudah sangat dewasa seharusnya.”
“Sudahlah!
Ini liburan terakhir kita.Kita akan berpisah nantinya,” Lilis
membalas.Yang dibalas hanya melambaikan tangannya. “Terserah”.
“Aku
akan kehutan untuk mencari kayu untuk membuat api. Kalian tangkaplah
ikan yang banyak! Kuharap kita pesta ikan besar hari ini,” Adi
berkata sambil mengeluarkan pisau dari pinggangnya dan berbalik
berjalan ke hutan.
Matahari
berada tepat di atas ubunb-ubun. Akulah yang keluar sebagai juaranya.
Dengan torehan 8 ekor ikan. Aku menombak ikan-ikan itu. Kiki, Lena,
Lilis menggunakan cara primitive yang sama. Kejar-jebak-tangkap.
Hasilnya. Kiki hanya dapat 3 ekor. Lilis 2 ekor. Dan Lena tidak dapat
sama sekali.[]
Aku
tersenyum ketika teringat dengan kejadian itu.Ini buku yang menarik.
Aku tak sabar untuk mengkhatamkannya.
Lantas
aku kembali terfokus pada lembar selanjutnya.
17
mei 2003
“Mangga
atuh, sok ditingali! Mun hayang ningali doang kieu saterusna, sok
mangga di jag!. Mun heunteu, sok cicingkeun bae tah rusak!6”
-Mang
Ujang-
Yang
ini bukan kata-katanya.Ini kata-kata mang ujang waktu itu.Waktu itu
kami sedang kebetulan saja lewat di sawah.--
Matahari
mengintipi kami dari balik dedaunan. Tak akan terasa panas di sini.
Karena ketika ultraviolet
menyiram kami, angin juga meniupi kami.
“WOOYYY
BARUDAK!!! Kadieu geh sakedap!” Mang
Ujang dengan sarung yang dikalungkan di pundaknya memanggil kami.
Mang Ujang sering sekali ditakuti oleh anak-anak kampung. Wajar saja,
siapa yang tidak takut dengan rambut gondrong tak terurus dan luka
bacok di pipi kiri Mang Ujang? Kamipun mendekat.
“Silahkan
duduk dulu! Mamang mau cerita.” Kami duduk untuk mengikuti
perintahnya.
“Gimana
Batu Ageung?
Baguskah?”
“Baguslah,
Mang. Orang sekampung juga tahu kalau Batu
Ageung itu bagus.”
“Makannya,
kalau bagus. Dijaga atuh
alamnya! Dijaga atuh
hutannya! Di jaga atuh
udaranya! Dijaga atuh
sungainya! Dijaga juga atuh
lautnya!” Mang Ujang berkata mantap. Kami memerhatikan dengan
seksama. “Jagalah hutan dengan tidak menebang pohon berlebihan!
Kita bisa mengambil atau menebang dengan seperlunya. Tebang pilih.”
Mang Ujang menjelaskan. “Jagalah udara dengan selalu mempertahankan
tanaman untuk menghasilkan oksigen! Juga dengan tidak memperbanyak
polusi! Jagalah sungai dengan tidak membuang sampah ke sungai! Begitu
juga laut” Mang Ujang menengok ke belakang. “Mamang takut 10
tahun kedepan kita tidak bisa melihat dan merasakan apa yang kita
lihat dan apa yang kita rasakan saat ini.” Rambut gondrongnya
melayang ditiup angin. Matanya menyipit. Kata-katanya menusuk dan
membuat seakan kami berlimalah yang akan menentukan nasib bumi 10
tahun mendatang.
“Mangga
atuh, sok ditingali! Mun hayang ningali doang kieu saterusna, sok
mangga di jaga. Mun heunteu, sok cicingkeun bae tah rusak!”[]
“Oji!!.
Jenazah satu jam lagi akan disemayamkan. Tinggal menunggu keluarga
dari Jakarta. Kau cepatlah!” Lena memotong lamunanku.
“iya
nanti aku menyusul sebentar lagi.” Aku tak mau menengok. Aku malu
jika Lena tahu bahwa aku menangis.
Aku
akan cepat mengkhatamkan ini.
21
mei 2003
“Alam
terlalu indah untuk dirusak, disentuh tangan-tangan bedebah,
dilenyapkan, dibuang, tidak dimanfaatkan dengan benar. Dan alam
terlalu indah untuk tak disyukuri.”
-LOKAL
-
LOKAL?
Mungkin ini singkatan dari nama kami berlima. Lena, Oji, Kiki Adi,
Lilis. Aku tahu, ini bukan kata-katanya. Namun kata-kata kami berlima
sewaktu duduk-duduk di dekat Batu
Agung.--
Sinar
matahari masuk menembus melewati dedaunan. Tentu saja ada sepoy angin
yang meniupi dedaunan. Menari diiringi nada dari gemericik air dari
sungai yang terjun terhambat batu kali. Suasana yang tak akan pernah
kau temukan di kota-kota besar saat ini.
“Dalam
ilmu geografi, ada aliran
posibilisme yang
mengatakan bahwa manusia tidak tergantung lagi pada alam. Dan bahkan
bisa menentukan nasib alam” Lena memecah kesunyian. Kami semua
menoleh kepadanya.
“Tapi
ada juga aliran
determinisme yang
mengatakan bahwa manusia masih tergantung pada alam. Aku masih
percaya aliran ini” Lilis membalas.
“Simpelnya
hubungan timbal balik. Manusia menjaga alam. Alam akan menjaga
manusia.” Kiki menambahkan.
“Menurutku,
alam terlalu indah untuk dirusak,” Lena menambahkan.
“Alam
terlalu indah untuk disentuh tangan-tangan bedebah,”
kata Lilis.
“Alam
terlalu indah untuk tak dimanfaatkan dengan benar,” tambah Kiki.
“Alam
terlalu indah untuk dilenyapkan” itu punyaku. Sesaat kami terdiam
dan memandangi Adi.Yang dipandangi merasa terganggu.
“Apa?
Aku tak…” ia berhenti sejenak lalu mengibaskan tangan. “Baiklah.
Alam terlalu indah untuk dibuang!” kami mengernyitkan dahi tak
mengerti.
“Maksudmu,
Di?” Lilis menantang. Akupun mencoba menengahi. Aku tak mau ada
keributan. Kiki malah sibuk mencatat. Lena malah menutup mata.
“baiklah.
Intinya, alam memang terlalu indah untuk tak disyukuri.” Kami
tersenyum dan bersepakat.
“PRRAAKKK
DEBUM!!” terdengar suara pohon tumbang. Kami semua menoleh.
Suaranya berasal dari hutan arah utara.
“Itu
pasti pasti penebang bedebah
dari kota,” ucap Adi dengan emosi.
“Aku
sudah bilang. Tak ada bedebah
yang boleh menyentuh hutanku” Lilis mengepalkan tinjunya. Nampaknya
gadis preman ini siap untuk bertempur. Ia langsung melangkah menuju
arah suara berasal.
“Hey,
Lis!” Adi menahannya. “Jangan bodoh! Negara ini Negara hukum. Kau
bisa dituntut jika ternyata mereka punya ijin.” Yang dituju tak mau
menghentikan langkahnya dan justru membatin. “banci!”
“Lilis
tunggu!” Lena mengikuti dari belakang. Aku juga mengikuti mereka
berdua. Aku juga ingin tahu apa yang akan dilakukan preman kampung
ini. Karena bingung, Kiki mengikuti jejak kami.
“Bodoh!”
gumam Adi. Ia mulai mengikuti kami dari belakang dengan tampang
malas.
Setelah
melangkah beberapa saat, kami sampai di tempat mereka. Mereka hanya
beritga. Yang satu merobohkan. Yang dua merapihkan hingga siap
angkut. Pohon besar yang mereka tumbangkan menimpa pohon kecil
sebagai bakal pohon besar. Mereka tak peduli.
“Maaf,
Pak!” aku mengeraskan suarauntuk mengalahkan suara dengungan
gergaji mesin. Salah satu dari mereka ada yang menoleh. “Uh?”
“Maaf.
Apa bapak memiliki ijin?” aku bertanya se-so-pan-mung-kin kepada
mereka.
“Hey,
Bocah! Pergi main sana. Ini bukan taman bermain,” dengan garang
salah satu dari mereka menjawab pertanyaanku. Dua lainnya mendekat
dan bertanya tentang keadaan. Yang ditanya hanya mengangkat dagu
menunjuk kepada kami.
Lilis
yang emosi membalas mereka dengan berteriak. “Hey, Pak! Hutan
adalah milik kita bersama. Kita diwajibkan untuk menjaganya. Hutan
adalah paru-paru bumi. Bumi membutuhkan hutan untuk bernafas. Bapak
malah merusaknya.”
Mereka
mengernyitkan dahi. Nampaknya mereka marah. Mereka marah karena kita
berlima sudah cukup mengganggu mereka dengan membuang-buang waktu
mereka.[]
Aku
mencium bau obat-obatan yang jarang sekali aku cium. Tembok bercat
putih menjadi background
pandanganku. Rumah
sakit. Aku terbangun di atas kasur putih empuk. Ibu tertidur
disampingku dengan kepalanya berada di aras kasurku. “Aku
sayang ibu.” Batinku.
Aku tak mau membangunkan Ibu. Aku tahu ia pasti menungguiku semalaman
di sini.
Belakangan
aku tahu kisahnya dari teman-temanku.--
Setelah
mereka bertiga berdiskusi sesaat. Salah satu dari mereka mendekat.
Aku yang tidak mengetahuinya baru tersadar ketika balok ranting yang
baru mereka potong tepat berada di depan mataku. Hasilnya balok itu
tepat menerjang pelipisku. Aku terkapar tak sadarkan diri. Sejenak
keempat temanku hanya bisa melihat kaget. Tak ada respon dari
mereka. Butuh waktu bagi mereka untuk mencerna apa yang sebenarnya
terjadi?
“Ini
namanya kekerasan, Pak!” Lena berteriak ketika Kiki dan Adi
menggotongku untuk dibawa kerumah.Mereka bertiga hanya tersenyum.
“akan kulaporkan kalian pada ketua RT kami!”
Sesampainya
di rumah, Ibu terkaget dan shock
melihat keadaanku. Ibu yang panik langsung membawaku ke rumah sakit
terdekat dengan bantuan Mang Ujang. Jadilah aku yang dipasangi
belalai yang akupun tak tahu apa namanya. Berita soal aku yang
dihantam oleh para penebang pohon menyebar kemana-mana.
Tiga
hari setelah kejadian itu. Polisi menangkap para penebang itu.
Ternyata Lilis benar.Mereka tak mempunyai ijin menebang. Mereka
adalah penebang liar. Polisi berterimakasih kepada kami.[]
“Kau
sudah siuman, Nak?” Ibu yang terbangun karena guncangan tubuhku
bertanya sambil menggosok-gosokkan matanya. Aku koma beberapa hari
rupanya. Ternyata pukulan penebang itu kuat sekali. Aku mengangguk.
Setelah
dokter memperbolehkan aku untuk pulang, kami berlima pergi ketempat
dimana mereka menebang pohon. Pelipisku masih diperban. Kami mencoba
menanam pohon-pohon yang baru. Mencoba kembali mengembalikan
kestabilan hutan.
“Semoga
anak cucuku masih bisa melihat apa yang kulihat saat ini” ucap
Adi. Ia jongkok dan memainkan daun dari pohon kecil yang kami tanam.
“alam telah banyak membantu kita.” Lilis mengangguk. Kali ini ia
setuju dengan ucapan Adi. Adi berdiri dan berbalik menghadap kepada
kami. Kami bias melihat mentari senja memuntahkan jingganya dari
leher Adi. Keren.Bagai di film-film. “alam memang terlalu indah
untuk tak disyukuri.” Lena menangis haru. Lilis dengan mantap
mengangguk.Kiki malah tiduran di atas semak-semak.Aku?Aku tersenyum
melihat mereka berempat. Gaya memasukan tangan ke kantong celana
menghadap mentari sore. Jingganya mendamaikanku.[]
Alam
terlalu indah dilupakan Begitulah
penutup buku kecil merah ini. Aku menutup buku harian Kiki dengan
senyum dan tetesan air mata haru.“Alam
dan kenangan yang indah.”Akupun
bangkit. Keluarga dari Jakarta sudah tiba. Dan akan dimakamkan
sekarang. “Selamat
tinggal Kiki.” Entah
apa yang terjadi langkahku menjadi berat. Nafasku juga menjadi sesak.
Sekelilingku menjadi lembap.Pandanganku menjadi kabur. Aku tak bias
melihat kuningnya dinding kamar Kiki. Ini basah. Aku bias mendengar
detak jantungku. “Deg-deg. Deg-deg.” Aku bagai bernafas dalam
air. Tersedak. Kakiku tak menyentuh lantai. Susah digerakan. Aku
tenggelam dalam sungai.
Aku
melihat Kiki, Lena, Lilis mengelilingiku. Dan Adi terbatuk-batuk di
sampingku dengan pakaiannya yang basah melirik kepadaku.
“Kiki.
Kamu gak mati?” Kiki mengernyitkan dahi.
“Ih
Oji aneh. Yang tenggelamkan kamu? Kok malah si Kiki yang mati? Ada
juga kamu kali yang mati. Kamu gak papa, Ji?” ucap Lena. Aku
mengernyitkan dahi tak mengerti. Setahuku. Tadi aku berada di kamar
Kiki dan BUM! Aku ada disini.
“Tadi
kita nangkap ikan. Tapi gak tahu kenapa kamu malah nyelem lagi dan
gak muncul-muncul. Karena panik Adi langsung nyelem buat nolongin
kamu. Kamu kayak orang kesurupan gitu.” Lena mencoba menjelaskan
hal yang sebenarnya kepadaku.Aku menoleh pada Adi. “Nyusahin!”
tiba- tiba aku teringat dengan diary dan Batu
Ageung.
“Tanggal
dan tahun berapa sekarang?”
“Kalo
gak salah 12 mei 2003. Ada apa sih?” aku terdiam. Aku tak mengerti.
Apakah aku kembali ke masa lalu atau aku bisa melihat masa depan.
Atau semua hanya mimpi. Aku memegangi pelipisku. Tak ada. Luka itu
tak ada di sana. Tapi aku yakin itu semua seperti nyata. Aku akan
tetap merahasiakannya kepada siapapun. Sampai aku tahu yang
sesungguhnya
Melihat
aku terdiam, Lilis bertanya kepadaku. “Ada apasih, Ji?”
“Enggak.
Enggak ada apa-apa kok. Ayo kita lanjutkan pestanya.” Aku
berbohong.
“Ayooo!!!”
sahut Lena sambil mengepalkan tinju ke langit.
“Emang
kamu dapet?” goda Kiki.
“Ayolah.
Setidaknya aku mencoba untuk membantu.” Lena merayu Kiki.
“Hahaha.
Yasudahlah. Yang penting kita pesta besar hari ini. Oji memang
keturunan ikan.” Aku ingat kembali kata-kata itu.[]
10
tahun berlalu.Ternyata aku benar. Ini nyata. Aku, percetakan, Lilis,
sekertaris, model, Lena, fotografer, Kiki, penebang liar,
semuanya.Kecuali bagian dimana aku terhantam balok kayu itu. Karena
aku dapat menangkisnya saat itu. Dan juga bagian dimana aku membaca
buku harian Kiki. Aku sudah tahu isinya.
10
tahun berlalu.Mang Ujang benar.Hal yang ditakutinya terjadi.
Kebakaran hutan. Longsor. Banjir. Polusi. Bolongnya lapisan ozon. Dan
semuanya berubah. Aku menyesali anak cucuku tak bisa melihat apa yang
aku lihat waktu masa kecilku. Segala cara dilakukan. Go
green. Reboisasi. Carbon tax. Percuma.Manusia
memperbaiki sekaligus merusak. Bodoh. Satu-satunya cara adalah
seluruh penduduk bumi bersatu, berpegangan tangan, hentikan segala
hal yang dapat merusak alam, mulai memperbaikinya, dan mulai
menjaganya. Siapa yang bisa memulai? Hanya dirimu yang tahu.
Alam
terlalu indah untuk tak disyukuri.
Muhammad
Alvin Fauzi
Krapyak,
Bantul, Yogyakarta.
14
February 2014
Ketika
alam mulai murka dengan kita.
Dan
Kelud mendukung dengan memuntahkan abunya
1
Ada apa?
2 Buruan
ngelayat ke sana!
3 Yang
bener ibu? Jangan suka becanda!
4 Silahkan
lihat saja sendiri
5 Banyak-banyakan
menangkap ikan yuk!
6 Silahkan
dilihat! Jika ingin melihat (pemandangan) ini selamanya, silahkan
dijaga! Jika tidak ingin, diamkanlah saja dan tunggu untuk menjadi
rusak
7 Ada
apa Mang?
No comments:
Post a Comment