Sunyi
dalam seribu kata.Berdiam, terpaku dan mematung.Terdiam sendiri.
Hanya senyuman yang dapat terukir di wajah pria botak berkulit sawo
matang. Tak ada yang ia pandang .Hanya kegelapan yang bisa
tergambar.Dalam pelukan yang terkasihi. Yang kini bangga akan nama
diri.
Waktu
itu misterius. Kita tak akan pernah tahu. Kapan, dan apa yang akan
terjadi pada kita. Waktu kan terus berjalan. Tanpa ada yang bisa
hentikan. Mengganti setiap apa-apa yang akan terganti. Mengganti
siang menjadi malam.Mengganti hari.Mengganti bulan.Mengganti
tahun.Yang dulu masih asyik menggigit dot hingga berlubang, kini
perlahan beranjak dewasa. Kini ia mempunyai teman yang sangat setia
menemani. Menemani daun telinga dikala malam menghampiri.Mencoba
untuk mendengarkan sepatah dua patah kata, bahkan kalimat dari orang
yang sangat dikasihi.“Pubertas!”
“Aliya
Mutia Andrean,” tegas pria berkumis tebal, berseragam guru rapih,
duduk di meja guru. Membaca satu persatu daftar nama-nama anak
muridnya sebelum pelajaran dimulai.Tradisi lama.
“Cie…,”
teriak seorang murid mencoba untuk menggoda anak yang namanya barusan
dipanggil.Memecah tawa seisi kelas.
“Aliya
Mutia aja cukup, Pak!” protes Aliya yang jengkel dan malu karena
tak mau di pasangkan dengan Andrean, si pemilik wajah paling
“rupawan” di sekolah.
“Aliya
sudahlah, bukan hal yang serius kok!” ucap Andrean mencoba untuk
menenangkan Aliya yang sedari tadi geram dengan perlakuan
teman-temannya.
Super
duper serius bagi gue, tuturnya
dalam hati
Kertas-kertas
mulai terpampang di samping kantor guru. Memperjelas, memamerkan
nama-nama siswa dan siswi kelas 12.Seakan kertas itu bercerita.Siapa
yang untung, siapa yang rugi, siapa yang berusaha, dan siapa yang
diusahakan.Percayalah!
“Ibu…
, aku lulus…,” sayup-sayup terdengar suara dengan nada bangga
dari kejauhan. Wanita
paruh baya yang dipanggil itu tampak celingukan mencari sumber suara yang tentunya tak asing lagi di telinganya.Tentu saja.
paruh baya yang dipanggil itu tampak celingukan mencari sumber suara yang tentunya tak asing lagi di telinganya.Tentu saja.
“Ibu
aku lulus, Bu,” di ulanginya kata-kata yang sedari tadi ia teriakan
dari kejauhan. Saat ini ia mulai senang dan bangga dengan kalimat
baru yang mulai tercatat di kamusnya. Lulus.
“Aliya,
kamu lulus, Nak? Syukurlah, Ibu sangat bangga dengan mu, Nak,”
getar bibir wanita paruh baya it uterus berucap rasa syukur dengan
mata yang berkaca-kaca, bangga dengan apa yang diraih putrinya.
Dari
kejauhan, pria botak berkulit sawo matang itu menghampiri
Aliya.Berjalan tergopoh-gopoh dengan sepatu yang mulai lapar, dan
seharusnya menghiasi kaki bagian kiri.Berjalan dengan pakaian lusuh
dan bau yang naujubilah.
“Ngapain
lo deket-deket.Bau tau.Ganggu kesenangan orang aja.Sono pergi! dasar
g*la!” ketus Aliya, sambil mendorong si pria botak hingga
konsentrasi keseimbangannya hilang.
“Uuaa,
li.. yaahh!” mencoba si pria botak itu untuk meraih apa yang sama
sekali tak dapat ia lihat.
“Ngomong
apa sih lu? Ga ngerti gua,” ketus Aliya.Melihat kejadian itu, ibu
hanya bisa mengelus dada, merasakan sakit di lubuk hati yang amat
sangat dalam, “maafkan
anakku tuhan!”
lirih ibu dalam hati.
“Aliya,
sudahlah!” teriak ibu sambil memegangi tangan Aliya yang berusaha
menampar si pria botak.
“Ibu
kenapa sih kita harus ursin orang g*la kayak dia?Keluarganya mana
sih, Bu?” Aliya mengangkat tangannya. Tepat di hadapan pria botak
itu. Menunjuknya.
“Kasihan
dia, Nak.Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Kasihan dia. Lagian
dia tidak mengganggu siapapun kok, trus tempat tidurnya juga di
gudang, bukan di dalem rumah,” ucap ibu sambil memegang erat tangan
Aliya berusaha menjelaskan.
“siang,
Tante,” terdengar sapaan menghampiri mereka berdua.
“eh,
Alisa. Mau ke mana lo?” Tanya Aliya pada Alisa.
“mau
berlayar ke samudera nan jauh. Mendaki gunung nan tinggi.
Berpetualang ke hutan na rimbun…”
“ahh.
Lebay lo. Sok putis pula.” Potong Aliya menghentikan kalimat
temannya.
“ya
pastinya mau ke rumah lo lah, Al. Kita ngerayain kelulusan bareng di
rumah lo ajah. Eh, ngomong-ngomong itu siapa, Al?” kata Alisa
sambil menunjuk si pria botak.
“itu
orang g*la ga punya rumah. Ayo masuk!”.
Di
tengah siang yang terik. Aliya sibuk menyiapkan segala berkas-berkas
yang di butuhkan untuk mendaftarkan dirinya di universitas yang ia
inginkan sejak duduk di bangku kelas 10.
“rapot-rapot
ku mana, Bu?”
“ada
di lemari coklat, Al. cari sendiri yah! Ibu sibuk nih, Al.” teriak
ibu dari dalam kantor masaknya. Dapur. Sambil terus memacu keringat
dan kemampuan untuk menghidangkan hidangan untuk nanti malam.
Dengan
lihai jari jemari Aliya menari. Menyibak tumpukan map dan
kertas-kertas penting yang tertata rapi dalam lemari coklat. Walau
debu-debu sudah terlebih dulu menganggap tumpukan itu tempat tinggal
mereka. Rapot. Ya, tentu saja, tentu saja ia mencari rapot-rapot yang
di simpan ibu di lemari ini. Tapi, maksudnya itu terlupakan sejenak
dengan maksudnya itu. Ia malah memilih membuka album foto-foto semasa
ia kecil dulu. Terbayang-bayang kenangan masa lalu. Saat dimana ia
berhasil menjuari lomba menyanyi. Bahkan saat ini ia lupa kalau ia
bias menyanyi dan menjuarai lomba itu. Bahkan saat ini ia tak bisa
lagi menyanyi. “ih, ternyata gua bisa nyanyi…” batinnya lirih
sambil menarik garis mulut kesamping.
Tariannya
terhenti di selembar kertas kumal. Mata bulatnya menemukan ada
keganjilan dari kertas ini. Bola matanya menangkap ada coretan gambar
empat sosok yang terasa asing baginya. Apa lagi deretan nama yang
menghiasi gambar, di bawah coretan empat gambar orang-orangan ala
seniman cilik. “siapa gerangan pelukis cilik ini?” batinnya.
“Ayah,
Ibu, Dimas, Aliya,” di bacanya setiap nama dari gambar tersebut.
“tunggu, siapa Dimas?” bukan hanya itu. Ekor matanya menangkap
ada tulisan lain, dan langsung ia mencoba mengamati tulisan tersebut.
Aku
pengen jadi pahlawan buat ibu, ayah, dan aliya.
“jangan-jangan
Aliya melihat gambar itu?”,sontak
ibu dalam hati. Mengkhawatirkan sesuatu. Lantas ibu meninggalkan
karyanya. Melangkah perlahan menuju lemari coklat. Khawatir dengan
sesuatu. dan bum!, bagai bom atom meledak di hatinya. Menyakitkan
hati. “Sudah terlamabat,” gumamnya dalam hati. Pemandangan yang
tak pernah di kirim undangan untuk datang, akirnya terpampang di
depan matanya. “Aliya tau itu.” Bukan hanya gambar yang Aliya
temukan, namun juga kepingan Koran usang, dengan tulisan yang di
cetak lebih besar dan tebal. “seorang
anak 7 tahun donorkan mata pada adiknya.” Bertambah
besarlah tanda Tanya dalam fikiran Aliya.
“bodohnya
diriku, menaruh hal semacam itu di sana!” gumam
ibu menyalahkan dirinya sendiri.
“Ibu,
siapa itu Dimas? Dan apa maksud semua ini?” Tanya Aliya pada ibu.
“mungkin
ini saatnya.” Ucap ibu sambil duduk menghampiri Aliya.
Kembali.
Kembali terulang kembali cuplikan cuplikan masa lalu. Bagai rol-rol
film lama yang kusam di putar kembali. “ibu, aku pengen kayak
kakek.” ucap Dimas sambil menunjuk pada foto kakeknya yang menjadi
pahlawan pada masa penjajahan dulu. Ibu tersenyum. Dan mengusap
kepala Dimas. Merasa bangga dengan anaknya yang baru menginjak umur 5
tahun.
Ibu
membungkuk. Berdiri setengah kaki dengan berpangku pada lutut
mensejajarkan kedua wajah mereka. Ibu mengucap dahi anaknya.
Memeluknya erat. “Dimas. Negara kita udah merdeka lamaaa banget.
Jadi, Dimas gak usah perang lagi kayak kakek. Dimas cukup belajar aja
yang rajin. Dimas udah kayak kakek kok. Dan satu lagi. Dimas harus
janji yah. Dimas bakal jaga keluarga Dimas. Dimas harus janji. Dengan
menjaga keluargamu, kamu sudah menjadi pahlawan buat keluarga kamu,
Dimas.” Dengan penuh rasa keibuan. Ibu menjelaskan pada anaknya.
“Ibu.
Dimas janji. Mau jadi pahlawan buat Ibu, Ayah, sama buat dede bayi.”
Janjinya sambil memeluk perut ibu yang sudah terisi 9 bulan lalu.
Sang
bayi mulai menangis, pertanda keluarga bumi baru sudah tiba di sini.
Seakan semua bergembira menyambut kedatangan sang bayi. termasuk
Dimas, yang ikut-ikut ayah meloncat girang, setelah lama duduk
bertopang dagu menunggu kenaikan pangkatnya menjadi “kakak”.
“Sudah
ya dik, jangan nangis terus! Ibu sebentar lagi pulang kok.” ucap
sang kakak, sambil memeluk dan mengasihi sang adik yang baru dua
minggu yang lalu merayakan pesta ulang tahunnya yang ke 2 kalinya.
“Jadi
Dimas itu kakakku?” Tanya Aliya pada ibu. Aliya hanya mendapat
anggukan dari sang ibu.
Sutau
ketika. Setelah berjibaku dengan buasnya Matematika di pelajaran
akhir. Dimas mencoba membuat lidahnya menggeliat karena mencicipi
masakan ibu yang saat itu merupakan masakan favoritnya.
“Aliya
jangan mainin botol itu! Bahaya! nanti tumpah di marahin ayah lagi.
Itu kan buat ayah cuci foto.” Larang ibu sambil sibuk bercengkrama
dengan noda-noda dapur. Wajar saja, karena sang ayah di kenal dengan
si mata lensa. Jadi wajar saja, jika di rumah, mereka harus
bersahabat dengan ribuan foto dan cairan aneh. Dimas yang masih
penasaran dengan kelezatan masakan ibu, masih sibuk memenuhi
perutnya. Ibu masih asyik bercengkrama dengan noda-noda dapurnya,
sedangkan Aliya masih sibuk melanggar apa yang tak diperbolehkan sang
ibu.
Semua
seisi rumah berhamburan menuju satu tempat. Berlari meninggalkan apa
yang menjadi kesibukannya tadi. Terganggu dan terusik. Memaksa mereka
harus merasa tak peduli dengan yang ada di depan mata. Pemandangan
berubah. Semua berubah. Berubah menjadi warna putih. Tembok putih.
Lampu putih. Tentunya. Bau obat-obatan menyerbak menusuk hidung.
Aliya ada di rumah sakit. Dengan lugu saat memainkan cairan aneh itu,
Aliya mencoba menuangkannya ke matanya. Menciptkan teriakan yang
membuat sisi rumah lupa dengan pekerjaan awal. Teriakan yang
memicingkan telinga. Di susul dengan darah yang keluar dari mata.
“maaf,
Ibu sebelumya. Cairan itu sudah masuk terlalu jauh, merusak mata dan
syaraf yang menuju otak. Kami butuh pendonor segera. Saat ini juga.
Namun pihak rumah sakit masih belum mendapatkannya. Tapi operasi
harus segera di laksanakan. Dan maaf, ingatan anak ibu semuanya akan
hilang. namun itu bukan masalah besar bagi anak umur dua tahun. Akan
cepat untuk memulihkannya.” Jelas pria berjas putih yang memakai
kalung aneh di leher kepada ibu sejelas-sejelasnya.
“terus
apa yang harus saya lakukan dok?”, Tanya ibu yang masih mencoba
menahan pukulan telak di hatinya.
“Ibu,
aku saja, Bu. Aku kakaknya. Aku yang harusnya bertanggung jawab atas
kejadian ini,” ucap Dimas yang dari tadi menguping di baliki pintu
putih.
“tidak,
Dimas, tidak. Kamu tak mengerti apa-apa”
“aku
mengerti, Bu. Aliya butuh pendonor. Dan aku bersedia.”
“diam
kamu!” bentak ibu.
“tapi
aku kakaknya.”
“aku
ibunya.” Dimas tersipu malu.
“okey,
aku memang kalah dalam soal jabatan. Tapi, izinkan aku, Bu. Aliya
butuh mata. Aku siap, Bu. ingat janji ku. Aku akan melindungi, dan
rela berkorban untuk keluargaku. Khususnya Aliya, adikku, relakanlah,
Bu!” pinta dimas bersikukuh.
Pria
berjas putih hanya bisa meneteskan air mata melihat kejadian haru di
ruangan putihnya.
“ayo,
Dok. lakukan sekarang!”, pinta Dimas sambil menarik lengan si pria
berjas.
“tapi
Dimas …”
“masa
bodoh. Ayo pergi!” paksa Dimas
Ibu
menangis sejadi-jadinya di ruang tunggu. Menangisi kedua anaknya.
Berharap yang terbaik. Ibu tak bisa mencegah keteguhan hati Dimas.
Menyesal karena tidak bisa menjaga Aliya, dan merasa bodoh karena
telah mengatakan janji bodoh itu. Seakan ada bom atom yang meledak di
hatinya. Meledak berkali lipat lebih besar dari bom Hiroshima dan
Nagasaki.
Si
pria berjas putih kini berbaju tipis warna hijau. Menutup mulut
dengan kain putih. Bertopi, dan menggunakan sarung tangan dari
karet. Berjibaku, menari dengan peralatan bedahnya. Darah dan
keringat bercampur. Di usap halus oleh sang suster. Setelah jarum jam
berputar jauh, Aliya kini bisa di jemput cahaya.
Sukses
air mata memandikan pipi Aliya. Tentunya ibu juga begitu. Menetes
membasai pakaian yang menghiasi tubuh mereka.
“jadi
mata ini punya kakak? Lalu kakak bagaimana nasibnya? Dia selamatkan,
Bu? Selamat kan?” Aliya memburu pertanyaan pada ibu, sambil
menariki baju ibu meminta pertanyaannya segera di jawab.
“tentu
saja, Al. Dia…” perlahan ibu mengangkat tangan, menunjuk ke
halaman depan. Bola mata Aliya bergulir. Mengikuti gerakan tangan
ibu.
“dia
selamat. Dan dia adalah pria yang kau sebut g*la beberapa waktu lalu.
Dialah pria g*la yang duduk di teras sana.”
“KAAKAAAA..K.”
seerat mungkin Aliya memeluk sang kakak. Seakan sudah tak jumpa
berpuluh-puluh tahun lamanya. Haru, mengingat setiap jengkal yang
dilalui dengan sifat acuh tak acuh. Dengan sifat tak sedikitpun
perduli. Menghardik. Tak menganggap.
“tentu
saja. Ketika operasi itu, syaraf matanya juga kena. Menyebabkan ia
tak bisa berfikir jernih lagi. Sampai kejadiannya seperti ini.”
“kenapa
kau sebodoh ini. Kak? Biarlah aku yang seharusnya menanggung
penderitaanmu. Ini ulahku. Ini salahku. Kenapa kau memperdulikan
janji bodohmu itu, Kak?” serbu Aliya pada kakaknya yang tak mampu
berbuat apa-apa lagi.
“lalu
kenapa Ibu tak beritahu aku sejak dulu?”
“kami
sepakat tak mau membuatmu merasa bersalah. Sebagai gantinya, kami
mengabadikan nama Dimas pada nama belakangmu. Agar kami akan ingat
selalu, apa yang dilakukan Dimas sebagai seorang kakak bertahun-tahun
yang lalu. Dimas Andrean, dan Aliya Mutia Andrean.”
Kembali,
sunyi dalam seribu kata. Berdiam terpaku dan mematung. Terdiam
sendiri. Hanya senyuman yang dapat terukir di wajah Dimas. tak ada
yang ia pandang. Hanya kegelapan yang bisa ia tatap. Namun kini dalam
pelukan Aliya yang kini bangga dengan nama Andrean. Di kamarnya.
Malam ini Aliya ingin tidur dengan memeluk pahlawannya. Mungkin,
bukan hanya malam ini. Mungkin untuk selamanya.
Ibu.
Dimas janji. Mau jadi pahlawan buat Ibu, Ayah, sama buat Aliya.
Kembali terngiang.
Seakan beribu lebah masuk kedalam telinga. Membisikan kalimat yang
sama. Mentari membantu menyapa. Kalimat itu kembali terngiang. Bagai
berjuta rol film pendek diputar di belkang mata. Tersaksikan.
Tersimpan. Tuk waktu yang tak terhingga.
Iya,
Nak. Iya. Kau sudah menjadi apa yang kau inginkan. Dan akan selalu,
Nak. Selamanya. Menjadi apa yang selalu kau inginkan. Kaulah pahlawan
bagiku, ibumu. Bagi Aliya adikmu, dan bagi kami semua, keluargamu.
Menjadi pelita ketika kehidupan menjadi kelam. Fajar ketika pagi.
Kupu-kupu yang menghisasi. Mentari dikala senja. Dan rembulan di
gelap malam.
No comments:
Post a Comment