Monday, May 26, 2014

Janji Kakak

         Sunyi dalam seribu kata.Berdiam, terpaku dan mematung.Terdiam sendiri. Hanya senyuman yang dapat terukir di wajah pria botak berkulit sawo matang. Tak ada yang ia pandang .Hanya kegelapan yang bisa tergambar.Dalam pelukan yang terkasihi. Yang kini bangga akan nama diri.
Waktu itu misterius. Kita tak akan pernah tahu. Kapan, dan apa yang akan terjadi pada kita. Waktu kan terus berjalan. Tanpa ada yang bisa hentikan. Mengganti setiap apa-apa yang akan terganti. Mengganti siang menjadi malam.Mengganti hari.Mengganti bulan.Mengganti tahun.Yang dulu masih asyik menggigit dot hingga berlubang, kini perlahan beranjak dewasa. Kini ia mempunyai teman yang sangat setia menemani. Menemani daun telinga dikala malam menghampiri.Mencoba untuk mendengarkan sepatah dua patah kata, bahkan kalimat dari orang yang sangat dikasihi.“Pubertas!”
Aliya Mutia Andrean,” tegas pria berkumis tebal, berseragam guru rapih, duduk di meja guru. Membaca satu persatu daftar nama-nama anak muridnya sebelum pelajaran dimulai.Tradisi lama.
Cie…,” teriak seorang murid mencoba untuk menggoda anak yang namanya barusan dipanggil.Memecah tawa seisi kelas.
Aliya Mutia aja cukup, Pak!” protes Aliya yang jengkel dan malu karena tak mau di pasangkan dengan Andrean, si pemilik wajah paling “rupawan” di sekolah.
Aliya sudahlah, bukan hal yang serius kok!” ucap Andrean mencoba untuk menenangkan Aliya yang sedari tadi geram dengan perlakuan teman-temannya.
Super duper serius bagi gue, tuturnya dalam hati
Kertas-kertas mulai terpampang di samping kantor guru. Memperjelas, memamerkan nama-nama siswa dan siswi kelas 12.Seakan kertas itu bercerita.Siapa yang untung, siapa yang rugi, siapa yang berusaha, dan siapa yang diusahakan.Percayalah!
Ibu… , aku lulus…,” sayup-sayup terdengar suara dengan nada bangga dari kejauhan. Wanita
paruh baya yang dipanggil itu tampak celingukan mencari sumber suara yang tentunya tak asing lagi di telinganya.Tentu saja.
Ibu aku lulus, Bu,” di ulanginya kata-kata yang sedari tadi ia teriakan dari kejauhan. Saat ini ia mulai senang dan bangga dengan kalimat baru yang mulai tercatat di kamusnya. Lulus.
Aliya, kamu lulus, Nak? Syukurlah, Ibu sangat bangga dengan mu, Nak,” getar bibir wanita paruh baya it uterus berucap rasa syukur dengan mata yang berkaca-kaca, bangga dengan apa yang diraih putrinya.
Dari kejauhan, pria botak berkulit sawo matang itu menghampiri Aliya.Berjalan tergopoh-gopoh dengan sepatu yang mulai lapar, dan seharusnya menghiasi kaki bagian kiri.Berjalan dengan pakaian lusuh dan bau yang naujubilah.
Ngapain lo deket-deket.Bau tau.Ganggu kesenangan orang aja.Sono pergi! dasar g*la!” ketus Aliya, sambil mendorong si pria botak hingga konsentrasi keseimbangannya hilang.
Uuaa, li.. yaahh!” mencoba si pria botak itu untuk meraih apa yang sama sekali tak dapat ia lihat.
Ngomong apa sih lu? Ga ngerti gua,” ketus Aliya.Melihat kejadian itu, ibu hanya bisa mengelus dada, merasakan sakit di lubuk hati yang amat sangat dalam, “maafkan anakku tuhan!” lirih ibu dalam hati.
Aliya, sudahlah!” teriak ibu sambil memegangi tangan Aliya yang berusaha menampar si pria botak.
Ibu kenapa sih kita harus ursin orang g*la kayak dia?Keluarganya mana sih, Bu?” Aliya mengangkat tangannya. Tepat di hadapan pria botak itu. Menunjuknya.
Kasihan dia, Nak.Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Kasihan dia. Lagian dia tidak mengganggu siapapun kok, trus tempat tidurnya juga di gudang, bukan di dalem rumah,” ucap ibu sambil memegang erat tangan Aliya berusaha menjelaskan.
“siang, Tante,” terdengar sapaan menghampiri mereka berdua.
“eh, Alisa. Mau ke mana lo?” Tanya Aliya pada Alisa.
mau berlayar ke samudera nan jauh. Mendaki gunung nan tinggi. Berpetualang ke hutan na rimbun…”
“ahh. Lebay lo. Sok putis pula.” Potong Aliya menghentikan kalimat temannya.
“ya pastinya mau ke rumah lo lah, Al. Kita ngerayain kelulusan bareng di rumah lo ajah. Eh, ngomong-ngomong itu siapa, Al?” kata Alisa sambil menunjuk si pria botak.
“itu orang g*la ga punya rumah. Ayo masuk!”.
Di tengah siang yang terik. Aliya sibuk menyiapkan segala berkas-berkas yang di butuhkan untuk mendaftarkan dirinya di universitas yang ia inginkan sejak duduk di bangku kelas 10.
rapot-rapot ku mana, Bu?”
ada di lemari coklat, Al. cari sendiri yah! Ibu sibuk nih, Al.” teriak ibu dari dalam kantor masaknya. Dapur. Sambil terus memacu keringat dan kemampuan untuk menghidangkan hidangan untuk nanti malam.
Dengan lihai jari jemari Aliya menari. Menyibak tumpukan map dan kertas-kertas penting yang tertata rapi dalam lemari coklat. Walau debu-debu sudah terlebih dulu menganggap tumpukan itu tempat tinggal mereka. Rapot. Ya, tentu saja, tentu saja ia mencari rapot-rapot yang di simpan ibu di lemari ini. Tapi, maksudnya itu terlupakan sejenak dengan maksudnya itu. Ia malah memilih membuka album foto-foto semasa ia kecil dulu. Terbayang-bayang kenangan masa lalu. Saat dimana ia berhasil menjuari lomba menyanyi. Bahkan saat ini ia lupa kalau ia bias menyanyi dan menjuarai lomba itu. Bahkan saat ini ia tak bisa lagi menyanyi. “ih, ternyata gua bisa nyanyi…” batinnya lirih sambil menarik garis mulut kesamping.
Tariannya terhenti di selembar kertas kumal. Mata bulatnya menemukan ada keganjilan dari kertas ini. Bola matanya menangkap ada coretan gambar empat sosok yang terasa asing baginya. Apa lagi deretan nama yang menghiasi gambar, di bawah coretan empat gambar orang-orangan ala seniman cilik. “siapa gerangan pelukis cilik ini?” batinnya.
“Ayah, Ibu, Dimas, Aliya,” di bacanya setiap nama dari gambar tersebut. “tunggu, siapa Dimas?” bukan hanya itu. Ekor matanya menangkap ada tulisan lain, dan langsung ia mencoba mengamati tulisan tersebut.
Aku pengen jadi pahlawan buat ibu, ayah, dan aliya.
jangan-jangan Aliya melihat gambar itu?”,sontak ibu dalam hati. Mengkhawatirkan sesuatu. Lantas ibu meninggalkan karyanya. Melangkah perlahan menuju lemari coklat. Khawatir dengan sesuatu. dan bum!, bagai bom atom meledak di hatinya. Menyakitkan hati. “Sudah terlamabat,” gumamnya dalam hati. Pemandangan yang tak pernah di kirim undangan untuk datang, akirnya terpampang di depan matanya. “Aliya tau itu.” Bukan hanya gambar yang Aliya temukan, namun juga kepingan Koran usang, dengan tulisan yang di cetak lebih besar dan tebal. “seorang anak 7 tahun donorkan mata pada adiknya.” Bertambah besarlah tanda Tanya dalam fikiran Aliya.
bodohnya diriku, menaruh hal semacam itu di sana!” gumam ibu menyalahkan dirinya sendiri.
Ibu, siapa itu Dimas? Dan apa maksud semua ini?” Tanya Aliya pada ibu.
“mungkin ini saatnya.” Ucap ibu sambil duduk menghampiri Aliya.
Kembali. Kembali terulang kembali cuplikan cuplikan masa lalu. Bagai rol-rol film lama yang kusam di putar kembali. “ibu, aku pengen kayak kakek.” ucap Dimas sambil menunjuk pada foto kakeknya yang menjadi pahlawan pada masa penjajahan dulu. Ibu tersenyum. Dan mengusap kepala Dimas. Merasa bangga dengan anaknya yang baru menginjak umur 5 tahun.
Ibu membungkuk. Berdiri setengah kaki dengan berpangku pada lutut mensejajarkan kedua wajah mereka. Ibu mengucap dahi anaknya. Memeluknya erat. “Dimas. Negara kita udah merdeka lamaaa banget. Jadi, Dimas gak usah perang lagi kayak kakek. Dimas cukup belajar aja yang rajin. Dimas udah kayak kakek kok. Dan satu lagi. Dimas harus janji yah. Dimas bakal jaga keluarga Dimas. Dimas harus janji. Dengan menjaga keluargamu, kamu sudah menjadi pahlawan buat keluarga kamu, Dimas.” Dengan penuh rasa keibuan. Ibu menjelaskan pada anaknya.
“Ibu. Dimas janji. Mau jadi pahlawan buat Ibu, Ayah, sama buat dede bayi.” Janjinya sambil memeluk perut ibu yang sudah terisi 9 bulan lalu.

Sang bayi mulai menangis, pertanda keluarga bumi baru sudah tiba di sini. Seakan semua bergembira menyambut kedatangan sang bayi. termasuk Dimas, yang ikut-ikut ayah meloncat girang, setelah lama duduk bertopang dagu menunggu kenaikan pangkatnya menjadi “kakak”.
Sudah ya dik, jangan nangis terus! Ibu sebentar lagi pulang kok.” ucap sang kakak, sambil memeluk dan mengasihi sang adik yang baru dua minggu yang lalu merayakan pesta ulang tahunnya yang ke 2 kalinya.
“Jadi Dimas itu kakakku?” Tanya Aliya pada ibu. Aliya hanya mendapat anggukan dari sang ibu.
Sutau ketika. Setelah berjibaku dengan buasnya Matematika di pelajaran akhir. Dimas mencoba membuat lidahnya menggeliat karena mencicipi masakan ibu yang saat itu merupakan masakan favoritnya.
Aliya jangan mainin botol itu! Bahaya! nanti tumpah di marahin ayah lagi. Itu kan buat ayah cuci foto.” Larang ibu sambil sibuk bercengkrama dengan noda-noda dapur. Wajar saja, karena sang ayah di kenal dengan si mata lensa. Jadi wajar saja, jika di rumah, mereka harus bersahabat dengan ribuan foto dan cairan aneh. Dimas yang masih penasaran dengan kelezatan masakan ibu, masih sibuk memenuhi perutnya. Ibu masih asyik bercengkrama dengan noda-noda dapurnya, sedangkan Aliya masih sibuk melanggar apa yang tak diperbolehkan sang ibu.
Semua seisi rumah berhamburan menuju satu tempat. Berlari meninggalkan apa yang menjadi kesibukannya tadi. Terganggu dan terusik. Memaksa mereka harus merasa tak peduli dengan yang ada di depan mata. Pemandangan berubah. Semua berubah. Berubah menjadi warna putih. Tembok putih. Lampu putih. Tentunya. Bau obat-obatan menyerbak menusuk hidung. Aliya ada di rumah sakit. Dengan lugu saat memainkan cairan aneh itu, Aliya mencoba menuangkannya ke matanya. Menciptkan teriakan yang membuat sisi rumah lupa dengan pekerjaan awal. Teriakan yang memicingkan telinga. Di susul dengan darah yang keluar dari mata.
maaf, Ibu sebelumya. Cairan itu sudah masuk terlalu jauh, merusak mata dan syaraf yang menuju otak. Kami butuh pendonor segera. Saat ini juga. Namun pihak rumah sakit masih belum mendapatkannya. Tapi operasi harus segera di laksanakan. Dan maaf, ingatan anak ibu semuanya akan hilang. namun itu bukan masalah besar bagi anak umur dua tahun. Akan cepat untuk memulihkannya.” Jelas pria berjas putih yang memakai kalung aneh di leher kepada ibu sejelas-sejelasnya.
terus apa yang harus saya lakukan dok?”, Tanya ibu yang masih mencoba menahan pukulan telak di hatinya.
Ibu, aku saja, Bu. Aku kakaknya. Aku yang harusnya bertanggung jawab atas kejadian ini,” ucap Dimas yang dari tadi menguping di baliki pintu putih.
tidak, Dimas, tidak. Kamu tak mengerti apa-apa”
“aku mengerti, Bu. Aliya butuh pendonor. Dan aku bersedia.”
“diam kamu!” bentak ibu.
“tapi aku kakaknya.”
“aku ibunya.” Dimas tersipu malu.
okey, aku memang kalah dalam soal jabatan. Tapi, izinkan aku, Bu. Aliya butuh mata. Aku siap, Bu. ingat janji ku. Aku akan melindungi, dan rela berkorban untuk keluargaku. Khususnya Aliya, adikku, relakanlah, Bu!” pinta dimas bersikukuh.
Pria berjas putih hanya bisa meneteskan air mata melihat kejadian haru di ruangan putihnya.
ayo, Dok. lakukan sekarang!”, pinta Dimas sambil menarik lengan si pria berjas.
tapi Dimas …”
masa bodoh. Ayo pergi!” paksa Dimas
Ibu menangis sejadi-jadinya di ruang tunggu. Menangisi kedua anaknya. Berharap yang terbaik. Ibu tak bisa mencegah keteguhan hati Dimas. Menyesal karena tidak bisa menjaga Aliya, dan merasa bodoh karena telah mengatakan janji bodoh itu. Seakan ada bom atom yang meledak di hatinya. Meledak berkali lipat lebih besar dari bom Hiroshima dan Nagasaki.
Si pria berjas putih kini berbaju tipis warna hijau. Menutup mulut dengan kain putih. Bertopi, dan menggunakan sarung tangan dari karet. Berjibaku, menari dengan peralatan bedahnya. Darah dan keringat bercampur. Di usap halus oleh sang suster. Setelah jarum jam berputar jauh, Aliya kini bisa di jemput cahaya.
Sukses air mata memandikan pipi Aliya. Tentunya ibu juga begitu. Menetes membasai pakaian yang menghiasi tubuh mereka.
“jadi mata ini punya kakak? Lalu kakak bagaimana nasibnya? Dia selamatkan, Bu? Selamat kan?” Aliya memburu pertanyaan pada ibu, sambil menariki baju ibu meminta pertanyaannya segera di jawab.
“tentu saja, Al. Dia…” perlahan ibu mengangkat tangan, menunjuk ke halaman depan. Bola mata Aliya bergulir. Mengikuti gerakan tangan ibu.
“dia selamat. Dan dia adalah pria yang kau sebut g*la beberapa waktu lalu. Dialah pria g*la yang duduk di teras sana.”
KAAKAAAA..K.” seerat mungkin Aliya memeluk sang kakak. Seakan sudah tak jumpa berpuluh-puluh tahun lamanya. Haru, mengingat setiap jengkal yang dilalui dengan sifat acuh tak acuh. Dengan sifat tak sedikitpun perduli. Menghardik. Tak menganggap.
tentu saja. Ketika operasi itu, syaraf matanya juga kena. Menyebabkan ia tak bisa berfikir jernih lagi. Sampai kejadiannya seperti ini.”
kenapa kau sebodoh ini. Kak? Biarlah aku yang seharusnya menanggung penderitaanmu. Ini ulahku. Ini salahku. Kenapa kau memperdulikan janji bodohmu itu, Kak?” serbu Aliya pada kakaknya yang tak mampu berbuat apa-apa lagi.
lalu kenapa Ibu tak beritahu aku sejak dulu?”
kami sepakat tak mau membuatmu merasa bersalah. Sebagai gantinya, kami mengabadikan nama Dimas pada nama belakangmu. Agar kami akan ingat selalu, apa yang dilakukan Dimas sebagai seorang kakak bertahun-tahun yang lalu. Dimas Andrean, dan Aliya Mutia Andrean.”
Kembali, sunyi dalam seribu kata. Berdiam terpaku dan mematung. Terdiam sendiri. Hanya senyuman yang dapat terukir di wajah Dimas. tak ada yang ia pandang. Hanya kegelapan yang bisa ia tatap. Namun kini dalam pelukan Aliya yang kini bangga dengan nama Andrean. Di kamarnya. Malam ini Aliya ingin tidur dengan memeluk pahlawannya. Mungkin, bukan hanya malam ini. Mungkin untuk selamanya.
Ibu. Dimas janji. Mau jadi pahlawan buat Ibu, Ayah, sama buat Aliya. Kembali terngiang. Seakan beribu lebah masuk kedalam telinga. Membisikan kalimat yang sama. Mentari membantu menyapa. Kalimat itu kembali terngiang. Bagai berjuta rol film pendek diputar di belkang mata. Tersaksikan. Tersimpan. Tuk waktu yang tak terhingga.
Iya, Nak. Iya. Kau sudah menjadi apa yang kau inginkan. Dan akan selalu, Nak. Selamanya. Menjadi apa yang selalu kau inginkan. Kaulah pahlawan bagiku, ibumu. Bagi Aliya adikmu, dan bagi kami semua, keluargamu. Menjadi pelita ketika kehidupan menjadi kelam. Fajar ketika pagi. Kupu-kupu yang menghisasi. Mentari dikala senja. Dan rembulan di gelap malam.

No comments:

Post a Comment