Monday, May 26, 2014

Mimpi di Senyuman Dede

          “aya nu edan leupas…aya nuedan leupas1 teriak anak-anak kampung sambil memutari seorang pria. Yang ditertawai tidak merespon. Ia hanya tersenyum, dengan kotoran yang menghiasi wajahnya. Baju dengan bolong di sana-sini menandakan bahwa baju tersebut tak pernah di gantinya bertahun-tahun.
          ”hayo geura balalik! Ulah alulin di dieu2!” Pak Sukardi mengibaskan tangannya sambil mengusir anak-anak nakal tersebut. Anak-anak memang suka sekali menggoda Dede. Dede memang gila. Tapi lebih tepat disebut gangguan jiwa. Sehari-hari, pekerjaan Dede hanya mengambil sampah rumah tangga dari warga setempat. Kampung kami memang sangat dekat sekali dengan TPA –tempat pembuangan akhir. Jadi sangat wajar jika pekerjaan pilihannya menyesuaikan dengan situasi sekitar: Tukang sampah!
          “kamu gak papa, De?” Tanya Pak Sukardi dengan lembut pada Dede. Dede menggeleng sambil tersenyum menandakan dia memang baik-baik saja. Namun jika melihat dari tampang Dede, kita pasti tau, Dede tidak baik-baik saja. Pria ini bertampang lusuh –selalu. Pakaian dengan lubang di mana-mana sangat membuktikan bahwa ia tak pernah menggantinya. Rambutnya tipis keriting. Mata yang bengkak seperti sudah di pukuli warga sekampung. Begitu pula bibirnya. Tak ada satupun wanita yang dapat membayangkan bagaimana rasanya dicium oleh Dede. Satu kebiasaanya: Tersenyum. Ia selalu tersenyum. Kapanpun. Dimanapun. Pada siapapun. Bahkan pada rumput yang bergoyang sekalipun. Ada yang salah memang dengan kejiwaannya. Aku tahu betul apa yang di alaminya.
          Sepuluh tahun silam. Aku masih sangat ingat. Dulu aku dan suamiku baru pindah dari kota. Kami memutuskan pindah karena suamiku dipindahtugaskan. Bukan itu ceritanya. Tapi, saat itu semua orang terlihat pucat ketakutan. Asap hitam legam menggumpal di udara. Bagai bola hitam raksaksa di lontarkan seseorang ke udara. Semua orang berteriak histeris. Awalnya tak banyak. Karena kejadian tersebut terjadi ketika matahari belum menunjukan sinarnya. Tetapi adzan subuh sudah terseru di masjid kecil kampung kami. Namun semua mendadak panik ketika sesorang berlari keliling kampung meneriaki kebakaran.
          “kahuruan!!!... Kahuruan3!!!.” Semua terbangun dari tidurnya. Terkaget. Yang rumahnya dekat berusaha menyelamtkan diri dan barang-barang. Takut takut api menjalar ke rumah mereka. Kebakaran terdahsyat di kampung kami. Kebakaran terjadi di gudang minyak milik Pak Karim yang sekaligus membakar rumahnya yang berdiri bersampingan, membawa ketakutan dan iba. Aku melihat jelas kejadian tersebut. Rumahku berjarak tak jauh dari kejadian itu. Dan aku sedang menyapu halaman saat itu. Aku melihat tong yang meledak terbang keudara “DUAARR!!.” Setelah ledakan ketiga aku melihat anak kecil menangis keluar dari gerbang rumah tersebut. Anak itu ialah anak dari Pak Karim: Dede. Dede keluar sambil menangis. Umurnya 10 tahun waktu itu. Setelah warga dan petugas menyisiri lokasi, petugas menemukan jenazah dari seluruh keluarga Dede. Mulai saat itu Dede sebatang kara. Bukan hanya itu, Dede juga diagnosa dokter mengatakan bahwa Dede mengalami gangguan jiwa. Dan kami tidak mempunyai cukup uang untuk menyembuhkannya. Uang iuran kami hanya cukup untuk membayar perawatan jenazah dan luka bakar di tubuh Dede. Namun, Dede bukanlah pribadi yang manja. Walau ia memiliki gangguan jiwa, Dede tak mau diupah jika tidak bekerja. Alhasil, Ia selalu bekerja. Bekerja sendirian selama 10 tahun sebagai tukang angkat sampah dari rumah kami. Mengais sampah demi rupiah untuk menafkahi dirinya sendiri.
          “hoooyy… menta…4 itulah yang selalu diteriakan Dede ketika lewat di depan rumah kami. Meminta ongkos lima ratus rupiah setiap pengambilan sampah. Dede tersenyum. Hanya itu. Dan kami sudah faham. Ia hanya ingin menjemput sampah dan meminta imbalan. Dede tak pernah mengerti soal uang. Ia hanya mengerti kalau seuatu yang diberi warga bisa ditukar dengan sebungkus nasi dan seplastik teh hangat di warung mbok ijah. Dan itu bisa melenyapkan rasa yang mengganggu perutnya –lapar, yang Bahkan ia tak tahu namanya.
          Dede tinggal di tempat paling ujung di kampung kami. Sangat dekat sekali dengan tempat pembuangan sampah akhir. Dan juga sangat dekat dengan tempat mata pencahariannya. Walau Dede tetap tersenyum. Dede hanya tinggal di rumah sepetak yang terbuat dari triplek tipis, hasil gotong royong warga karena iba dengan Dede yang sebatang kara.
          Matahari mencipratkan jingganya di langit kampung. Pergi ke belakang rumah-rumah warga. Mengundang adzan maghrib yang diserukan di masjid kecil. Suara orang tualah yang terdengar dari speaker masjid kecil tersebut. Aku berlari kecil selepas pulang kerja. “sialan. Gara-gara angkot tadi mogok, aku harus berlari ke rumah!” umpatku dalam hati karena takut. Wajar saja karena kampung kami gelap sekali jika malam tiba. Kami belum sempat –belum mampu tepatnya untuk memasang lampu di jalan.
          “halo Ratna, sudah di mana?” terdengar suara suamiku yang membuatku agak tenang, mencemaskan istrinya di ujung telepon.
          “udah di kampung, Mas. Angkotnya mogok tadi” balasku
          “yaudah cepet pulang ya, Rat! Udah maghrib. Balahi5.” Telepon di tutup detelah beberapa kalimat. Suamiku benar. Bahaya berjalan di kampung yang tanpa penerangan malam-malam. Akupun tak mau sebenarnya. Dari kejauhan aku melihat seseorang berdiri dengan mobil dinasnya. Baju lusuh. Dan senyuman. Dede. Dia berdiri sambil memandangi korang yang ia pegang.
          “De, udah maghrib. Pulang atuh. Bahaya malem-malem sendirian” tegurku. Ia memandangku. Lalu Dede tersenyum. Ia menyodorkan Koran yang dipegangnya padaku. Terpampang iklan hape android di Koran tersebut. Dede menunjuk-nunjuk hape tersebut. Awalnya aku mengernyitkan dahi tak mengerti. Namun akhirnya aku mengerti, Dede ingin membeli hape tersebut.
          “pengen beli?” tanyaku untuk mengkonfirmasi perkiraanku. Dede mengangguk. Dede tersenyum. Akupun tertawa kecil. Untuk makan saja susah. Malah ingin beli hape mahal lagi. Untuk apa lagi Dede membeli hape mahal seperti ini. Lalu siapa yang akan ia hubungi.
         “kumpulin uangnya!” seruku padanya. Dede mengangguk.
Keesokan harinya, seperti biasa Dede mendatangi rumah kami. Bersiap menjemput sampah-sampah kami.“BBM naek, Bu. Ongkos naek” ucapnya ketika kuberikan 500 rupiah seperti biasa. “Dede arek meser hape android6tambahnya. Ternyata ia benar-benar ingin membeli hape tersebut. Aku hanya tertawa mendengar ucapan Dede. Tapi tak apalah. Sedikti beramal tidaklah masalah.
***
         Tidak ada satu air matapun yang menetes. Karena memang tidak ada yang menangisi kepergiannya. Warga hanya berkumpul. Merasa iba atas tubuhnya yang tergoletak tak berdaya. Terbujur kaku dengan luka tusukan di dada sebelah kiri. Wajahnya lebam. Darah keluar dari kepala bagian belakangnya. Juga hidung dan mulutnya. Dede tidak terseynum. Sebuah tanda Tanya besar ada di benak kami “siapa yang tega melakukan ini?” Dede tidak memiliki musuh –siapa juga yang mau bermusuhan dengan orang yang memiliki gangguan jiwa. Sungguh miris aku melihat nasibnya. Lima hari lalu Dede masih berteriak di depan rumahku. Meminta uang lebih untuk membeli hape android. Aku hanya tertawa samil memberinya uang 5 ribu rupiah. Sesuai pintanya –walu dengan niat sedekah.
          Dua hari setelah Dede berteriak di rumahku. Sebuah mobil dengan gambar salah satu produsen hape android melintas di jalan kotor kampung kami. Aku sejenak berpikir “mungkinkah Dede?” aku segera mengibaskan pikiran bodoh itu. Mungkin itu hanya orang yang mencari jalan, atau apalah aku tak peduli.
         “maaf Pak Sukardi. Saya yakin tadi menaruh tas saya di atas sana” jelas pria dengan seragam dari produsen hape android tadi. Sambil menunjuk ke tembok pembatas tempat wudhu di masjid kecil kami.
         “mas yakin?” Tanya Pak Sukardi ragu. “di kampung kami jarang –tak pernah malah ada kejadian pencurian. Kampung kami aman, Mas” tambah Pak Sukardi.
          “saya tidak menuduh, Pak. Tapi saya yakin menaruh tas saya di atas tembok itu, Pak.” Mendengar keributan di masjid. Warga sekitar mendekat. Ingin mengetahui apa yang terjadi.
         “ada apa pak?” Tanya Aden. Pemuda seumuran Dede dengan tubuh kurus kekeringan.
         “ini, tasnya mas ini tadi di taruh di atas tembok. Tapi hilang!”
         “emang, isinya apa, Mas?”
         “hape android dari kantor saya, Mas. Itu untuk pemenang acara kuis di televisi.”
         “wah, pasti si Dede itu mah. Kemaren si Dede katanya pengen beli hape android. Pasti si Dede. Moal salah deu7i” semua yang hadir saling menatap dan mengangguk setuju. Karena mereka juga mendengar kalau Dede ingin membeli hape android. Walau mereka ragu Dede yang mencurinya. Tapi mereka berpikir bahwa sifat manusia siapa yang tau?.
         Warga yang marah berbondong-bondong menuju istana Dede. Mereka marah karena Dede telah mencoreng nama baik keamanan kampung. Tak tau terima kasih. Dan masih banyak tuduhan yang disematkan warga pada Dede. Aden tersenyum. Dede keluar dari rumahnya. Dede tersenyum. Beruntung Pak Sukardi sambil membawa polisi berhasil menenangkan dan meredamkan emosi warga. Warga tidak jadi mengamuk di rumah Dede.
        “tenang bapak-bapak! Saya sudah bawa polisi. Biar Pak polisi ini yang menyelidiki kasus ini” teriak Pak Sukardi pada warga, yang diteruskan dengan anggukan Pak Polisi tanda setuju. Dede kembali ke rumah kecilnya. Bersembunyi di balik sarung. Ketakutan. Dede tidak tersenyum kali ini.
***
         Tiga hari setelah keributan. Pak Sukardi menerobos kerumunan kami yang ingin tahu dengan keadaan Dede. Kami tak berani melangkah. Takut-takut kami yang di salahkan atas pembunuhan Dede.
        “astagfirullah! Siapa yang tega melakukan hal kejam seperti ini?” Pak Sukardi melangkah maju. Menutup mata Dede yang masih terbuka dengan tangannya. “innalillahi wainnailaihi roji’uun. Malang sekali nasibmu, Nak.” Dede tewas terduduk. Tangan terkulai di lantai bersimbah darah. Kepala menengadah keatas. Mulut terbuka mengeluarkan darah. Wajah lebam. Juga hidung mengeluarkan darah. Rumah sepetak Dede porak poranda. Kursi panjang yang terbuat dari kayu: tempat biasa ia melepas penat setelah seharian bekerja, tergoletak patah di samping mayat Dede. Bercak darah di baju, di lantai, dan di triplek rumah Dede.
***
         Dua hari sebelum kematian Dede. Tak biasanya semua terbangun setelah subuh berkumandang. Semua penasaran ingin melihat apa yang terjadi. Warga berbondong-bondong membawa Aden yang sudah bonyok ke rumah Pak Sukardi yang menjabat sebagai ketua RT mereka. Warga menyeret pemuda pengangguran berumur 20 tahun ini setelah babak belur dipukuli warga. Sehari setelah warga mengamuk di rumah Dede –karena kasus android, warga menemukan anak Pak Roni memiliki hape android yang di belinya dari Aden dengan harga miring. Sungguh tak mungkin Aden pria pengangguran ini memiliki hape android baru. Setelah di paksa, Adenpun mengaku bahwa ia yang mengambil tas berisi hape android di masjid tempo lalu.
        “tolong, Pak. Jangan lapor polisi, Pak. Uangnya saya balikin, Pak. Hapenya juga saya balikin, Pak. Saya mohon. Saya rela dihukum apa aja, asal jangan lapor polisi. Sieun8 saya mah, Pak. Saya khilaf” mohon Aden pada Pak Sukardi.
        “paehan bae lah9 !” teriak seorang warga.
        “jangan di bunuh juga, Pak. Saya masih pengen hidup.” Melihat Aden yang sudah takut dan memohon. Pak Sukardi berpikir nampaknya Aden jera kali ini. Juga jika Aden dilaporkan ke polisi, dampaknya semua orang akan tahu bahwa kampung mereka sudah tidak aman lagi. Pak Sukardipun berbalik badan. Berusaha membicaraknnya pada warga. Ada perdebatan serius saat itu. Setelah berdebat beberapa saat. Warga setuju untuk menghukum Aden dengan hukuman membersihkan kampung sebulan tanpa bayar. Aden mengangguk –pasrah tanda setuju, walau terpaksa.

***
Tiga hari setelah ditemukannya mayat Dede di rumahnya. Polisi membawa Aden ke penjara. Kali ini Aden tak bisa memohon. Setelah tiga hari penyelidikan. Polisi menemukan bahwa Adenlah pelaku pembunuhan Dede. Polisi juga mengetahui tentang kasus pencurian hape android tempo lalu oleh Aden. Iapun dikenai pasal berlapis. Pencurian dan pembunuhan berencana. Aden membunuh Dede karena ia dendam pada Dede. Aden mengira bahwa Dede lah yang melaporkan kasus pencurian android olehnya pada warga. Ia juga dendam karena jika saja Dede yang kena amuk warga kemarin, dirinya tidak akan tertangkap, dan memukulinya hingga babak belur. Juga memberinya hukuman membersihkan kampung tanpa bayaran. Sungguh pemikiran bodoh Aden.
            Dede hanyalah orang yang tak tahu apa-apa. Hanya orang biasa –tidak biasa sih, karena ia memiliki gangguan jiwa. Yang ingin membeli hape android. Walau hanya pemikiran orang yang memiliki gangguan jiwa, tapi inilah impian Dede yang kita tau tak mungkin terkabul. Namun Dede masih memiliki impian yang kuat. Impiannya untuk membeli hape android –walau hanya seperti mimpi di siang bolong yang tak mungkin terkabul. Kalau Dede saja punya impian. Masa kita engga? Tapi jangan cuma mimpi. Harus berusaha dan berdo’a agar Allah mengabulkan impian kita.
           “hoooyy… menta…10” Dede tetap tersenyum di kedamaiannya.
Krapyak 20 November, 2013 oleh Muhammad Alvin fauzi .red. di tengah kesendirian dan dinginnya malam.
(Dimuat di Horison Edisi April 2015)

1 “ada orang gila lepas”

2 “ayo buru pada pulang! Jangan pada maen di sini!”

3 “kebakaran!!! Kebakaran!!!”

4 “hooy.. minta!!”

5 berbahaya

6 “Dede mau beli hape android”

7 “gak bakal salah lagi”

8 takut

9 “bunuh saja”

10 “hooy minta”

No comments:

Post a Comment