“aya nu edan leupas…aya nuedan
leupas1”
teriak anak-anak kampung sambil memutari seorang pria. Yang
ditertawai tidak merespon. Ia hanya tersenyum, dengan kotoran yang
menghiasi wajahnya. Baju dengan bolong di sana-sini menandakan bahwa
baju tersebut tak pernah di gantinya bertahun-tahun.
”hayo geura balalik! Ulah alulin
di dieu2!”
Pak Sukardi mengibaskan tangannya sambil mengusir anak-anak nakal
tersebut. Anak-anak memang suka sekali menggoda Dede. Dede
memang gila. Tapi lebih tepat disebut gangguan jiwa. Sehari-hari,
pekerjaan Dede hanya mengambil sampah rumah tangga dari warga
setempat. Kampung kami memang sangat dekat sekali dengan TPA –tempat
pembuangan akhir. Jadi sangat wajar jika pekerjaan pilihannya
menyesuaikan dengan situasi sekitar: Tukang sampah!
“kamu gak papa, De?” Tanya Pak
Sukardi dengan lembut pada Dede. Dede menggeleng sambil tersenyum
menandakan dia memang baik-baik saja. Namun jika melihat dari tampang
Dede, kita pasti tau, Dede tidak baik-baik saja. Pria ini bertampang
lusuh –selalu. Pakaian dengan lubang di mana-mana sangat
membuktikan bahwa ia tak pernah menggantinya. Rambutnya tipis
keriting. Mata yang bengkak seperti sudah di pukuli warga sekampung.
Begitu pula bibirnya. Tak ada satupun wanita yang dapat membayangkan
bagaimana rasanya dicium oleh Dede. Satu kebiasaanya: Tersenyum. Ia
selalu tersenyum. Kapanpun. Dimanapun. Pada siapapun. Bahkan pada
rumput yang bergoyang sekalipun. Ada yang salah memang dengan
kejiwaannya. Aku tahu betul apa yang di alaminya.
Sepuluh tahun silam. Aku masih sangat
ingat. Dulu aku dan suamiku baru pindah dari kota. Kami memutuskan
pindah karena suamiku dipindahtugaskan. Bukan itu ceritanya. Tapi,
saat itu semua orang terlihat pucat ketakutan. Asap hitam legam
menggumpal di udara. Bagai bola hitam raksaksa di lontarkan seseorang
ke udara. Semua orang berteriak histeris. Awalnya tak banyak. Karena
kejadian tersebut terjadi ketika matahari belum menunjukan sinarnya.
Tetapi adzan subuh sudah terseru di masjid kecil kampung kami. Namun
semua mendadak panik ketika sesorang berlari keliling kampung
meneriaki kebakaran.
“kahuruan!!!... Kahuruan3!!!.”
Semua terbangun dari tidurnya. Terkaget. Yang rumahnya dekat berusaha
menyelamtkan diri dan barang-barang. Takut takut api menjalar ke
rumah mereka. Kebakaran terdahsyat di kampung kami. Kebakaran terjadi
di gudang minyak milik Pak Karim yang sekaligus membakar rumahnya
yang berdiri bersampingan, membawa ketakutan dan iba. Aku melihat
jelas kejadian tersebut. Rumahku berjarak tak jauh dari kejadian itu.
Dan aku sedang menyapu halaman saat itu. Aku melihat tong yang
meledak terbang keudara “DUAARR!!.” Setelah ledakan ketiga
aku melihat anak kecil menangis keluar dari gerbang rumah tersebut.
Anak itu ialah anak dari Pak Karim: Dede. Dede keluar sambil
menangis. Umurnya 10 tahun waktu itu. Setelah warga dan petugas
menyisiri lokasi, petugas menemukan jenazah dari seluruh keluarga
Dede. Mulai saat itu Dede sebatang kara. Bukan hanya itu, Dede juga
diagnosa dokter mengatakan bahwa Dede mengalami gangguan jiwa. Dan
kami tidak mempunyai cukup uang untuk menyembuhkannya. Uang iuran
kami hanya cukup untuk membayar perawatan jenazah dan luka bakar di
tubuh Dede. Namun, Dede bukanlah pribadi yang manja. Walau ia
memiliki gangguan jiwa, Dede tak mau diupah jika tidak bekerja.
Alhasil, Ia selalu bekerja. Bekerja sendirian selama 10 tahun sebagai
tukang angkat sampah dari rumah kami. Mengais sampah demi rupiah
untuk menafkahi dirinya sendiri.
“hoooyy… menta…4”
itulah yang selalu diteriakan Dede ketika lewat di depan rumah kami.
Meminta ongkos lima ratus rupiah setiap pengambilan sampah. Dede
tersenyum. Hanya itu. Dan kami sudah faham. Ia hanya ingin menjemput
sampah dan meminta imbalan. Dede tak pernah mengerti soal uang. Ia
hanya mengerti kalau seuatu yang diberi warga bisa ditukar dengan
sebungkus nasi dan seplastik teh hangat di warung mbok ijah. Dan itu
bisa melenyapkan rasa yang mengganggu perutnya –lapar, yang Bahkan
ia tak tahu namanya.
Dede tinggal di tempat paling ujung di
kampung kami. Sangat dekat sekali dengan tempat pembuangan sampah
akhir. Dan juga sangat dekat dengan tempat mata pencahariannya. Walau
Dede tetap tersenyum. Dede hanya tinggal di rumah sepetak yang
terbuat dari triplek tipis, hasil gotong royong warga karena iba
dengan Dede yang sebatang kara.
Matahari mencipratkan jingganya di
langit kampung. Pergi ke belakang rumah-rumah warga. Mengundang adzan
maghrib yang diserukan di masjid kecil. Suara orang tualah yang
terdengar dari speaker masjid kecil tersebut. Aku berlari kecil
selepas pulang kerja. “sialan. Gara-gara angkot tadi mogok, aku
harus berlari ke rumah!” umpatku dalam hati karena takut. Wajar
saja karena kampung kami gelap sekali jika malam tiba. Kami belum
sempat –belum mampu tepatnya untuk memasang lampu di jalan.
“halo Ratna, sudah di mana?”
terdengar suara suamiku yang membuatku agak tenang, mencemaskan
istrinya di ujung telepon.
“udah di kampung, Mas. Angkotnya
mogok tadi” balasku
“yaudah cepet pulang ya, Rat! Udah
maghrib. Balahi5.”
Telepon di tutup detelah beberapa kalimat. Suamiku benar. Bahaya
berjalan di kampung yang tanpa penerangan malam-malam. Akupun tak mau
sebenarnya. Dari kejauhan aku melihat seseorang berdiri dengan mobil
dinasnya. Baju lusuh. Dan senyuman. Dede. Dia berdiri sambil
memandangi korang yang ia pegang.
“De, udah maghrib. Pulang atuh.
Bahaya malem-malem sendirian” tegurku. Ia memandangku. Lalu Dede
tersenyum. Ia menyodorkan Koran yang dipegangnya padaku. Terpampang
iklan hape android di Koran tersebut. Dede menunjuk-nunjuk hape
tersebut. Awalnya aku mengernyitkan dahi tak mengerti. Namun akhirnya
aku mengerti, Dede ingin membeli hape tersebut.
“pengen beli?” tanyaku untuk
mengkonfirmasi perkiraanku. Dede mengangguk. Dede tersenyum. Akupun
tertawa kecil. Untuk makan saja susah. Malah ingin beli hape mahal
lagi. Untuk apa lagi Dede membeli hape mahal seperti ini. Lalu siapa
yang akan ia hubungi.
“kumpulin uangnya!” seruku
padanya. Dede mengangguk.
Keesokan harinya, seperti biasa Dede
mendatangi rumah kami. Bersiap menjemput sampah-sampah kami.“BBM
naek, Bu. Ongkos naek” ucapnya ketika kuberikan 500 rupiah
seperti biasa. “Dede arek meser hape android6”
tambahnya. Ternyata ia benar-benar ingin membeli hape tersebut.
Aku hanya tertawa mendengar ucapan Dede. Tapi tak apalah. Sedikti
beramal tidaklah masalah.
***
Tidak ada satu air matapun yang
menetes. Karena memang tidak ada yang menangisi kepergiannya. Warga
hanya berkumpul. Merasa iba atas tubuhnya yang tergoletak tak
berdaya. Terbujur kaku dengan luka tusukan di dada sebelah kiri.
Wajahnya lebam. Darah keluar dari kepala bagian belakangnya. Juga
hidung dan mulutnya. Dede tidak terseynum. Sebuah tanda Tanya besar
ada di benak kami “siapa yang tega melakukan ini?” Dede tidak
memiliki musuh –siapa juga yang mau bermusuhan dengan orang yang
memiliki gangguan jiwa. Sungguh miris aku melihat nasibnya. Lima hari
lalu Dede masih berteriak di depan rumahku. Meminta uang lebih untuk
membeli hape android. Aku hanya tertawa samil memberinya uang 5 ribu
rupiah. Sesuai pintanya –walu dengan niat sedekah.
Dua hari setelah Dede berteriak di
rumahku. Sebuah mobil dengan gambar salah satu produsen hape android
melintas di jalan kotor kampung kami. Aku sejenak berpikir
“mungkinkah Dede?” aku segera mengibaskan pikiran bodoh itu.
Mungkin itu hanya orang yang mencari jalan, atau apalah aku tak
peduli.
“maaf Pak Sukardi. Saya yakin tadi
menaruh tas saya di atas sana” jelas pria dengan seragam dari
produsen hape android tadi. Sambil menunjuk ke tembok pembatas tempat
wudhu di masjid kecil kami.
“mas yakin?” Tanya Pak Sukardi
ragu. “di kampung kami jarang –tak pernah malah ada kejadian
pencurian. Kampung kami aman, Mas” tambah Pak Sukardi.
“saya tidak menuduh, Pak. Tapi saya
yakin menaruh tas saya di atas tembok itu, Pak.” Mendengar
keributan di masjid. Warga sekitar mendekat. Ingin mengetahui apa
yang terjadi.
“ada apa pak?” Tanya Aden. Pemuda
seumuran Dede dengan tubuh kurus kekeringan.
“ini, tasnya mas ini tadi di taruh
di atas tembok. Tapi hilang!”
“emang, isinya apa, Mas?”
“hape android dari kantor saya, Mas.
Itu untuk pemenang acara kuis di televisi.”
“wah, pasti si Dede itu mah.
Kemaren si Dede katanya pengen beli hape android. Pasti si Dede. Moal
salah deu7i”
semua yang hadir saling menatap dan mengangguk setuju. Karena mereka
juga mendengar kalau Dede ingin membeli hape android. Walau mereka
ragu Dede yang mencurinya. Tapi mereka berpikir bahwa sifat manusia
siapa yang tau?.
Warga yang marah berbondong-bondong
menuju istana Dede. Mereka marah karena Dede telah mencoreng
nama baik keamanan kampung. Tak tau terima kasih. Dan masih banyak
tuduhan yang disematkan warga pada Dede. Aden tersenyum. Dede keluar
dari rumahnya. Dede tersenyum. Beruntung Pak Sukardi sambil membawa
polisi berhasil menenangkan dan meredamkan emosi warga. Warga tidak
jadi mengamuk di rumah Dede.
“tenang bapak-bapak! Saya sudah bawa
polisi. Biar Pak polisi ini yang menyelidiki kasus ini” teriak Pak
Sukardi pada warga, yang diteruskan dengan anggukan Pak Polisi tanda
setuju. Dede kembali ke rumah kecilnya. Bersembunyi di balik sarung.
Ketakutan. Dede tidak tersenyum kali ini.
***
Tiga hari setelah keributan. Pak
Sukardi menerobos kerumunan kami yang ingin tahu dengan keadaan Dede.
Kami tak berani melangkah. Takut-takut kami yang di salahkan atas
pembunuhan Dede.
“astagfirullah! Siapa yang tega
melakukan hal kejam seperti ini?” Pak Sukardi melangkah maju.
Menutup mata Dede yang masih terbuka dengan tangannya. “innalillahi
wainnailaihi roji’uun. Malang sekali nasibmu, Nak.” Dede tewas
terduduk. Tangan terkulai di lantai bersimbah darah. Kepala
menengadah keatas. Mulut terbuka mengeluarkan darah. Wajah lebam.
Juga hidung mengeluarkan darah. Rumah sepetak Dede porak poranda.
Kursi panjang yang terbuat dari kayu: tempat biasa ia melepas penat
setelah seharian bekerja, tergoletak patah di samping mayat Dede.
Bercak darah di baju, di lantai, dan di triplek rumah Dede.
***
Dua hari sebelum kematian Dede. Tak
biasanya semua terbangun setelah subuh berkumandang. Semua penasaran
ingin melihat apa yang terjadi. Warga berbondong-bondong membawa Aden
yang sudah bonyok ke rumah Pak Sukardi yang menjabat sebagai ketua RT
mereka. Warga menyeret pemuda pengangguran berumur 20 tahun ini
setelah babak belur dipukuli warga. Sehari setelah warga mengamuk di
rumah Dede –karena kasus android, warga menemukan anak Pak Roni
memiliki hape android yang di belinya dari Aden dengan harga miring.
Sungguh tak mungkin Aden pria pengangguran ini memiliki hape android
baru. Setelah di paksa, Adenpun mengaku bahwa ia yang mengambil tas
berisi hape android di masjid tempo lalu.
“tolong, Pak. Jangan lapor polisi,
Pak. Uangnya saya balikin, Pak. Hapenya juga saya balikin, Pak. Saya
mohon. Saya rela dihukum apa aja, asal jangan lapor polisi. Sieun8
saya mah, Pak. Saya khilaf” mohon Aden pada Pak Sukardi.
“paehan bae lah9
!” teriak seorang warga.
“jangan di bunuh juga, Pak. Saya
masih pengen hidup.” Melihat Aden yang sudah takut dan memohon. Pak
Sukardi berpikir nampaknya Aden jera kali ini. Juga jika Aden
dilaporkan ke polisi, dampaknya semua orang akan tahu bahwa kampung
mereka sudah tidak aman lagi. Pak Sukardipun berbalik badan. Berusaha
membicaraknnya pada warga. Ada perdebatan serius saat itu. Setelah
berdebat beberapa saat. Warga setuju untuk menghukum Aden dengan
hukuman membersihkan kampung sebulan tanpa bayar. Aden mengangguk
–pasrah tanda setuju, walau terpaksa.
***
Tiga hari setelah
ditemukannya mayat Dede di rumahnya. Polisi membawa Aden ke penjara.
Kali ini Aden tak bisa memohon. Setelah tiga hari penyelidikan.
Polisi menemukan bahwa Adenlah pelaku pembunuhan Dede. Polisi juga
mengetahui tentang kasus pencurian hape android tempo lalu oleh Aden.
Iapun dikenai pasal berlapis. Pencurian dan pembunuhan berencana.
Aden membunuh Dede karena ia dendam pada Dede. Aden mengira bahwa
Dede lah yang melaporkan kasus pencurian android olehnya pada warga.
Ia juga dendam karena jika saja Dede yang kena amuk warga kemarin,
dirinya tidak akan tertangkap, dan memukulinya hingga babak belur.
Juga memberinya hukuman membersihkan kampung tanpa bayaran. Sungguh
pemikiran bodoh Aden.
Dede hanyalah orang yang tak tahu
apa-apa. Hanya orang biasa –tidak biasa sih, karena ia memiliki
gangguan jiwa. Yang ingin membeli hape android. Walau hanya pemikiran
orang yang memiliki gangguan jiwa, tapi inilah impian Dede yang kita
tau tak mungkin terkabul. Namun Dede masih memiliki impian yang kuat.
Impiannya untuk membeli hape android –walau hanya seperti mimpi di
siang bolong yang tak mungkin terkabul. Kalau Dede saja punya impian.
Masa kita engga? Tapi jangan cuma mimpi. Harus berusaha dan berdo’a
agar Allah mengabulkan impian kita.
“hoooyy… menta…10”
Dede tetap tersenyum di kedamaiannya.
Krapyak 20 November, 2013 oleh
Muhammad Alvin fauzi .red. di tengah kesendirian dan dinginnya malam.
(Dimuat di Horison Edisi April 2015)
(Dimuat di Horison Edisi April 2015)
1
“ada orang gila lepas”
2
“ayo buru pada pulang! Jangan pada maen di sini!”
3
“kebakaran!!! Kebakaran!!!”
4
“hooy.. minta!!”
5
berbahaya
6
“Dede mau beli hape android”
7
“gak bakal salah lagi”
8
takut
9
“bunuh saja”
10
“hooy minta”
No comments:
Post a Comment