Friday, October 30, 2015

Kehendak

Aku adalah representatif dari naluri dan kehendakku.
Jadi wajar, jika terkadang tak seperti yang dimau.
Jika suatu saat aku ragu.
Ingatkan aku,
Bahwa duniaku adalah kehendakku.
Apa untukku,
Adalah apa yang aku, naluriku, dan kehendakku mau.
Maka, hendaklah jika ketika aku mau,
"Mau-ilah" (inginkalah) hal yang luar biasa yang membantu.
Karena aku,
adalah representatif dari naluri dan kehendakku.

Nikmatnya Sebuah Cobaan (Sebuah Renungan. Hal kecil yang perlu dipertanyakan)



Apakah kau pernah merasakan sebuah masalah yang teramat sangat berat? Sampai kau merasa bahwa kau tak sanggup untuk mengembannya? Sampai kau merasa bahwa kau memiliki masalah paling berat diantara yang lainnya? Apakah kau pernah merasakan sepi? Sampai kau merasa bahwa tak ada satupun yang menemanimu? Sampai kau merasa bahwa taka da satupun orang yang peduli dengan kau dan masalahmu?  Apakah kau pernah merasakan kesedihan yang teramat sangat? Sampai kau tak kuasa membendung semua emosi dan air mata? Sampai kau merasa bahwa kau ingin sekali mengakhiri dunia? Dan apakah…? Sudahlah… jika aku lanjutkan, tak akan habis tulisan ini dengan pertanyaan “apakah?” yang semakin memojokan dirimu dan masalahmu. Jika kau pernah merasakan semua itu, aku ucapkan “Selamat!” karena itu pertanda bahwa kau masihlah menjadi manusia yang Allah SWT sayangi.

Anak Tetesan Hujan



Tetesan, demi tetesan merintik terjatuh menyerbu bumi. Memudarkan sedikit demi sedikit warna kecoklatan aspal yang ditaburi debu-debu jalanan. Ciptakan genangan demi genangan di sana sini. Pria dengan mantol hitam pekat memaksakan motornya menerobos genangan yang membesar di jalanan. Terseok sedikit demi menghindari daerah yang tergenanag lebih dalam. Lantas,kembali menancapkan gasnya. Ia memacu motornya secepat mungkin. Meninggalkan kekhawatiran akan kerusakan mesin karena air. Omelan sang bos karena keterlambatan dirinya lebih menyeramkan untuk dibayangkan dari pada bayangan mesin motornya yang rusak.

Wednesday, June 24, 2015

Bukan Sekedar Pilihan

Apakah benar hidup adalah pilihan? Apakah manusia benar-benar diberikan hak untuk memilih segala urusannya? Lantas, apakah gunanya takdir? Lalu, apa yang terjadi jika manusia salah memilih?
                Bus yang kutumpangi merupakan bus yang jauh dari kata nyaman. Memang karena bukan kenyamanan penumpang yang diprioritaskan. Melainkan kedatangan penumpang yang menjadi nomor wahid. Perjalanan pulangku ini merupakan perjalanan yang penuh dengan konflik batin setelah berkutat lama dengan pertanyaan “Hidup&pilihan.” Keluargaku di Semarang tentu melebarkan tangan, menyambut dengan senang hati putrinya pulang dari Jogja. Semua masalah ini bermulai, sejak aku lulus SMA.

Kau Butiran-Butiranku

Kau duduk termenung, memandang dengan tatapan kosong. Duduk dengan siku di paha, dan tangan menjambak rambutmu. Kau terlihat kacau sekali saat itu. Terduduk di depan kelasmu. Di atas kursi yang terbuat dari kayu dengan kakinya yang terbuat dari besi. Kursi panjang yang dibuat cocok sekali mungkin untukmu yang sedang memikirkan... entahlah. Entah apa yang kau pikirkan. Walau kau duduk diantara kawan yang bermain riang. Engkau tak peduli.

Jujur Rahasia Semesta

Perih, adalah ketika,
  ucapan tak sama,
dengan hati yang berkata.
Dusta, ketika tutupi semesta jiwa,
   proteksi terhadap apa,

IRI

Harus kah aku iri, pada setetes air,
                Ketika aku miliki seluas lautan?
Haruskah aku iri, pada setitik cahaya,
                Ketika aku miliki sang surya?
Haruskah aku iri, pada sedetik waktu,
                Ketika aku miliki dua puluh empat jam?