Image orang lain adalah salah satu hal yang paling diperhitungkan oleh seseorang ketika kita berpenampilan. Seakan penampilan menjadi hal yang utama jika kita hendak menginjakkan kaki di dunia luar. Pergi menutup pintu rumah, dan menyapa orang-orang. Kegiatan yang paling sering kita lakukan. Tidak sedikit dari kita yang mencoba untuk membuat image orang lain terhadap kita sebaik mungkin. Paling tidak senormal mungkin. Dan kebanyakan, cerminlah yang menjadi senjata utama kita.
Hal ini benar-benar terjadi di sekitar lingkungan kita. Dan semua orang juga tahu. Mungkin anda, kakak anda, adik anda, sepupu anda, ibu anda, dari kalangan hawa sangat memperhatikan hal ini. Tak jarang yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin. Merias diri sebaik mungkin. Sesempurna mungkin. Mencari celah walau setitik. Demi mendapat "image baik orang lain." Mungkin ini yang membuat perempuan selalu teliti dalam mengerjakan tugas. Alamiah memang.
Sering pula kita jumpai, kaum hawa yang memutuskan untuk membuat image "sexy" dari orang lain. Rok mini, membuka aurat, dan berbagai macam hal lainnya yang berbau sexy. Tujuan awal mereka merias diri di depan cermin adalah untuk membentuk image tersebut. Atau dalam kata lain "pengen dilihat orang lain." Namun, hal aneh yang terjadi disini, ketika mereka berias diri agar dilihat orang lain, namun, ketika kita memperhatikan mereka, mereka merasa risih. Dan tak jarang yang emosi. Ya saya berbicara disini sebagai perwakilan dari kaum adam untuk protes terhadap keanehan ini. Ingin dilihat, tetapi ketika diperhatikan tidak mau. Ironi memang.
Bukan hal ini saja yang ingin saya bahas kali ini. Marak sekali terjadi kasus penculikan dan pemerkosaan
Monday, May 26, 2014
Mimpi di Senyuman Dede
“aya nu edan leupas…aya nuedan
leupas1”
teriak anak-anak kampung sambil memutari seorang pria. Yang
ditertawai tidak merespon. Ia hanya tersenyum, dengan kotoran yang
menghiasi wajahnya. Baju dengan bolong di sana-sini menandakan bahwa
baju tersebut tak pernah di gantinya bertahun-tahun.
”hayo geura balalik! Ulah alulin
di dieu2!”
Pak Sukardi mengibaskan tangannya sambil mengusir anak-anak nakal
tersebut. Anak-anak memang suka sekali menggoda Dede. Dede
memang gila. Tapi lebih tepat disebut gangguan jiwa. Sehari-hari,
pekerjaan Dede hanya mengambil sampah rumah tangga dari warga
setempat. Kampung kami memang sangat dekat sekali dengan TPA –tempat
pembuangan akhir. Jadi sangat wajar jika pekerjaan pilihannya
menyesuaikan dengan situasi sekitar: Tukang sampah!
“kamu gak papa, De?” Tanya Pak
Sukardi dengan lembut pada Dede. Dede menggeleng sambil tersenyum
menandakan dia memang baik-baik saja. Namun jika melihat dari tampang
Dede, kita pasti tau, Dede tidak baik-baik saja. Pria ini bertampang
lusuh –selalu. Pakaian dengan lubang di mana-mana sangat
membuktikan bahwa ia tak pernah menggantinya. Rambutnya tipis
keriting. Mata yang bengkak seperti sudah di pukuli warga sekampung.
Begitu pula bibirnya. Tak ada satupun wanita yang dapat membayangkan
bagaimana rasanya dicium oleh Dede. Satu kebiasaanya: Tersenyum. Ia
selalu tersenyum. Kapanpun. Dimanapun. Pada siapapun. Bahkan pada
rumput yang bergoyang sekalipun. Ada yang salah memang dengan
kejiwaannya. Aku tahu betul apa yang di alaminya.
Sepuluh tahun silam. Aku masih sangat
ingat. Dulu aku dan suamiku baru pindah dari kota. Kami memutuskan
pindah karena suamiku dipindahtugaskan. Bukan itu ceritanya. Tapi,
saat itu semua orang terlihat pucat ketakutan. Asap hitam legam
menggumpal di udara. Bagai bola hitam raksaksa di lontarkan seseorang
ke udara. Semua orang berteriak histeris. Awalnya tak banyak. Karena
kejadian tersebut terjadi ketika matahari belum menunjukan sinarnya.
Tetapi adzan subuh sudah terseru di masjid kecil kampung kami. Namun
semua mendadak panik ketika sesorang berlari keliling kampung
meneriaki kebakaran.
Janji Kakak
Sunyi
dalam seribu kata.Berdiam, terpaku dan mematung.Terdiam sendiri.
Hanya senyuman yang dapat terukir di wajah pria botak berkulit sawo
matang. Tak ada yang ia pandang .Hanya kegelapan yang bisa
tergambar.Dalam pelukan yang terkasihi. Yang kini bangga akan nama
diri.
Waktu
itu misterius. Kita tak akan pernah tahu. Kapan, dan apa yang akan
terjadi pada kita. Waktu kan terus berjalan. Tanpa ada yang bisa
hentikan. Mengganti setiap apa-apa yang akan terganti. Mengganti
siang menjadi malam.Mengganti hari.Mengganti bulan.Mengganti
tahun.Yang dulu masih asyik menggigit dot hingga berlubang, kini
perlahan beranjak dewasa. Kini ia mempunyai teman yang sangat setia
menemani. Menemani daun telinga dikala malam menghampiri.Mencoba
untuk mendengarkan sepatah dua patah kata, bahkan kalimat dari orang
yang sangat dikasihi.“Pubertas!”
“Aliya
Mutia Andrean,” tegas pria berkumis tebal, berseragam guru rapih,
duduk di meja guru. Membaca satu persatu daftar nama-nama anak
muridnya sebelum pelajaran dimulai.Tradisi lama.
“Cie…,”
teriak seorang murid mencoba untuk menggoda anak yang namanya barusan
dipanggil.Memecah tawa seisi kelas.
“Aliya
Mutia aja cukup, Pak!” protes Aliya yang jengkel dan malu karena
tak mau di pasangkan dengan Andrean, si pemilik wajah paling
“rupawan” di sekolah.
“Aliya
sudahlah, bukan hal yang serius kok!” ucap Andrean mencoba untuk
menenangkan Aliya yang sedari tadi geram dengan perlakuan
teman-temannya.
Super
duper serius bagi gue, tuturnya
dalam hati
Kertas-kertas
mulai terpampang di samping kantor guru. Memperjelas, memamerkan
nama-nama siswa dan siswi kelas 12.Seakan kertas itu bercerita.Siapa
yang untung, siapa yang rugi, siapa yang berusaha, dan siapa yang
diusahakan.Percayalah!
“Ibu…
, aku lulus…,” sayup-sayup terdengar suara dengan nada bangga
dari kejauhan. Wanita
Goresan Tinta terakhir
“Alam
terlalu indah untuk dirusak, disentuh tangan-tangan bedebah,
dilenyapkan, dibuang, tidak dimanfaatkan dengan benar. Dan alam
terlalu indah untuk tak disyukuri.”
Bebek yang kutunggangi kupaksa
untuk memutar pistonnya lebih cepat.Tak peduli dengan bus yang
meneriakiku karena jarak yang terlalu dekat dengannya. “TIIN...
TIIN!!!”
“Jangan
ugal-ugalan kau bocah.” Aku tak peduli.
Aku
memacu motor lebih, bahkan sangat sangat cepat setelah mendengar
berita buruk itu.[]
“OJI!!!”
teriak ibu dari dapur. Mataku masih merapat “Yaa, Buu! Aya
naon?1”
aku membalas teriakan ibu.
“Ibu
diSMS Pak Hamid. Katanya, si Kiki meninggal semalam. Enggal
ngalayat kaditu!2”
mataku langsung terbuka
sepenuhnya.
Akupun
menghampiri ibu. Karena kamarku cukup dekat dengan dapur. “Nu
bener atuh, Bu? Ulah sok lalagaan!3”
“Sok
atuh tingali bae!4”Ibu
menunjukan SMS dari Pak Hamid. Ternyata benar. Kiki sahabat masa
kecilku telah tiada. Begitulah inti isinya.
Setelah
mencuci muka dan mengambil jaket, aku mencium tangan ibu yang sedang
mencuci piring. Ibu mengelapkan tangannya pada bagian pinggang baju
dasternya. Hasilnya tetap basah.--
Aku
memacu motorku dengan kencang.
Tenda
sederhana berwarna biru berdiri tegak merapat tepat di depan rumah si
kembar Adi&Kiki –mereka teman sepermainan masa kecilku yang
kembar. Kursi yang sering kau temukan pada acara nikahan berjejer
rapih tiga baris ke belakang. Kursi itu digunakan untuk para pelayat
duduk. Bendera kuning kecil sederhana tergantung sebagai tanda duka.
Aku memarkirkan motorku di lahan kosong sebelah rumah Pak Hamid. Aku
langsung menerobos masuk melalui pintu utama.
Suasana
khas rumah duka menyambutku. Mata dan hidung yang memerah karena
tangis.Tissue
menutupi hidung dan mulut.
“HUHUUU”
Mata yang berkaca-kaca dari keluarga, teman terdekat dan tetangga
yang ditinggal
Friday, May 23, 2014
NamakuH MaharaniH PutriH PalupiH
Puluhan, bahkan
ratusan pasang alas kaki terangkat ke udara. Orang-orang berlalu
lalang di taman kota. Entah apapun maksud dan tujuan mereka.
Menikmati indahnya taman, atau sekedar untuk mempersingkat perjalanan
menuju tempat tujuan mereka. Mereka hanya sibuk dengan urusan mereka
masing-masing. Taka ada yang peduli satu sama lain. Bahkan hanya
untuk sekedar menyapa.
Langit terlihat cerah walau sekarang
berada di musim penghujan. Seakan ada yang spesial dengan hari ini.
Tapi tidak dengan hatiku. Hatiku merasakan kebalikannya: Mendung tak
secerah biasanya. Kau bayangkan. Silih berganti masalah datang
menimpaku. Membuatku bad mood saja. Mulai dari guru sejarah
yang menjengkelkan, juga mamih yang menjengkelkan. Akulah pemilik
masalah terbesar di dunia.—
“Dafa! Kamu memerhatikan pelajaran
saya tidak?” pak Dendi guru sejarah yang menjengkelkan itu
membentakku karena aku tak memerhatikan pelajarannya. Dari tadi aku
sibuk memerhatikan jendela yang basah. Di luar sedang turun hujan.
“Enggak, Pa. Saya lagi bad mood
nih, Pak.” Kata-kata itu meluncur begitu saja. Aku berbicara
dengan tidak sedetikpun meliriknya. Aku tahu Pak Dendi mesti marah
besar kepadaku. Ia mengecak pinggang, menggeleng, dan menarik nafas
dalam-dalam.
“Dafa Andrean Al-ghazali! Kamu
keluar dari kelas saya!” ia benar benar marah kali ini. Aku
menoleh. Kalimat terakhirnya benar-benar membuat kelas hening kali
ini.
“Bapak mengusir saya?” aku
bertanya dengan nada merendah. “Apa bapak tahu? Ayah saya, Hamid
Budi Al-ghazali adalah penyumbang terbesar di sekolah ini. Bapak
tentu tahu itu.” Pak Dendi terkejut dengan apa yang kukatakan.
Bagaimana lagi? Aku terlanjur sebal.
“Baiklah, bapak tak perlu
berkomentar apa-apa. Saya akan keluar dari kelas yang membosankan
ini. Saya akan keluar.” Aku mengibaskan tangan pada Pak Dendi. Aku
pulang.
Monday, May 19, 2014
Mau sarjana? Think Again!
Setiap orang tentu saja menginginkan hal yang terbaik untuk dirinya sendiri. Entah dari segi kesehatan, jodoh, harta, pendidikan, nasib, dan yang lainnya. Terutama dalam hal pendidikan. Karena dengan memiliki pendidikan yan tinggi, mereka bisa mendapatkan pekerjaan bagus, derajat yang tinggi, jabatan tinggi, penghasilan tinggi, keluarga bahagia, dan segla hal yang sering mereka bayang-bayangkan atau yang mereka impi-impikan. Dan langkah awal yang mereka pilih adalah: memilih dan bersekolah di universitas ternama, dan jadi sarjana.
Masalah sarjana. Kebanyakan orang berbondong-bondong tiap tahunnya untuk mendaftar di sebuah universitas yang mereka impikan (tentunya yang sesuai kemampuan dan keinginan mereka). Berharap
Masalah sarjana. Kebanyakan orang berbondong-bondong tiap tahunnya untuk mendaftar di sebuah universitas yang mereka impikan (tentunya yang sesuai kemampuan dan keinginan mereka). Berharap
Subscribe to:
Comments (Atom)