Monday, May 26, 2014

Wanita dan pakaian mereka

Image orang lain adalah salah satu hal yang paling diperhitungkan oleh seseorang ketika kita berpenampilan. Seakan penampilan menjadi hal yang utama jika kita hendak menginjakkan kaki di dunia luar. Pergi menutup pintu rumah, dan menyapa orang-orang. Kegiatan yang paling sering kita lakukan. Tidak sedikit dari kita yang mencoba untuk membuat image orang lain terhadap kita sebaik mungkin. Paling tidak senormal mungkin. Dan kebanyakan, cerminlah yang menjadi senjata utama kita.
Hal ini benar-benar terjadi di sekitar lingkungan kita. Dan semua orang juga tahu. Mungkin anda, kakak anda, adik anda, sepupu anda, ibu anda, dari kalangan hawa sangat memperhatikan hal ini. Tak jarang yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin. Merias diri sebaik mungkin. Sesempurna mungkin. Mencari celah walau setitik. Demi mendapat "image baik orang lain." Mungkin ini yang membuat perempuan selalu teliti dalam mengerjakan tugas. Alamiah memang.
Sering pula kita jumpai, kaum hawa yang memutuskan untuk membuat image "sexy" dari orang lain. Rok mini, membuka aurat, dan berbagai macam hal lainnya yang berbau sexy. Tujuan awal mereka merias diri di depan cermin adalah untuk membentuk image tersebut. Atau dalam kata lain "pengen dilihat orang lain." Namun, hal aneh yang terjadi disini, ketika mereka berias diri agar dilihat orang lain, namun, ketika kita memperhatikan mereka, mereka merasa risih. Dan tak jarang yang emosi. Ya saya berbicara disini sebagai perwakilan dari kaum adam untuk protes terhadap keanehan ini. Ingin dilihat, tetapi ketika diperhatikan tidak mau. Ironi memang.
Bukan hal ini saja yang ingin saya bahas kali ini. Marak sekali terjadi kasus penculikan dan pemerkosaan

Mimpi di Senyuman Dede

          “aya nu edan leupas…aya nuedan leupas1 teriak anak-anak kampung sambil memutari seorang pria. Yang ditertawai tidak merespon. Ia hanya tersenyum, dengan kotoran yang menghiasi wajahnya. Baju dengan bolong di sana-sini menandakan bahwa baju tersebut tak pernah di gantinya bertahun-tahun.
          ”hayo geura balalik! Ulah alulin di dieu2!” Pak Sukardi mengibaskan tangannya sambil mengusir anak-anak nakal tersebut. Anak-anak memang suka sekali menggoda Dede. Dede memang gila. Tapi lebih tepat disebut gangguan jiwa. Sehari-hari, pekerjaan Dede hanya mengambil sampah rumah tangga dari warga setempat. Kampung kami memang sangat dekat sekali dengan TPA –tempat pembuangan akhir. Jadi sangat wajar jika pekerjaan pilihannya menyesuaikan dengan situasi sekitar: Tukang sampah!
          “kamu gak papa, De?” Tanya Pak Sukardi dengan lembut pada Dede. Dede menggeleng sambil tersenyum menandakan dia memang baik-baik saja. Namun jika melihat dari tampang Dede, kita pasti tau, Dede tidak baik-baik saja. Pria ini bertampang lusuh –selalu. Pakaian dengan lubang di mana-mana sangat membuktikan bahwa ia tak pernah menggantinya. Rambutnya tipis keriting. Mata yang bengkak seperti sudah di pukuli warga sekampung. Begitu pula bibirnya. Tak ada satupun wanita yang dapat membayangkan bagaimana rasanya dicium oleh Dede. Satu kebiasaanya: Tersenyum. Ia selalu tersenyum. Kapanpun. Dimanapun. Pada siapapun. Bahkan pada rumput yang bergoyang sekalipun. Ada yang salah memang dengan kejiwaannya. Aku tahu betul apa yang di alaminya.
          Sepuluh tahun silam. Aku masih sangat ingat. Dulu aku dan suamiku baru pindah dari kota. Kami memutuskan pindah karena suamiku dipindahtugaskan. Bukan itu ceritanya. Tapi, saat itu semua orang terlihat pucat ketakutan. Asap hitam legam menggumpal di udara. Bagai bola hitam raksaksa di lontarkan seseorang ke udara. Semua orang berteriak histeris. Awalnya tak banyak. Karena kejadian tersebut terjadi ketika matahari belum menunjukan sinarnya. Tetapi adzan subuh sudah terseru di masjid kecil kampung kami. Namun semua mendadak panik ketika sesorang berlari keliling kampung meneriaki kebakaran.

Janji Kakak

         Sunyi dalam seribu kata.Berdiam, terpaku dan mematung.Terdiam sendiri. Hanya senyuman yang dapat terukir di wajah pria botak berkulit sawo matang. Tak ada yang ia pandang .Hanya kegelapan yang bisa tergambar.Dalam pelukan yang terkasihi. Yang kini bangga akan nama diri.
Waktu itu misterius. Kita tak akan pernah tahu. Kapan, dan apa yang akan terjadi pada kita. Waktu kan terus berjalan. Tanpa ada yang bisa hentikan. Mengganti setiap apa-apa yang akan terganti. Mengganti siang menjadi malam.Mengganti hari.Mengganti bulan.Mengganti tahun.Yang dulu masih asyik menggigit dot hingga berlubang, kini perlahan beranjak dewasa. Kini ia mempunyai teman yang sangat setia menemani. Menemani daun telinga dikala malam menghampiri.Mencoba untuk mendengarkan sepatah dua patah kata, bahkan kalimat dari orang yang sangat dikasihi.“Pubertas!”
Aliya Mutia Andrean,” tegas pria berkumis tebal, berseragam guru rapih, duduk di meja guru. Membaca satu persatu daftar nama-nama anak muridnya sebelum pelajaran dimulai.Tradisi lama.
Cie…,” teriak seorang murid mencoba untuk menggoda anak yang namanya barusan dipanggil.Memecah tawa seisi kelas.
Aliya Mutia aja cukup, Pak!” protes Aliya yang jengkel dan malu karena tak mau di pasangkan dengan Andrean, si pemilik wajah paling “rupawan” di sekolah.
Aliya sudahlah, bukan hal yang serius kok!” ucap Andrean mencoba untuk menenangkan Aliya yang sedari tadi geram dengan perlakuan teman-temannya.
Super duper serius bagi gue, tuturnya dalam hati
Kertas-kertas mulai terpampang di samping kantor guru. Memperjelas, memamerkan nama-nama siswa dan siswi kelas 12.Seakan kertas itu bercerita.Siapa yang untung, siapa yang rugi, siapa yang berusaha, dan siapa yang diusahakan.Percayalah!
Ibu… , aku lulus…,” sayup-sayup terdengar suara dengan nada bangga dari kejauhan. Wanita

Goresan Tinta terakhir

Alam terlalu indah untuk dirusak, disentuh tangan-tangan bedebah, dilenyapkan, dibuang, tidak dimanfaatkan dengan benar. Dan alam terlalu indah untuk tak disyukuri.”
Bebek yang kutunggangi kupaksa untuk memutar pistonnya lebih cepat.Tak peduli dengan bus yang meneriakiku karena jarak yang terlalu dekat dengannya. “TIIN... TIIN!!!”
Jangan ugal-ugalan kau bocah.” Aku tak peduli.
Aku memacu motor lebih, bahkan sangat sangat cepat setelah mendengar berita buruk itu.[]
“OJI!!!” teriak ibu dari dapur. Mataku masih merapat “Yaa, Buu! Aya naon?1” aku membalas teriakan ibu.
“Ibu diSMS Pak Hamid. Katanya, si Kiki meninggal semalam. Enggal ngalayat kaditu!2mataku langsung terbuka sepenuhnya.
Akupun menghampiri ibu. Karena kamarku cukup dekat dengan dapur. “Nu bener atuh, Bu? Ulah sok lalagaan!3
“Sok atuh tingali bae!4Ibu menunjukan SMS dari Pak Hamid. Ternyata benar. Kiki sahabat masa kecilku telah tiada. Begitulah inti isinya.
Setelah mencuci muka dan mengambil jaket, aku mencium tangan ibu yang sedang mencuci piring. Ibu mengelapkan tangannya pada bagian pinggang baju dasternya. Hasilnya tetap basah.--
Aku memacu motorku dengan kencang.
Tenda sederhana berwarna biru berdiri tegak merapat tepat di depan rumah si kembar Adi&Kiki –mereka teman sepermainan masa kecilku yang kembar. Kursi yang sering kau temukan pada acara nikahan berjejer rapih tiga baris ke belakang. Kursi itu digunakan untuk para pelayat duduk. Bendera kuning kecil sederhana tergantung sebagai tanda duka. Aku memarkirkan motorku di lahan kosong sebelah rumah Pak Hamid. Aku langsung menerobos masuk melalui pintu utama.
Suasana khas rumah duka menyambutku. Mata dan hidung yang memerah karena tangis.Tissue menutupi hidung dan mulut.
HUHUUU” Mata yang berkaca-kaca dari keluarga, teman terdekat dan tetangga yang ditinggal

Friday, May 23, 2014

NamakuH MaharaniH PutriH PalupiH

Puluhan, bahkan ratusan pasang alas kaki terangkat ke udara. Orang-orang berlalu lalang di taman kota. Entah apapun maksud dan tujuan mereka. Menikmati indahnya taman, atau sekedar untuk mempersingkat perjalanan menuju tempat tujuan mereka. Mereka hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Taka ada yang peduli satu sama lain. Bahkan hanya untuk sekedar menyapa.
            Langit terlihat cerah walau sekarang berada di musim penghujan. Seakan ada yang spesial dengan hari ini. Tapi tidak dengan hatiku. Hatiku merasakan kebalikannya: Mendung tak secerah biasanya. Kau bayangkan. Silih berganti masalah datang menimpaku. Membuatku bad mood saja. Mulai dari guru sejarah yang menjengkelkan, juga mamih yang menjengkelkan. Akulah pemilik masalah terbesar di dunia.—
           “Dafa! Kamu memerhatikan pelajaran saya tidak?” pak Dendi guru sejarah yang menjengkelkan itu membentakku karena aku tak memerhatikan pelajarannya. Dari tadi aku sibuk memerhatikan jendela yang basah. Di luar sedang turun hujan.
            “Enggak, Pa. Saya lagi bad mood nih, Pak.” Kata-kata itu meluncur begitu saja. Aku berbicara dengan tidak sedetikpun meliriknya. Aku tahu Pak Dendi mesti marah besar kepadaku. Ia mengecak pinggang, menggeleng, dan menarik nafas dalam-dalam.
            “Dafa Andrean Al-ghazali! Kamu keluar dari kelas saya!” ia benar benar marah kali ini. Aku menoleh. Kalimat terakhirnya benar-benar membuat kelas hening kali ini.
             “Bapak mengusir saya?” aku bertanya dengan nada merendah. “Apa bapak tahu? Ayah saya, Hamid Budi Al-ghazali adalah penyumbang terbesar di sekolah ini. Bapak tentu tahu itu.” Pak Dendi terkejut dengan apa yang kukatakan. Bagaimana lagi? Aku terlanjur sebal.
             “Baiklah, bapak tak perlu berkomentar apa-apa. Saya akan keluar dari kelas yang membosankan ini. Saya akan keluar.” Aku mengibaskan tangan pada Pak Dendi. Aku pulang.

Monday, May 19, 2014

Mau sarjana? Think Again!

Setiap orang tentu saja menginginkan hal yang terbaik untuk dirinya sendiri. Entah dari segi kesehatan, jodoh, harta, pendidikan, nasib, dan yang lainnya. Terutama dalam hal pendidikan. Karena dengan memiliki pendidikan yan tinggi, mereka bisa mendapatkan pekerjaan bagus, derajat yang tinggi, jabatan tinggi, penghasilan tinggi, keluarga bahagia, dan segla hal yang sering mereka bayang-bayangkan atau yang mereka impi-impikan. Dan langkah awal yang mereka pilih adalah: memilih dan bersekolah di universitas ternama, dan jadi sarjana.
Masalah sarjana. Kebanyakan orang berbondong-bondong tiap tahunnya untuk mendaftar di sebuah universitas yang mereka impikan (tentunya yang sesuai kemampuan dan keinginan mereka). Berharap