Apakah
benar hidup adalah pilihan? Apakah manusia benar-benar diberikan hak untuk
memilih segala urusannya? Lantas, apakah gunanya takdir? Lalu, apa yang terjadi
jika manusia salah memilih?
Bus
yang kutumpangi merupakan bus yang jauh dari kata nyaman. Memang karena bukan
kenyamanan penumpang yang diprioritaskan. Melainkan kedatangan penumpang yang
menjadi nomor wahid. Perjalanan pulangku ini merupakan perjalanan yang penuh
dengan konflik batin setelah berkutat lama dengan pertanyaan
“Hidup&pilihan.” Keluargaku di Semarang tentu melebarkan tangan, menyambut
dengan senang hati putrinya pulang dari Jogja. Semua masalah ini bermulai,
sejak aku lulus SMA.