Saturday, September 23, 2017

-Eps00- "KAMI" (Pro-lo-gue)


    Tak seperti yang dibayangkan. Ruangan itu tidaklah bercat putih. Tidak ada alat-alat dengan selang yang menjuntai kesana kemari, tali, benda benda tajam atau apapun yang orang lain kira ada di tempat ini. Selain itu, tak sedikitpun tercium bau obat-obatan. Obat merah sekalipun. Bahkan, tidak juga ada kasur yang biasa digunakan oleh mereka. Tidak sedikitpun terasa suasana itu. Suasana yang kerap kali membuat bukan hanya anak-anak bahkan orang dewasa pun terkadang enggan untuk datang ke tempat tersebut.

    Fix. Tempat ini berbeda dengan tempat yang sering dibayangkan orang kebanyakan.

    Ruangan ini bercat hijau terang. Dengan garis horizontal berbentuk ornamen yang membagi dinding menjadi dua bagian sama rata. Jika kalian sempat menarik nafas dalam-dalam, yang kalian dapatkan adalah ruangan yang sangat harum. Seakan pemiliknya menanam banyak bunga di setiap sudut ruangan. Rak bertingkat 4 yang dipenuhi dengan buku-buku menghiasi bagian dinding yang menghadap ke jendela. Morning view yang ditemani buku dan teh. Perpaduan yang sempurna. Pemilik ruangan ini pasti memiliki selera membaca dalam suasana tenang.

    Di depan rak tersebut, terdapat sepasang sofa yang ditaruh berhadapan. Sofa berwarna coklat dengan bahan yang empuk. Sepasang kursi tersebut dipisahkan oleh meja kerja yang berbentuk persegi panjang. Tidak ada yang spesial dari meja tersebut. Sama hal nya dengan meja kerja pada umumnya. Selain dokumen-dokumen yang sedang dikerjakan, di atas meja tersebut terdapat papan nama yang bertuliskan "dr. Wanda Maria."

    Fix, tempat ini tak seperti ruang praktek dokter pada umumnya. Ruangan ini lebih terlihat seperti ruangan baca dan ruangan santai.

    "Silahkan duduk!" Perempuan tersebut mempersilahkanku duduk sambil tersenyum.

    "Kali ini siapa yang kau bawa padaku, Evan?"

    "Hmmpth. Seperti biasa, Wanda. Ajaklah pria ini berbincang. Dapatkan segera kisah menarik dari dirinya. Atau Edward akan memecatku untuk kasus ini." Evan, pria botak berkulit gelap yang mengantarku ke ruangan ini mengeluh atas omelan atasannya. 

   "Oki dokki kapten!" Wanita di depanku membuat lingkaran dengan telunjuk dan ibu jarinya selagi mengangkat ketiga jari sisanya sebagai pertanda 'Ok!' atas respon dari permintaan Evan. Setelah satu dua kalimat, Evan pun meninggalkan ruangan dan menyisakan kami berdua yang saat ini sedang saling tatap.

    "Perkenalkan, saya Wanda. Saya seorang psikiatri di kantor ini." Wanita itu menjulurkan tangannya untuk berkenalan. Akupun menyambut tangannya yang halus itu.

    "Saya Azzam." Jawabku singkat.

    "Baiklah pak Azzam, apa yang memaksa Evan dan atasannya membawamu ke sini?"

    "Justru itu yang saya tanyakan sedari tadi. Kurang kah interogasi selama 6 jam? Omong-omong, jangan panggil saya 'Pak!' panggil saja saya Azzam. Saya rasa, umur kita tidak jauh berbeda. Cenderung sama mungkin."

    "Baiklah Azzam, mari kita cari tahu." Wanda menopangkan kedua tangannya yang disatukannya di atas meja. Seakan Wanda mulai berpikir keras.
    "Lalu?"

    "Hmmpth, mulailah dengan sebuah kisah! Tentangmu. Tentang apapun."

    "Baiklah, ..."

***Yosh, Bismillah! Saya akan mencoba untuk kembali menulis. (Setelah sekian lama berhenti) Akan saya mulai dengan cerita bersambung ini. Yang akan diupdate KETIKA SEMPAT. Jika respon teman-teman sangat tinggi, semangat saya juga akan tinggi untuk melanjutkannya. Kritik dan saran akan saya terima. Terimakasih.

-Tinggalkanlah komentar yang membangun!
-hz

   

Saturday, February 4, 2017

"The theory of everything"

     Bagi temen-temen yang tau film "The theory of everything" yang menceritakan Stephen Hawkins, temen-temen gak akan mendapatkan sinopsis, data, atau bahkan file film tersebut di sini. Apalagi sinopsis buku "The brave history of time" karya Hawkins. Karena di sini gua akan memaparkan hal yang berbeda. The theory of everything. Teori dari berbagai hal. Dari mana asal muasal sebuah teori. Mengenai teori kebiasaan yang sering kita lakukan
     Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kebiasaan merupakan sesuatu yang biasa dikerjakan dan sebagainya. Sesuatu hal yang biasa dilakukan oleh setiap orang. Kalau teman-teman semua aktif di media sosial seperti Instagram, Facebook. Mungkin teman-teman gak asing dengan akun Meme Comic Indonesia. Sebuah akun komedi yang sering kali memposting berbagai hal menarik dalam kehidupan. Seperti kata-kata bijak, sindiran, atau sekedar banyolan belaka.
     Selain hal itu, akun tersebut sering juga memposting hal yang sering kita lakukan. "True Story'". Dengan gambar seseorang yang sedang mengangkat gelas. Seakan akan ia menceritakan suatu hal dan mengatakan bahwa hal tersebut benar benar terjadi.
     Pada postingan tersebut, kita mendapatkan suatu kisah yang sering kali dilakukan oleh kita selaku pembaca. Suatu hal yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Dan kebanyakan dari pembaca mengakui akan hal tersebut. Nah, disitulah gua mengambil sebuah kesimpulan bahwa kita sering kali melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Apa yang kita lakukan, mungkin orang lain juga lakukan. Apa yang kita rasakan, mungkin orang lain juga rasakan saat berada di posisi kita.
     Dalam Islam, sebagaimana yang kita ketahui bahwa ayat pertama yang turun ke bumi merupakan "Iqra". Yang artinya bacalah. Membaca di sini bukan berarti bacaan secara literasi. Namun membaca akan hal sekitar. Melihat dan memperhatikan sekitar. Melihat dan menganalisa yang dilakukan manusia. Hal tersebut mengajarkan kita untuk memperhatikan kehidupan sekitar.
     Kebiasaan pula yang menjadi landasan para penemu dan meneliti untuk menentukan dan menyimpulkan suatu teori dan penemuan yang mereka temukan. Dengan berbagai data dan analisa. Kebiasaan bahwa setiap benda yang jatuh itu akan kebawah. Di situlah Issac Newton menemukan hukum gravitasi. Kebiasaan atau frekuensi banyaknya suatu hal terjadi lebih sering. Hal tersebut yang menjadi acuan peneliti mempatenkan penemuan mereka.
     Bukan hanya hal itu. Dalam Islam pula, salah satu acuan hukum yaitu menggunakan Ushul Fiqh. Dan salah satu kaidah dari Ushul Fiqh bersumber dari kebiasaan. Al-'aadatu Muhakkamatu. اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ. Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum. Atau bisa berarti suatu kebiasaan seseorang itu bisa kita jadikan acuan kebiasaan orang lain. Itulah mengapa banyak beberapa dari kita membutuhkan curhat. (Curahan Hati). Atau meminta saran kepada teman yang kebanyakan jawabannya merupakan hasil dari pengalaman kebiasaan yang pernah ia rasakan ataupun pernah ia lihat bahwa orang lain melakukan nya.
     Hal ini pula yang mendasari bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Manusia membutuhkan orang lain. Orang lain sebagai sumber acuan kebiasaan bagi dirinya untuk bisa menjalani kehidupannya kedepan. Hal ini pula yang mendasari gua untuk berani membuat beberapa teori (seringnya sih disimpen sendiri. Bagi yang belum tau, kapan kapan deh gua share. Hehe)
     Ya begitulah yang bisa gua sampaikan kali ini mengenai Kebiasaan orang lain. Semoga bermanfaat. Jangan diambil serius. Gua ga bilang kalo buah pikir gua ini bener. Karena gua juga hanya menarik kesimpulan ini dari kebiasaan orang lain. Ya karena gua juga hanya menggunakan sedikit data literasi dan belum melakukan penelitian. Gua juga belum melakukan sebuah observasi atau mencari cari apakah yang gua tulis ini pernah dimuat atau dipublikasikan atau ditulis oleh orang lain. Tapi gua gak plagiasi yah. Ini sih murni dari kata-kata dan hasil pikiran sendiri. Jangan diambil serius. Apalagi dijadiin sumber literasi skripsi. Wah bisa tewas dihujat dosen pembimbing. Hehe.
     Ambil baiknya aja. Ambil positifnya. Kalau benar ya syukur, kalau salah ya mohon dikoreksi. Terimakasih.

Friday, February 3, 2017

Pengumuman!!!

     Selamat datang Februari! Selamat ulang tahun juga bagi Febri, Feby di seluruh dunia! Kalimat umum yang sering banget dipost di salah satu akun humor paling hits di Indonesia. Bukan itu intinya.
     Kali ini gua mau ngumumin sesuatu. Yang ya menurut gua merupakan langkah yang besar. Sebenarnya gua calon gubernur Jakarta No.4. (Becanda. Ya kalian juga gak akan percaya.) Gua bakal mulai menghidupkan kembali blogg ini. Setelah sempat mati suri.
     Walaupun literasi berbentuk tulisan sudah mulai ditinggalkan, dan mulai beralihnya para blogger menjadi vlogger (video blogger) di YouTube. Tapi gua akan mulai konsisten untuk kembali mengisi blog ini setiap tanggal 3 di setiap bulannya. (Do'akan konsisten yah)
     Isinya masih akan sama. Ya cuman sebuah catatan-catatan receh dari orang penggila angka 12. Sajak, cerpen, buah pikir, dan kisah akan menghiasi konten dari blog ini. Semoga kalian betah.
     Oia. Satu lagi. Gua akan mulai terbuka dengan para pembaca. Sebenarnya banyak keluh kesah yang atau beberapa kisah yang gua rasakan dan gua pikirkan. Tapi, ya karena inkonsistensian gua dalam menulis, jadi ya agak sulit untuk posting. Sekian. Selamat membaca!

Wednesday, December 14, 2016

Sebatang Korek

Harapku tinggi pada sebatang korek dalam gelap
Menerangi dan menemani dalam sepi
Memberi tak acuhkan diri

Palsu

Entah sengaja atau tidak
Entah mengerti atau tidak
Entah sadar atau tidak

Sejatinya cahayanya sekejap
Lantas menyergap melukai
Untuk siapa yang awalnya ia beri

Sunday, December 4, 2016

Kupu-Kupu Desember

     Apakah kau melihat apa yang kulihat? Aku melihat seseorang yang sedang mengguratkan senyum indahnya. Gigi putihnya berjejer rapih membentuk barisan. Kurasa, kau tak akan tega walau hanya untuk hinggap di barisan itu. Ah... menenangkan.
     Entah mengapa, jiwa ini membawaku ke taman bunga ini selain karena nektarnya yang tumpah ruah. Dan entah mengapa, matahari cukup cerah di Desember yang seharusnya kelabu. Saat dimana jutaan bulir hujan itu jatuh dari awan yang tentu saja kau bisa melihatnnya berwarna kelabu. Asupan air yang melimpah untuk jutaan kuntum bunga ini. Dan tentu saja, limpahan nektar yang bisa aku dan kawananku bisa bawa.
     Ah, aku baru ingat mengapa aku di sini. Aku menanti dirimu. Dirimu yang saat ini menghampiriku dengan sayap hijau itu. Indahnya.
                                  ***
     Apakah kau melihat apa yang kulihat? Aku melihat seekor kupu-kupu yang sedang hinggap di atas bunga-bunga. Sayap corak birunya mengepak dengan anggun. Kurasa, kau tak akan tega walau hanya untuk menyentuh sayap indah itu. Ah... menenangkan.
     Entah mengapa, jiwa ini membawaku ke taman bunga ini selain karena keindahannya. Dan entah mengapa, matahari cukup cerah di Desember yang seharusnya kelabu. Saat dimana jutaan bulir hujan itu jatuh dari awan yang tentu saja kau bisa melihatnya berwarna kelabu. Menciptakan genangan-genangan yang menjadi wahana bermain untuk anak-anak Gang Kelinci. Dan tentu saja, jutaan air yang tumpah itu merupakan anugerah bagi setiap makhluk di bumi ini.
     Ah, aku baru ingat mengapa aku di sini. Aku menanti dirimu. Dirimu yang saat ini menghampiriku dengan balutan sweater hijau itu. Indahnya.
     “Maaf, Hana. Seharusnya aku mendengarkan saran Kang Karman untuk mengganti ban itu sejak lama. Mengganti ban yang bocor cukup menguras tenaga dan waktuku.” Kau terdengar sedikit kesal dengan peluh di dahimu.
     “Tak masalah. Novel dan kupu-kupu biru itu membuat waktu berputar lebih cepat, Dani.” Kau tersenyum dan duduk di sampingku.
     “Kau lihat itu Hana? Kupu-kupu itu sedang bercengkrama dengan kekasihnya. Apa kau tidak iri melihat mereka begitu mesra?” Kau mencoba untuk bergurau.
     “Iri kau bilang?” Aku sedikit tersenyum.       “Hey, sejak kapan kupu-kupu bersayap hijau itu muncul?” Aku menunjuk pada kupu-kupu yang kini bercengkrama berdua.
     “Bukankah sedari tadi kau memperhatikan kedua kupu-kupu itu, Hana? Bagaiman bisa kau tidak menyadarinya?”
     “Entahlah, mungkin ketika kau tiba. Lihatlah! Ia menggunakan pakaian yang sama denganmu.” Aku mencoba bergurau.
     “Jadi, kau samakan aku dengan kupu-kupu? Semanis itukah aku?” Kau balas gurauanku dengan candaan.
     Seperti itulah kita menghabiskan siang ini bersama. Di taman indah ini. Menemaniku dengan senda gurau. Desember kelabu tak berarti bagiku bila kulewati denganmu. Kaulah “kamu” ku ketika aku katakan “Aku mencintai kamu.” Mungkin selayaknya pasangan kupu-kupu itu?
                                   ***
     Hey, aku teringat satu hal. Taman ini merupakan taman dimana pertama kalinya aku bertemu denganmu. Mei yang ceria menjadi saksi akan hal itu. Ada jutaan kuntum bunga yang bermekaran di taman ini. Tetapi saat itu kau menghampiri bunga yang sedang kuhinggapi. Mendekatiku dan membisikan sebuah kalimat nan indah. “Aku mencintaimu.” Seketika, hatiku hanyalah milikmu.
     Oh, aku juga baru ingat. Wanita dan lelaki itu merupakan orang yang sama yang kulihat di hari indah itu. Si wanita sedang duduk sambil memegangi sesuatu yang penuh dengan tulisan. Membolak-balikan setiap lembarannya. Lantas, lelaki itu datang dengan senyumnya.
     “Apa kau suka dengan novel itu?” Lelaki itu mencoba membuka sebuah percakapan. Namun, si Wanita hanya sedikit melirik dan kembali terlarut dalam tulisan-tulisan itu.
     “Kami punya koleksi penuh novel-novel serupa. Setiap seri. Kamipun memiliki biografi si penulis. 512 halaman lengkap sejak ia terlahir ke bumi sampai terkubur menjadi tulang-belulang. Dan masih banyak lagi novel-novel, seri, dan biografi-biografi yang setiap hari kami diskusikan,”
     “Apa kau sedang menawariku untuk berlangganan buku? Apa kau seorang sales marketing sebuah toko buku?” Wanita itu mulai terlihat tertarik. “Atau kau salah satu anggota dari klub pecinta buku yang terkenal di kota itu? BookClub Disaster?
     “Bukan ketiganya. Aku hanya bergurau. Haha.” Lelaki itu menggeleng. “Ternyata kau memang kutu buku. Aku heran, mengapa para kutu buku memiliki wanita secantik dirimu?” Wanita itu terlihat jengkel. “Maaf sebelumnya. Aku Dani. Boleh aku tahu namamu?”
     “Baiklah, aku Hana. Apa mereka selalu memiliki penggoda para kutu buku sepertiku?” Wajah lelaki itu terlihat memerah. “Aku hanya bergurau. Haha”
Setelah itu, mereka menghabiskan siang dengan gurauan-gurauan. Menumbuhkan benih-benih yang biasa manusia sebut sebagai “Cinta.”
                               ***
     Novel itu tergeletak begitu saja dengan halaman yang terbuka di atas tanah. Halaman itu sobek dan sedikit kotor membentuk jejak sepatu. Beberapa kuntum bunga terlihat mati terinjak-injak. Eyeliner yang sengaja kupakai untuk menemuimu luntur begitusaja oleh tetesan air mataku. Tak kusangka. Hari ini aku akan berpisah denganmu. Seakan aku masih bisa menghirup aroma indah dari kuntum-kuntum bunga saat pertama kita bertemu. Namun ternyata, aku harus melalui Desember dengan kelabu.
     “Aku harus pergi, Hana.”
     “Mengapa? Mengapa harus secepat ini? Teganya kau, Dani! Apa kau rela menghancurkan segalanya? Aku tak bisa, Dani.”
     “Tapi, Aku harus.” Kau memalingkan wajahmu.
     “Apa karena dia? Apa karena kau lebih memilih model cantik itu ketimbang kutu buku ini?” Emosiku mulai meluap. “Jawab Dani! Jawab!”
     “Bukan begitu, Hana. Tapi, aku harus pergi.” Kau masih mencoba mengelak.
     “Busuk! Buang semua bualan dan omong kosongmu itu!” Aku melemparkan novel yang sejak tadi kupegang ke wajahmu.
     “Cukup! Ya. Aku lebih memilih Diva ketimbang kau!” Kau mendorongku dengan kasar. Memaksaku menginjak kuntum-kuntum bunga itu. Dan kau menginjak novelku. “Aku tak bisa hanya duduk-duduk di taman ini. Menungguimu membaca buku-buku itu sepanjang hari. Dan berusaha mencuri perhatianmu dengan bergurau. Berpura-pura bodoh di hadapanmu. Ah, apalah Mei ceria, Desember kelabu. Istilah-istilah bodoh yang kau ciptakan. Aku tak bisa lagi berpura-pura, Hana. Aku akan pergi.” Aku sudah terisak dengan ucapan-ucapanmu. Sobekan di novel itu tak seberapa dengan sobekan yang kau ciptakan di hatiku.
     “Cukup! Pergi!” Tak kuasa lagi aku menahan tangis. “Baiklah.” Kaupun pergi meninggalkan aku dengan novel, dan kuntum-kuntum bunga yang hancur.
     Aku melihat kupu-kupu bersayap biru terbang sendirian. Ia terbang limbung kesana-kemari. Tak tahu arah. Terbang di atas kuntum-kuntum bunga yag mati terinjak-injak. Wahai kawanku, mengapa engkau sendiri? Kemana perginya kekasihmu yang bersayap hijau itu? Entahlah sahabatku. Ia pergi meninggalkanku. Sama halnya dengan perginya pria bersweater hijau itu.
                                    Krapyak, 12 Dec. 2015
                                  Muhammad Alvin Fauzi
                  Semoga Desember ini, bukanlah Desember yang kelabu.

Friday, November 25, 2016

Indonesia Kaya

Boleh lah saja kita berkata.
Jika indonesia adalah negeri yang kaya.
Bukan hanya akan bahasa, budaya, harta, apalagi sastra.
Tapi jua akan agama.

Bukan soal Islam Kristen Konghucu dan Budha.
Bahkan soal Islam saja.
Dari pedagang yang singgah ia tiba.
Islam Indonesia.
Dari Nahdlatul ulama, Muhammadiyah, Kejawen pun ada.
Islam Nusantara.

Toleransi jadi yg terdepan.
Berbeda bukan mencaci saling beri pemahaman.
Dimana alim ulama,
Jadi panutan.

Ini Indonesia.
Negeri yang kaya akan agama.
Penuh dengan toleran
Bhineka tunggal ika.
Berbeda-beda. Tetap satu Tuhan.

Setelah 'Cuti Hamil'

Selamat datang kembali untuk saya.. hehe
Ketika saya melihat tanggal terakhir post.. saya lihat melihat bulan Februari 2016.
Itu sudah 9 bulan yg lalu. Mungkin jika dipikir, hal yg paling masuk akal adalah cuti hamil😏. Itukah mengapa judul post ini adalah 'cuti hamil' hehe. Berbagai spekulasi alasan bisa saya ucapkan, dari jadwal ujian Nasional, sbmptn, sampai jadwal kuliah yg padat. Hehe (sekarang udah kuliah loh) -maybe i'll tell u later. Tapi yg paling penting adalah kemalasan yg menggerogoti dan kesempatan yg tipis. Tapi untuk saat ini, saya menemukan cara yg jitu: upload melalui Android -yg seharusnya semua org sudah mengetahuinya. -_- baiklah. Tapi untuk selanjutnya saya akan mencoba untuk meng-upload karya. Entah itu kisah, sajak, cerpen, ataupun buah pikir.
Jika berpikiran mengenai pembaca, siapalah saya yg mungkin hanya sebagian orang yang mau membaca karya saya. Tapi yang saya inginkan adalah supaya apa yg ada dipikiran saya tercurah. Saya butuh media. Supaya suatu saat nanti saya bisa mengaksesnya lagi.
Semoga saya memiliki pembaca. Tulisan saya setelah 'cuti hamil' adalah sajak bertajuk Islam Nusantara. Sajak tersebut bukanlah sajak yg terlintas dipikiran saya begitu saja. Itu sajak permintaan teman saya yg mendapatkan tugas di masa masa orientasi. Judulnya "Nusantara." Mungkin ada satu lagi mengenai tema yg sama dengan judul "Indonesia Kaya"
Selamat menikmati.
Salam hangat.
-Hz

Nusantara

Ia memang dari timur sana.
Dari mereka yang bertasbih menyebut namanya.
Dari pedagang India ia tiba.
Tapi tetap, ia milik Indonesia.

Bagai pelangi setelah hujan.
Berbeda, namun membuat simfoni keindahan.
Bagai debu disiram air.
Membersihkan, menentramkan dari setiap bulir.

Boleh dikata ia berbeda.
Bermacam-macam tak saling sama.
Bhineka tunggal Ika.
Berbeda namun tetap satu jua.
Islam Nusantara.

Kau boleh lihat setiap bibir berdzikir.
Angkat tangan seraya takbir.
Mengaji dari pemula hingga mahir.
Entah bagaimanapun mereka bersyair,
Yang terpenting ibadah sampai akhir

Guruku bilang,
Bagaimanapun cara asal syahadat tak hilang.
Meski bersujud, berdzikir di taman ilalang.
Begitulah Islam di negeri ini yang terbentang.

Wednesday, February 10, 2016

Sekedar Kisah Untuk Malam (Pagi) Ini

      Entah dengan apa aku akan memulai, tapi aku ingin memulai sebuah catatan untuk kali ini. Kal ini, waktu berputar tak terkira cerpatnya. Semua yang kau rasa biasa, kini mulai menusuk melewati kulit, hingga tulang belulang. Ketika dulu kau rasa membawa sebatang korek ke lapang luas merupakan hal yang mudah, tak lagi terasa begitu untuk kali ini. Ia bisa berubah berkali-kali lebih berat. Puluhan, bahkan ratusan kali lipat lebih berat. Bukan hanya itu, sebatang korek itu bisa membakar segala. Kau kira apa korek itu? Tentu saja sesuatu yang selalu kau remehkan.

Friday, October 30, 2015

Kehendak

Aku adalah representatif dari naluri dan kehendakku.
Jadi wajar, jika terkadang tak seperti yang dimau.
Jika suatu saat aku ragu.
Ingatkan aku,
Bahwa duniaku adalah kehendakku.
Apa untukku,
Adalah apa yang aku, naluriku, dan kehendakku mau.
Maka, hendaklah jika ketika aku mau,
"Mau-ilah" (inginkalah) hal yang luar biasa yang membantu.
Karena aku,
adalah representatif dari naluri dan kehendakku.

Nikmatnya Sebuah Cobaan (Sebuah Renungan. Hal kecil yang perlu dipertanyakan)



Apakah kau pernah merasakan sebuah masalah yang teramat sangat berat? Sampai kau merasa bahwa kau tak sanggup untuk mengembannya? Sampai kau merasa bahwa kau memiliki masalah paling berat diantara yang lainnya? Apakah kau pernah merasakan sepi? Sampai kau merasa bahwa tak ada satupun yang menemanimu? Sampai kau merasa bahwa taka da satupun orang yang peduli dengan kau dan masalahmu?  Apakah kau pernah merasakan kesedihan yang teramat sangat? Sampai kau tak kuasa membendung semua emosi dan air mata? Sampai kau merasa bahwa kau ingin sekali mengakhiri dunia? Dan apakah…? Sudahlah… jika aku lanjutkan, tak akan habis tulisan ini dengan pertanyaan “apakah?” yang semakin memojokan dirimu dan masalahmu. Jika kau pernah merasakan semua itu, aku ucapkan “Selamat!” karena itu pertanda bahwa kau masihlah menjadi manusia yang Allah SWT sayangi.

Anak Tetesan Hujan



Tetesan, demi tetesan merintik terjatuh menyerbu bumi. Memudarkan sedikit demi sedikit warna kecoklatan aspal yang ditaburi debu-debu jalanan. Ciptakan genangan demi genangan di sana sini. Pria dengan mantol hitam pekat memaksakan motornya menerobos genangan yang membesar di jalanan. Terseok sedikit demi menghindari daerah yang tergenanag lebih dalam. Lantas,kembali menancapkan gasnya. Ia memacu motornya secepat mungkin. Meninggalkan kekhawatiran akan kerusakan mesin karena air. Omelan sang bos karena keterlambatan dirinya lebih menyeramkan untuk dibayangkan dari pada bayangan mesin motornya yang rusak.

Wednesday, June 24, 2015

Bukan Sekedar Pilihan

Apakah benar hidup adalah pilihan? Apakah manusia benar-benar diberikan hak untuk memilih segala urusannya? Lantas, apakah gunanya takdir? Lalu, apa yang terjadi jika manusia salah memilih?
                Bus yang kutumpangi merupakan bus yang jauh dari kata nyaman. Memang karena bukan kenyamanan penumpang yang diprioritaskan. Melainkan kedatangan penumpang yang menjadi nomor wahid. Perjalanan pulangku ini merupakan perjalanan yang penuh dengan konflik batin setelah berkutat lama dengan pertanyaan “Hidup&pilihan.” Keluargaku di Semarang tentu melebarkan tangan, menyambut dengan senang hati putrinya pulang dari Jogja. Semua masalah ini bermulai, sejak aku lulus SMA.

Kau Butiran-Butiranku

Kau duduk termenung, memandang dengan tatapan kosong. Duduk dengan siku di paha, dan tangan menjambak rambutmu. Kau terlihat kacau sekali saat itu. Terduduk di depan kelasmu. Di atas kursi yang terbuat dari kayu dengan kakinya yang terbuat dari besi. Kursi panjang yang dibuat cocok sekali mungkin untukmu yang sedang memikirkan... entahlah. Entah apa yang kau pikirkan. Walau kau duduk diantara kawan yang bermain riang. Engkau tak peduli.

Jujur Rahasia Semesta

Perih, adalah ketika,
  ucapan tak sama,
dengan hati yang berkata.
Dusta, ketika tutupi semesta jiwa,
   proteksi terhadap apa,

IRI

Harus kah aku iri, pada setetes air,
                Ketika aku miliki seluas lautan?
Haruskah aku iri, pada setitik cahaya,
                Ketika aku miliki sang surya?
Haruskah aku iri, pada sedetik waktu,
                Ketika aku miliki dua puluh empat jam?

Monday, June 22, 2015

Dia Lima

Dia itu tiga.
   Lima itu dia.

Diskriminasi Sumpalan

Stereotip kebodohan lama.
Diskriminasi terhadap “kaum tangan hampa.”
Selalu saja. Yang bertangan hampa,
  hanya gigit jari melihat yang membawa “cindramata.”
Entah marmer sampai kaca.

Memulai Kesibukan

Hari ini Ramadhan yang ke-5. seperti Ramadhan-ramadhan pada umumnya. Spesial. Kali ini kesibukan saya bukan hanya tentang tadarrus dan dzikir. (maaf ya Allah, bukan bermaksud) tetapi, saya disibukkan dengan tuntutan penelitian. Deadline yang mengancam, 3 Agustus 2015 (Ultahnya Fajrin hehe) Bukan main sulitnya kawan. Kali ini boleh lah saya berbagi cerita sejenak.

Takjil Gratis Rahmat

Eh, Japran! Bini lo pingsan di Tanah Abang. Bini sakit lo suruh beli takjil!” suara Mpok Lela dari jendela rumah kami memecah konsentrasi suamiku saat menonton televisi.
            “Si Nia pinsan, Mpok? Trus Mpok bawa ke mana?” Mpok Lela menyebutkan salah satu tempat.  Dengan tergesa, Bang Zafran suamiku mengikuti jejak langkah Mpok Lela menyusuri gang demi gang. Meninggalkan pria berpeci hitam sendirian dalam televisi. Menyampaikan kata demi kata tausiah Ramadhan.